Layanan wealth management berbasis syariah kian diminati masyarakat. Kini, bank-bank syariah mulai gencar membidik nasabah kaya. Seperti apa peluang bisnis wealth management bagi bank syariah?
Romy Buchari, Direktur Perbankan Syariah Bank Maybank Indonesia
Wealth management atau layanan keuangan untuk nasabah kaya di industri perbankan masih menggiurkan, termasuk di industri perbankan syariah. Bank-bank syariah kini gencar membidik nasabah-nasabah berkantong tebal untuk menempatkan dana mereka di wealth management berbasis syariah.
Wealth management di perbankan syariah menawarkan solusi pengelolaan aset untuk mencapai tujuan jangka panjang yang sesuai prinsip Islam, dengan basis Al-Qur’an dan hadis, seperti adanya larangan riba (bunga), gharar (ketidakpastian), dan maysir (spekulasi). Prinsip ini menarik bagi nasabah, yang ingin memastikan bahwa investasi dan pengelolaan kekayaannya dilakukan sesuai dengan syariat agama. Karena ini pula, bisnis wealth management berbasis syariah kian diminati, baik oleh nasabah muslim maupun nonmuslim.
Di Indonesia, peluang bisnis wealth management berbasis syariah salah satunya didorong oleh tingginya populasi masyarakat muslim. Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), pada Juni 2024, penduduk Indonesia yang beragama Islam mencapai 245,93 juta jiwa, atau setara dengan 87,08% dari total populasi Indonesia.
Selain itu, sektor perbankan syariah di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang makin pesat. Laporan Islamic Finance Development Indicators (IFDI) 2022 menempatkan Indonesia pada posisi ketiga dalam peta keuangan syariah global, sekaligus posisi ketujuh untuk aset syariah tertinggi di dunia.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun mencatat industri keuangan syariah telah menorehkan kinerja yang cukup baik dengan total aset sebesar Rp2.742,28 triliun per Agustus 2024. Total aset untuk sektor perbankan syariah mencapai Rp902,39 triliun, sektor industri keuangan nonbank syariah sebesar Rp163,47 triliun, dan sektor pasar modal syariah sebesar Rp1.676,42 triliun. Capaian tersebut meningkat sebesar 12,91% secara tahunan.
Walaupun peluangnya besar, ada sejumlah tantangan yang juga harus dihadapi bank-bank syariah di bisnis wealth management, seperti edukasi pasar, pengembangan produk, atau kapasitas dan kualitas layanan dari bank syariah itu sendiri.
Sejumlah bank syariah di Indonesia pun telah menjalankan strategi untuk memikat nasabah kaya dengan mengembangkan layanan wealth management-nya masing-masing. Unit usaha syariah (UUS) Bank Maybank Indonesia, misalnya. Tahun lalu, UUS Bank Maybank Indonesia meluncurkan produk pengelolaan kekayaan berbasis syariah, yakni Maybank Shariah Wealth Management (MySWM). Dalam waktu satu tahun dari diluncurkan, total nasabah MySWM telah mencapai sekitar 12.000 nasabah. Sedangkan, total asset under management (AUM) atau dana kelolaannya tumbuh hingga mencapai sekitar 70% secara tahunan.
“Sejak diluncurkan untuk pertama kali pada tahun lalu, Maybank Shariah Wealth Management atau MySWM terus mendapat respons yang positif. Kami akan terus berupaya untuk memperkuat posisi kami di industri perbankan syariah dengan memberikan solusi yang relevan dengan kebutuhan nasabah,” ujar Romy Buchari, Direktur Perbankan Syariah Bank Maybank Indonesia, bulan lalu.
Tak mau ketinggalan, Bank Muamalat juga mengembangkan produk wealth management dalam beberapa tahun terakhir. Kepada Infobank, Hayunaji, Corporate Secretary Bank Muamalat, mengungkapkan hingga September 2024 jumlah nasabah wealth management Bank Muamalat tercatat lebih dari 42.000 nasabah atau meningkat sekitar 8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan, jumlah dana kelolaan telah mencapai sekitar Rp2,5 triliun atau meningkat 29,3% year on year (yoy).
Dalam mengembangkan produk wealth management, Bank Muamalat berfokus pada aspek customer centric, khususnya pada produk investasi, mulai dari penyediaan produk yang sesuai dengan kebutuhan hingga menyesuaikan dengan kondisi makro-ekonomi saat ini. Bank Muamalat juga melakukan peningkatan layanan investasi melalui mobile banking untuk memudahkan nasabah dalam berinvestasi.
