Teknologi perbankan terus berkembang. Ke depan, pemanfaatan AI di sektor keuangan dan perbankan diperkirakan makin masif.
Sumber : Istimewa
SIAPA mengira, artificial intelligence (AI) yang dahulu sempat menjadi barang mahal, kini menjadi teknologi yang lumrah dipakai di banyak industri. Perangkat lunak yang dulu dianggap futuristik, sekarang menjadi “teman” perusahaan-perusahaan di berbagai bidang untuk membantu operasional mereka. Korporasi di sektor keuangan pun banyak yang mengimplementasikannya. Tahun 2024 menjadi periode meledaknya implementasi AI di
industri keuangan. Dengan adanya AI, para pelaku industri keuangan mampu menganalisis data dalam jumlah besar, memahami tren dan pola pelanggan, hingga mendeteksi fraud dalam transaksi. Semua itu berdampak pada peningkatan produktivitas dan efisiensi waktu para pekerjanya.
Tak hanya pelaku industri, regulator pun turut merasakan manfaat AI. Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), mengaku bahwa saat ini AI membantu regulator dalam menentukan arah kebijakan.
“Apa yang kami lakukan sebagai sebuah bank sentral? Kami menggunakan AI untuk mengolah big data yang begitu banyak, yang ada di bank sentral, untuk mendukung perumusan kebijakan,” terang Destry, beberapa waktu lalu.
Menurut prediksi Statista, bank-bank di berbagai negara akan berinvestasi lebih besar pada AI, dalam hal ini AI generatif, di tahun-tahun mendatang. Di 2025, bank-bank di seluruh dunia diperkirakan akan menggelontorkan dana hingga US$9,33 miliar untuk pemakaian AI. Implementasi AI di sektor keuangan masih luas dan bisa dieksplorasi lebih jauh. Pada 2025 mendatang, AI diprediksi akan makin terintegrasi dengan teknologi atau perangkat lunak lain untuk perbankan, yang pemakaiannya meliputi fitur-fitur seperti internet of things (IOT), voice banking, hingga financial wellness.
Tak heran, banyak
pakar teknologi mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan yang tidak mengadopsi teknologi AI, akan tertinggal dari rival-rival mereka yang sudah mengimplementasikan perangkat lunak tersebut dalam operasionalnya.
Hanya, di lain sisi, pertahanan siber Indonesia masih terlihat rentan di 2024. Pembobolan Pusat Data Nasional (PDN) pada akhir Juni 2024 menjadi bukti. Ini harus menjadi perhatian untuk menjaga kedaulatan ranah digital di Tanah Air. Hal itu menjadi alarm penting bagi pelaku industri. Jangan sampai peristiwa serupa terulang di tahun depan. Karena itu, pelaku industri mesti tetap waspada dan meningkatkan keamanan teknologinya.
“Menghadapi situasi (serangan siber) ini, bukan hanya bank, tapi seluruh pihak di industri siber harus semakin mengintensifkan fokus pada pendeteksian malware. Sangat penting juga bagi pengguna atau nasabah untuk tetap waspada terhadap segala upaya serangan yang mungkin terlihat tidak berbahaya,” kata The Ka Jit, Direktur Bank OCBC.