Sejumlah tantangan ekonomi telah mendorong lonjakan pembiayaan mobil bekas. Ini menjadi darah segar bagi multifinance di tengah lesunya mobil baru. Jika skema lebih fleksibel dan suku bunga kompetitif, pasar ini berpotensi terus memelesat.
Sumber : Infobank
Pelemahan daya beli masyarakat, kenaikan pajak, dan tekanan ekonomi membuat penjualan mobil baru mengalami perlambatan. Namun, kondisi ini justru menciptakan peluang bagi industri pembiayaan mobil bekas untuk tumbuh lebih agresif.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, pembiayaan mobil bekas mengalami lonjakan signifikan. Pada 2023, total pembiayaan mobil bekas mencapai Rp78,13 triliun, meningkat 29,66% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar Rp60,25 triliun. Tren ini terus berlanjut pada 2024. Hingga November, pembiayaan mobil bekas telah mencapai Rp87,09 triliun, naik 12,43% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sebaliknya, pembiayaan mobil baru mengalami pertumbuhan yang lebih lambat. Pada 2023, pembiayaan mobil baru tercatat sebesar Rp146,77 triliun dengan kenaikan 15,33% dari tahun sebelumnya. Hingga November 2024, pembiayaan mobil baru hanya mencapai Rp149,55 triliun, dengan pertumbuhan 2,31% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa mobil bekas makin menjadi pilihan utama bagi masyarakat dan menjadi segmen andalan bagi industri multifinance di tengah tantangan ekonomi.
Direktur Pengawasan Lembaga Pembiayaan dan Perusahaan Modal Ventura OJK, Maman Firmansyah, menyatakan bahwa meskipun tren pembiayaan mobil bekas meningkat, segmen mobil baru dan bekas tetap memiliki pangsa pasar yang berbeda. Namun, jika tekanan daya beli terus berlanjut, kelompok masyarakat menengah ke atas dapat beralih ke mobil bekas sebagai opsi yang lebih terjangkau.
“Cuma dampak di 2025 ini saya belum bisa memprediksi. Tapi, segmen menengah ke atas yang mengalami tekanan daya beli bisa saja bergeser ke mobil bekas,” ujar Maman kepada Infobank, bulan lalu.
Di Jakarta, dalam hal ini opsen pajak kendaraan tidak berlaku dan berkontribusi pada 50% total penjualan kendaraan, pasar mobil baru masih memiliki daya saing kuat. Namun, di daerah yang menerapkan opsen pajak tinggi, mobil bekas menjadi alternatif yang lebih ekonomis bagi masyarakat.
Kenaikan harga kendaraan baru akibat inflasi dan meningkatnya biaya produksi juga turut mendorong permintaan mobil bekas. Bagi konsumen yang ingin memiliki kendaraan pribadi dengan harga lebih terjangkau, mobil bekas menawarkan fleksibilitas lebih tinggi. Industri pembiayaan melihat peluang ini dengan menyediakan skema kredit kompetitif, termasuk suku bunga lebih bersaing dan tenor kredit yang lebih panjang untuk meningkatkan daya tarik pembelian mobil bekas.
Namun, industri pembiayaan masih menghadapi tantangan, terutama dalam menjaga rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) agar tetap terkendali. Jika rasio NPL meningkat, akses pembiayaan dapat makin terbatas, yang pada akhirnya menghambat pertumbuhan pasar mobil bekas. Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Suwandi Wiratno, menekankan bahwa keberlangsungan industri pembiayaan sangat bergantung pada kelancaran pembayaran kredit oleh masyarakat. Makin rendah angka kredit macet, makin lancar perputaran pembiayaan dalam industri ini.
“Nah, supaya pembiayaannya itu tetap ada, bisa hadir buat masyarakat, saya cuma berdoa supaya masyarakat yang berutang bayar. Kalau semakin banyak kredit yang lancar dan segalanya, nggak banyak yang macet, ‘kan akan putar terus,” kata Suwandi.
