Leader satu ini menjadi sosok inovator dengan berbagai terobosan di dunia teknologi hingga perbankan digital. Ia menyeimbangkan karier gemilangnya dengan filosofi hidup yang harmonis.
Indra Utoyo, Direktur Utama AlloBank
Indra Utoyo, Direktur Utama Allo Bank, bukan sekadar inovator di dunia teknologi dan perbankan digital, tetapi juga seorang pemimpin yang menjalani hidup dengan keseimbangan. Filosofinya sederhana tapi mendalam: manusia harus menjaga empat aspek dalam hidup, yakni olah roh, olah rasa, olah pikir, dan olahraga.
“Manusia yang seimbang harus menjaga keempat aspek ini,” ujar Indra, saat ditemui Infobank di kediamannya yang asri di Kebayoran Baru, Jakarta, minggu ketiga Februari lalu. Olah roh memberi makna, olah pikir menjaga relevansi di tengah perubahan, olah rasa menumbuhkan kepekaan terhadap seni dan kehidupan, sedangkan olahraga menjaga tubuh tetap prima. Baginya, keseimbangan ini adalah kunci produktivitas.
Di usianya yang ke-63 tahun, Indra tetap aktif berolahraga setiap hari. Ia memiliki ruang gym pribadi di rumahnya, lengkap dengan berbagai alat kebugaran. Ia juga gemar bersepeda di akhir pekan, menikmati udara segar di sekitar rumah. “Olahraga itu bukan sekadar kewajiban, tapi kunci yang menjaga pintu kesehatan tetap terbuka,” ujarnya.
Sejak muda, olahraga telah menjadi bagian dari hidupnya. Pernah aktif di Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), ia bahkan mendirikan pusat pendidikan dan latihan (pusdiklat) berbasis teknologi untuk membantu atlet menganalisis strategi permainan. Sentuhan inovatifnya turut mengantar atlet Indonesia meraih prestasi di turnamen dunia seperti All England.
Semangat inovasi tak hanya ia bawa ke dunia olahraga, tetapi juga dalam kariernya. Lulus dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Indra menghabiskan lebih dari dua dekade di Telkom Indonesia, menciptakan berbagai inovasi di industri teknologi. “Saya mengembangkan kurva pertumbuhan baru dan menciptakan produk-produk inovatif,” ungkapnya.
Pada 2017, Indra melangkah ke dunia perbankan sebagai Direktur Digital dan Teknologi Bank Rakyat Indonesia (BRI). Saat itu, layanan BRI dikenal dengan singkatan LOT: Lemot, Offline, Time Out. Tantangan besar yang mesti ia hadapi. Alih-alih mundur, Indra justru melihatnya sebagai peluang untuk transformasi. Di BRI, Indra membidani lahirnya BRImo, aplikasi mobile banking yang membawa BRI memasuki era digital. Tak hanya itu, ia juga menanamkan budaya growth mindset, yang mendorong inovasi berkelanjutan.
Setelah lima tahun, Indra merasa misinya di BRI telah selesai. “Tugas pemimpin adalah menciptakan pemimpin yang lebih hebat,” katanya. Dengan fondasi digital yang kokoh dan talenta yang siap menghadapi masa depan, ia merasa saatnya melangkah ke tantangan berikutnya.
Pada 2022, Chairul Tanjung memercayainya untuk memimpin Allo Bank, bank digital yang dibangun dari nol. Di sini Indra tak sekadar mengubah sistem, tetapi juga menciptakan ekosistem yang agile, efisien, dan kolaboratif.
Dalam membangun Allo Bank, ia terinspirasi dua sosok visioner: Steve Jobs dan Satya Nadella. Dari Jobs, Indra belajar tentang desain intuitif. Sedangkan, dari Nadella, ia memahami pentingnya empati dalam kepemimpinan. “Bersaing itu wajar, tapi yang terpenting adalah menciptakan nilai nyata bagi pelanggan,” ujar pria kelahiran Bandung, 17 Februari 1962 ini.
Indra juga menuangkan perjalanannya dalam berbagai buku, seperti Silicon Valley Mindset, yang menceritakan ekosistem inovasi di Telkom, dan Making The Giant Dance, kisah transformasi digital BRI. Ke depan, ia ingin menulis lebih banyak tentang self leadership dan membimbing generasi muda.
Kini, panggilannya bukan hanya menciptakan inovasi, tetapi juga membina dan menginspirasi. “Dunia ini milik mereka yang berani mencoba, berani gagal, dan terus belajar,” tutupnya. Seperti maestro yang memimpin orkestra, Indra Utoyo memainkan simfoni inovasi dan kehidupan dengan harmoni yang sempurna.
“Manusia yang seimbang harus menjaga keempat aspek ini,” ujar Indra, saat ditemui Infobank di kediamannya yang asri di Kebayoran Baru, Jakarta, minggu ketiga Februari lalu. Olah roh memberi makna, olah pikir menjaga relevansi di tengah perubahan, olah rasa menumbuhkan kepekaan terhadap seni dan kehidupan, sedangkan olahraga menjaga tubuh tetap prima. Baginya, keseimbangan ini adalah kunci produktivitas.
Di usianya yang ke-63 tahun, Indra tetap aktif berolahraga setiap hari. Ia memiliki ruang gym pribadi di rumahnya, lengkap dengan berbagai alat kebugaran. Ia juga gemar bersepeda di akhir pekan, menikmati udara segar di sekitar rumah. “Olahraga itu bukan sekadar kewajiban, tapi kunci yang menjaga pintu kesehatan tetap terbuka,” ujarnya.