“Khusus untuk produk investasi, kami optimistis peluangnya sangat terbuka lebar. Sejalan dengan dinamika kondisi ekonomi saat ini dan semakin beragamnya kebutuhan nasabah pada produk investasi, kami menilai kebutuhan nasabah masih akan tumbuh tinggi pada produk investasi, khususnya dengan return yang optimal dan risiko yang terukur. Selain itu, masih banyaknya nasabah existing kami yang belum memiliki rekening investasi di Bank Muamalat, akan menjadi fokus utama kami dalam memaksimalkan peluang yang ada,” katanya, bulan lalu.
Begitu pun dengan Bank Syariah Indonesia (BSI). Bank syariah terbesar di Indonesia ini mencatatkan pertumbuhan kinerja yang cukup baik di layanan dan produk wealth management. Pada kuartal satu 2024, fund under management BSI mencapai lebih dari Rp67 triliun dengan total nasabah prioritas sebanyak 62.000 nasabah atau meningkat 14% dari periode yang sama tahun lalu. Kinerja segmen wealth management BSI tersebut berkontribusi pada laba yang dibukukan bank hingga kurun waktu yang sama sebesar Rp1,71 triliun.
“BSI terus berupaya meningkatkan semua layanan bagi nasabah di seluruh segmen. Baik dari level UMKM, individu, korporasi hingga wealth management,” tutur Asri Natanegeri, Senior Vice President Wealth Management BSI, beberapa waktu lalu.
Menurut Pandji P. Djajanegara, Direktur Syariah Banking CIMB Niaga, dari sisi peluang, potensi market untuk wealth management syariah yang dapat digarap masih besar, terlihat dari peningkatan kesadaran masyarakat akan produk keuangan berbasis syariah dan meningkatnya segmentasi nasabah yang mencari produk investasi dengan prinsip syariah. Sementara tantangan juga hadir dalam hal keterbatasan pengembangan produk karena terbentur hal regulasi yang harus dipenuhi, yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah, serta peningkatan persaingan yang ketat dengan lembaga keuangan syariah lainnya.
"Kami akan terus berkomitmen dan berinovasi memperkuat segmen wealth management, mencakup peningkatan layanan, baik dalam menyediakan akses yang lebih baik melalui platform digital maupun pengembangan produk yang sesuai kebutuhan nasabah dan prinsip syariah," kata Pandji, kepada Infobank, bulan lalu.
Kendati punya potensi besar, Pranata, Direktur BCA Syariah, mengungkapkan hingga saat ini BCA Syariah belum berencana untuk meluncurkan produk wealth management. Namun tidak menutup kemungkinan, dalam beberapa tahun ke depan, bank syariah yang merupakan anak usaha Bank Central Asia (BCA) ini akan mengembangkan produk wealth management.
“Saat ini (produk wealth management) belum masuk dalam rencana bisnis bank (RBB). Tapi, kami tentu terus jajaki. Mungkin dalam dua tahun ke depan. Karena, di BCA Syariah saat ini masih memprioritaskan produk[1]produk yang ada, seperti konsumer, produk pembiayaan produktif. Mungkin tahap berikutnya kami akan menyasar wealth management,” ujarnya kepada Infobank, bulan lalu.
Menggeliatnya bisnis wealth management di perbankan syariah tecermin dari meningkatnya dana pihak ketiga (DPK) industri ini. Biro Riset Infobank (birI) mencatat, hingga Juli 2024, perbankan syariah berhasil menghimpun DPK Rp703,31 triliun atau tumbuh 11,16% secara tahunan. Pertumbuhan ini ditopang oleh meningkatnya giro, tabungan, dan deposito. Giro perbankan syariah naik 32,07% menjadi Rp136,86 triliun, tabungan tumbuh 10,39% menjadi Rp244,18 triliun, dan deposito meningkat 4,67% menjadi Rp322,27 triliun
Wealth management di perbankan syariah menawarkan solusi pengelolaan aset untuk mencapai tujuan jangka panjang yang sesuai prinsip Islam, dengan basis Al-Qur’an dan hadis, seperti adanya larangan riba (bunga), gharar (ketidakpastian), dan maysir (spekulasi). Prinsip ini menarik bagi nasabah, yang ingin memastikan bahwa investasi dan pengelolaan kekayaannya dilakukan sesuai dengan syariat agama. Karena ini pula, bisnis wealth management berbasis syariah kian diminati, baik oleh nasabah muslim maupun nonmuslim.