Dalam menghadapi perubahan pasar, perusahaan pembiayaan perlu lebih fleksibel dalam menyediakan produk sesuai dengan kebutuhan konsumen. Hal ini mencakup penyesuaian suku bunga, opsi tenor kredit, serta kemudahan akses pembiayaan melalui platform digital. Prospek industri pembiayaan mobil bekas diperkirakan akan terus menguat, terutama jika kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih dan masyarakat masih berhatihati dalam mengelola pengeluaran mereka.
Ketua Asosiasi Mobil Bekas Indonesia (AMBI), Tjung Subianto, menyatakan bahwa industri ini berada dalam tren pertumbuhan positif. Meningkatnya harga mobil baru dan menurunnya daya beli masyarakat kelas menengah menjadikan mobil bekas sebagai pilihan utama. Selain itu, pelaku usaha mobil bekas terus berinovasi dengan meningkatkan kualitas layanan, menawarkan harga yang lebih kompetitif, serta memberikan garansi guna menarik lebih banyak konsumen.
“Ekonomi kelas menengah yang menurun dan harga mobil baru yang terus naik, serta pengusaha mobil bekas yang terus mengupgrade diri, jadi faktor meningkatnya industri mobil bekas,” ujar Subianto.
Namun, tantangan bagi industri mobil bekas tetap ada, salah satunya adalah suku bunga pembiayaan yang masih tergolong tinggi. Seperti diketahui, suku bunga untuk mobil bekas lebih tinggi dibandingkan dengan mobil baru karena anggapan bahwa mobil bekas memiliki risiko kredit yang lebih tinggi. Karena itu, AMBI menekankan pentingnya revisi kebijakan agar pembiayaan mobil bekas makin inklusif dan menjangkau lebih banyak masyarakat.
Direktur Utama Adira Finance, Dewa Made Susila, menegaskan bahwa tren pergeseran ke mobil bekas tidak terhindarkan di tengah ketidakpastian ekonomi dan meningkatnya harga mobil baru. Faktor affordability atau keterjangkauan menjadi alasan utama meningkatnya permintaan mobil bekas. “Kita sih merasa akan terjadi tren kenaikan kendaraan bekas juga, karena affordability,” ucapnya.
Berdasarkan analisis ekonomi, jumlah kelas menengah di Indonesia diperkirakan menyusut hingga 10 juta orang dalam beberapa tahun terakhir. Dengan daya beli yang kian terbatas, mobil bekas menjadi solusi realistis bagi masyarakat yang tetap membutuhkan kendaraan pribadi dengan skema kredit yang lebih ringan. Namun, bisnis kendaraan bekas juga memiliki tantangan tersendiri, terutama karena transaksi mobil bekas banyak dilakukan secara individual di luar jaringan diler resmi, sehingga tidak selalu melibatkan lembaga pembiayaan seperti Adira Finance.
Industri multifinance juga menghadapi tantangan teknis di awal 2024, termasuk jumlah hari kerja yang lebih pendek akibat hari libur yang padat, yang turut memengaruhi kinerja bisnis pembiayaan. Meski begitu, perusahaan pembiayaan telah menerapkan berbagai strategi guna mengoptimalkan pasar mobil bekas. Salah satu strategi utama adalah pemanfaatan teknologi digital dalam proses penilaian kendaraan dan analisis kelayakan kredit guna mengurangi risiko kredit macet. Selain itu, kerja sama dengan diler tepercaya menjadi langkah penting dalam memastikan kualitas kendaraan yang dibiayai.
Dengan tingginya permintaan dan inovasi dalam skema pembiayaan, industri pembiayaan mobil bekas diperkirakan akan terus tumbuh dalam beberapa tahun ke depan. Jika multifinance mampu mengelola risiko dengan baik dan mengikuti regulasi yang ada, segmen ini dapat menjadi pilar utama dalam industri pembiayaan kendaraan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, pembiayaan mobil bekas mengalami lonjakan signifikan. Pada 2023, total pembiayaan mobil bekas mencapai Rp78,13 triliun, meningkat 29,66% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar Rp60,25 triliun. Tren ini terus berlanjut pada 2024. Hingga November, pembiayaan mobil bekas telah mencapai Rp87,09 triliun, naik 12,43% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.