Banyak orang dibuat gundah dan gelisah hidupnya karena takut ketinggalan apa yang dilakukan teman. Atau, takut ketinggalan event dan mode yang dilakukan lingkungan pergaulannya. Ada lagi yang sangat takut dan menjadi gelisah karena memperoleh kritik dan cemoohan dari orang lain.
Rasa gundah dan takut ini mestinya tidak perlu terjadi kalau saja seseorang merasa yakin benar akan pilihan hidupnya, lalu dijalani dengan ikhlas. Tidak perlu terlalu memedulikan omongan orang tentang dirinya.
Kondisi kejiwaan yang gelisah takut ketinggalan dari teman ini disebut psikolog sebagai FOMO, kependekan dari fear of missing out, yang dapat didefinisikan sebagai sebuah kegelisahan, kegundahan, serta takut ketinggalan informasi dan acara yang dianggap penting dan heboh. Misalnya, takut ketinggalan tidak ikut menonton konser, rekreasi ke tempat baru yang unik, atau menonton film yang lagi ngetop. Atau, takut ketinggalan tidak mengetahui gosip yang tengah jadi buah bibir. FOMO ini umumnya menghinggapi anak-anak muda.
Rasa takut ketinggalan biasanya dibuntuti sikap serupa, yaitu FOPO, kependekan dari fear of peopleâs opinion. Rasa takut akan kata orang yang mencemoohkan, mengkritik, atau merendahkan dirinya, terutama yang dimunculkan melalui media sosial (medsos). Makanya, banyak anak muda, mungkin saja di kalangan selebritas, yang berlomba memperbanyak follower dalam akun pribadinya seperti Instagram, Facebook, atau Twitter (X). Mereka berlomba memperbanyak follower.
Banyaknya follower menjadi sebuah kebanggaan dan membuat dirinya merasa makin popular karena banyak pengagumnya. Bisa jadi hal itu mendongkrak ânilai transaksiâ dan âdaya tawarâ dirinya dalam berbagai ragam kariernya. Oleh karena itu, mereka menjadi gelisah dan sedih jika muncul kritikan dan kecaman orang yang menggerus jumlah pengagum dan followers-nya.
Orang mestinya lebih mengenal dari dekat sehingga popularitas dan penghargaan yang diterima bukan karena rekayasa iklan dan pencitraan, melainkan karena karya dan prestasi nyata yang dilihat dan dirasakan masyarakat.
Sindrom FOMO dan FOPO sesungguhnya tidak saja menghinggapi kalangan selebritas dan anak-anak muda yang belum memiliki kepribadian yang teguh dan autentik. Lebih parah lagi, ini terjadi di kalangan politisi. Terutama, sindrom FOPO. Coba saja amati dan perhatikan setiap menjelang pilkada atau pemilu. Para politisi itu membayar influencers dan buzzers untuk membangun citra diri, sekalipun banyak kepura-puraan alias tidak autentik. Berita yang ditampilkan serbabagus untuk memengaruhi opini rakyat bahwa dia memang sangat layak dipilih sebagai calon pemimpin.
Dulu yang heboh ketika Jokowi sebagai Gubernur DKI masuk gorong-gorong mengontrol saluran air yang macet akibat hujan deras. Padahal, mungkin saja tindakan Jokowi itu hal yang biasa saja. Tapi, beritanya dibuat heboh dan hyperbolic oleh influencer. Ada juga komentar, itu sebuah dramaturgi. Untuk membangun citra diri sebagai pemimpin yang merakyat dan mau berkotor-kotor diri demi melayani rakyat.
Dengan pesatnya perkembangan budaya visual yang sangat menonjolkan berita dan gambar, pengenalan seseorang terhadap yang lain tak lagi melalui tatap muka secara langsung, melainkan melalui medsos. Budaya komunalisme makin kabur, orang hidup cenderung bersifat individualistis dan atomistis.
Yang paling sadar memanfaatkan kondisi ini adalah jaringan kapitalisme yang menawarkan produknya lewat iklan yang menawan. Dahaga kapitalisme untuk mengejar keuntungan materi dengan memanipulasi dan menggiring opini rakyat lalu merasuki dunia politik. Maka, muncullah profesi survey dan influencer politik untuk menggiring dan mengemas tokoh politik yang hendak maju berkompetisi agar citranya bagus dan hebat di mata masyarakat. Rakyat adalah ceruk pasar suara dalam pilkada dan pemilu.
Dunia medsos memang sangat besar pengaruhnya terhadap pikiran dan perilaku seseorang, terutama bagi kalangan selebritas agar tetap populer. Jika popularitasnya turun, maka nilai ekonominya turun. Dan, itu sebuah malapetaka.
Yang menyedihkan adalah jika sindrom ini juga menjangkiti tokoh tokoh daerah yang mestinya hubungan sosialnya lebih akrab. Orang mestinya lebih mengenal dari dekat sehingga popularitas dan penghargaan yang diterima bukan karena rekayasa iklan dan pencitraan, melainkan karena karya dan prestasi nyata yang dilihat dan dirasakan masyarakat. Orang yang menjalani hidup dengan ikhlas, disertai integritas dan karya nyata, akan terbebas dari sindrom FOMO dan FOPO.
Â
Rasa gundah dan takut ini mestinya tidak perlu terjadi kalau saja seseorang merasa yakin benar akan pilihan hidupnya, lalu dijalani dengan ikhlas. Tidak perlu terlalu memedulikan omongan orang tentang dirinya.