Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Pesan Kemanusiaan Untuk Para Pemimpin

Oleh Ignasius Jonan
Ignasius Jonan Adalah Bankir Senior, Menteri Perhubungan 2014-2016, Dan Menteri Esdm 2016-2019.

Ignasius Jonan Adalah Bankir Senior, Menteri Perhubungan 2014-2016, Dan Menteri Esdm 2016-2019.

Paus Fransiskus mengunjungi Indonesia pada 3-6 September 2024 lalu. Saya sangat bersyukur mendapat kepercayaan dari Konferensi Waligereja Indonesia, atas rekomendasi Duta Besar Vatikan di Jakarta, untuk menjadi Ketua Panitia Kedatangan Paus Gereja Katolik ke266. Apalagi, kunjungan pemimpin tertinggi gereja katolik dunia ke Indonesia bulan lalu itu adalah peristiwa bersejarah dan merupakan Paus ketiga yang berkunjung ke Indonesia. Sebelumnya, ada Paus Paulus VI yang berkunjung pada Desember 1970 dan Paus Yohanes Paulus II pada Oktober 1989.

Dalam kunjungan kenegaraan sekaligus apostolik, Paus Fransiskus melakukan rangkaian pertemuan dengan Presiden Joko Widodo dan presiden terpilih Prabowo Subianto, pejabat pemerintah, korps diplomatik, tokoh-tokoh agama, serta masyarakat. Juga, memimpin misa akbar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.

Saya tidak memiliki kesempatan berbincang lama dengan Sri Paus secara langsung. Tapi, saya bisa mencatat sejumlah pesan Sri Paus, baik melalui tindakan maupun apa yang disampaikannya di berbagai tempat dalam kunjungan tersebut.

Satu, kesederhanaan dan kebersahajaan. Hal itu terlihat dari bagaimana beliau memosisikan dirinya yang tak berjarak dengan orang lain ataupun sarana transportasi dan mobilitas yang dipilihnya. Dua, pentingnya memelihara kemajemukan atau diversity sebagai aset yang besar, seperti yang dimiliki bangsa Indonesia. Tiga, pentingnya keimanan kepada Tuhan dalam bentuk agama apa pun. Empat, pentingnya persaudaraan, yang saya bisa artikan sebagai brotherhood atau sisterhood, dan di sana ada cinta kasih, empati, rasa saling membutuhkan, serta saling melengkapi.

Pesan-pesan kemanusiaan yang disampaikan Paus seperti menjadi “obor” pengharapan bagi orangorang yang justru masih hidup dikelilingi kabut kegelisahan, keputusasaan, ketakutan, dan depresi. Beberapa tahun terakhir, sejumlah negara dilanda krisis kemanusiaan, keamanan, politik, hingga ekonomi. Anak-anak muda tidak memiliki pengharapan karena hidup di tengah peperangan, kekerasan, dan penganiayaan.

Untuk menghilangkan kabut penderitaan, Sri Paus pun sudah sering menyampaikan pesan tentang pentingnya membina kerukunan dan perdamaian, terutama kepada para tokoh agama dan pemimpin. Jika para tokoh agama mengajarkan doa sebagai “obor” pengharapan, maka peran para pemimpin dengan otoritas yang dimilikinya adalah penyala “obor” pengharapan tersebut.

Betul bahwa para pemimpin umumnya memiliki visi yang pragmatis dan ambisius, yang cara mewujudkannya dibutuhkan usaha keras. Namun, para memimpin tak boleh hanya sibuk merealisasikan rencana-rencana kuantitatif dan menghilangkan komponenkomponen yang bersifat kualitatif.

Contohnya, para pemimpin dunia yang berambisi mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi demi menjadi negara berpenghasilan tinggi, tapi lupa membuat masyarakatnya bahagia, apalagi sampai meninggalkan penderitaan di tempat lain. Makanya, reorientasi arah kebijakan pembangunan di banyak negara maju tidak lagi sekadar dari ukuran makro kuantitatif, yaitu growth menuju ukuran yang lebih kualitatif, yaitu happiness. Begitu pula pemimpin bisnis yang hanya mengejar keuntungan, tapi mengabaikan kepentingan stakeholders, seperti konsumen, karyawan, masyarakat sekitar, dan lingkungan.

Sebagai penutup, pesan-pesan kemanusiaan yang disampaikan Paus Fransiskus penting dijalankan para tokoh agama dan pemimpin untuk menghilangkan ketidakseimbangan dan penderitaan yang dialami sebagian orang. Visi dan kemampuan dalam melaksanakan strategi untuk mewujudkan visi adalah komponen utama bagi para pemimpin. Namun, mereka harus mengutamakan kepentingan orang banyak dan memiliki sifat altruistik.

Altruistik adalah esensi kepemimpinan, karena mengutamakan kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri. Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang mengutamakan kepentingan orang banyak dan menomorduakan kepentingan dirinya. Altruistik adalah lawan dari sifat egois yang mementingkan diri sendiri.

Dalam dunia politik maupun bisnis, persaingan memang tak terhindarkan. Ada spirit untuk mengalahkan, bahkan menghancurkan orang lain atau pesaing. Namun, sebelum berpikir untuk mengalahkan atau menghancurkan orang lain, para pemimpin seharusnya mempertimbangkan orang-orang yang bergantung kepada mereka. Before you think of destroying someone, always consider those who depend on them for survival.

Dalam kunjungan kenegaraan sekaligus apostolik, Paus Fransiskus melakukan rangkaian pertemuan dengan Presiden Joko Widodo dan presiden terpilih Prabowo Subianto, pejabat pemerintah, korps diplomatik, tokoh-tokoh agama, serta masyarakat. Juga, memimpin misa akbar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.

Saya tidak memiliki kesempatan berbincang lama dengan Sri Paus secara langsung. Tapi, saya bisa mencatat sejumlah pesan Sri Paus, baik melalui tindakan maupun apa yang disampaikannya di berbagai tempat dalam kunjungan tersebut.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Oktober 2024

Rp 65.000

BELI