Penulis adalah Guru Besar sTF driyarkara, dosen Pascasarjana ui, Budayawan
Masih ingatkah kita dengan “Tukul Arwana” dalam “kembali ke laptop” dengan ruang canda diri, olok-olok lucu, dan ungkapan-ungkapan spontan yang meluncur berfungsi katarsis dalam kepenatan dan kepengapan situasi sosial dan budaya kita yang diretak-retak gempa bencana dan gempa acuan nilai.
Untung pula masih ada mimpi dalam republik ini meski dalam wujud parodi satir “Republik Mimpi” yang membenturkan wajah-wajah kita di cerminan parodi untuk saling ditertawai dan menertawakan diri. Minimal mimpi itu masih bernyawa untuk tetap memberi denyut bagi sebuah bangsa berpadat penduduk besar yang pasang surut dalam perjalanan menjadi beradab dalam peradabannya.
Bila kredo dibaca dalam mata budaya sebagai keyakinan individu seniman untuk memperjuangkan visi berkesen iannya, sesungguhnya ia menjadi sumbu sebuah nyala yang tidak komunal gerombolan dari makna awal “credere”: mengimani keyakinan tertentu dalam hidup sehingga saya percaya (credo) merupakan posisi yang dengan sadar dan teguh dipegang untuk jadi obor perjuangan kebudayaan.
Kebudayaan yang salah satu juru bicaranya atau media temunya adalah bahasa maka kredo berbahasa dengan lantang diucapkan dalam traktat logika (berbahasa) atau baca “tractatus logicus” Wittgenstein yaitu jangan baca dan cari makna kalimat itu dari kamusnya atau makna katanya tetapi ambil makna kalimat itu dalam konteks kepentingan apa ia diucapkan!
Jadi, kepentingan berparodi untuk kritik diri dan mawas sehat menertawakan diri sendiri untuk kesehatan wacanalah yang harus diambil dalam memahami parodi apa pun. Namun, keseringan terus-menerus memperolok-olok diri akhirnya juga akan menempatkan pemaksaan diam panas telinga dan tipis telinga lantaran tidak dalam “genre” jenis diskusi terbuka saling menyumbang untuk peradaban sejahteranya bangsa bersama telah membuat anomi pemaksaan pihak lain jadi diam karena diposisikan sebagai penonton.
Dari wacana histeria di atas, dan fenomenafenomena bunuh diri stres ibu dengan anak-anak, istri atau suami pegawai kecil atau TKW yang terjerat beban-beban ekonomis, kemelaratan dan beban psikologis yang sedang terjadi saat ini sesungguhnya merupakan petunjuk hilangnya ruangruang katarsis tradisional ataupun lenyapnya rasa humor di antara kita.
Ke mana ruang pelepasan dunia ketidaksadaran beban psikis dalam mainan anakanak ketika rembulan purnama? Ke mana waktu senggang di Kampung-kampung dahulu tatkala ibu-ibu di pinggir sungai sambil mencuci pakaian saling tertawa ria dan bercanda, pelepas dan jadi ruang katarsis-katarsis mereka?
Ruang-ruang main, bercanda, mencari kutu dan merumpi hati ke hati di kota-kota dengan beban berat sudah diformalkan satu-satunya dalam kotak ajaib televisi dan tayangantayangan yang sepihak paling luas sepentas Tukul. Bila dunia virtual lawak, canda Srimulat, monolog antara pemirsa dan gambar ditayangkan yang minus dialog pun kalau ada lewat WhatsApp dan telepon berhadiah lalu bisa amat dipahami, kita sedang kehilangan ruang katarsis humoris, canda dan main-main yang benarbenar real dalam menghayati hidup nyata dalam suka-dukanya.
Dibutuhkan keheningan kah? Dibutuhkan ruang-ruang bermain, “dedolanan bersenandung”, menari dan menyanyi; berketoprak, berkesenian termasuk bermusik ria dalam dangdut, dalam pop rock, jazz, keroncong atau yang para ABG menggandrunginya! Kita yang peduli sesungguhnya mempunyai pekerjaan rumah untuk menyediakan seluas mungkin saluran energi psikis, kreatif, sadar dan tak sadar sama seperti Bang Ali dahulu lebih menyiapkan gelangganggelanggang remaja untuk seni, budaya, olahraga daripada strategi pasar kapital perluasan mal dan mal! Sebab, bangsa ini membutuhkan orang-orang kreatif yang mampu bermimpi untuk terus merdeka!
Untung pula masih ada mimpi dalam republik ini meski dalam wujud parodi satir “Republik Mimpi” yang membenturkan wajah-wajah kita di cerminan parodi untuk saling ditertawai dan menertawakan diri. Minimal mimpi itu masih bernyawa untuk tetap memberi denyut bagi sebuah bangsa berpadat penduduk besar yang pasang surut dalam perjalanan menjadi beradab dalam peradabannya.
Bila kredo dibaca dalam mata budaya sebagai keyakinan individu seniman untuk memperjuangkan visi berkesen iannya, sesungguhnya ia menjadi sumbu sebuah nyala yang tidak komunal gerombolan dari makna awal “credere”: mengimani keyakinan tertentu dalam hidup sehingga saya percaya (credo) merupakan posisi yang dengan sadar dan teguh dipegang untuk jadi obor perjuangan kebudayaan.