Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Optimisme di Bulan Penuh Berkah

Di tengah kondisi daya beli masyarakat yang melemah, pelaku industri BPR optimistis mampu membukukan kinerja positif di momen Ramadan dan Lebaran, periode yang menjadi booster bagi perekonomian Tanah Air.

Oleh MOHAMMAD ARDIANTO SUKARSO
Paulus Raubala, Direktur Utama BPR Varia Centralartha

Paulus Raubala, Direktur Utama BPR Varia Centralartha

Ramadan membawa berkah bagi banyak orang. Tak hanya sebagai waktu beribadah yang penuh pahala, bulan ini juga menjadi momen emas bagi pelaku usaha di berbagai industri. Di bulan ini, perputaran uang meningkat tajam, mendorong perekonomian nasional ke level yang lebih tinggi. 

Pada kuartal pertama 2024, yang bertepatan dengan Ramadan dan pemilihan umum (pemilu), Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11% secara year on year (yoy). Konsumsi rumah tangga, yang menyumbang 54,93% dari total pertumbuhan, mengalami kenaikan sebesar 4,91% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Ramadan meningkatkan belanja masyarakat, baik untuk kebutuhan makanan dan minuman, pakaian, maupun barang-barang lainnya guna menyambut Idulfitri.

Namun, setelah Ramadan berlalu, ekonomi Indonesia dihadapkan pada tantangan baru: daya beli masyarakat melemah. Indikasinya terlihat dari deflasi berkepanjangan, penjualan kendaraan yang menurun, Purchasing Managers’ Index (PMI) yang sempat berada di bawah 50%, dan pertumbuhan ekonomi yang terus melambat dari kuartal ke kuartal setelah periode Ramadan. Kondisi ini berdampak pada pelbagai industri, termasuk bank perekonomian rakyat (BPR) yang mayoritas nasabahnya berasal dari segmen mikro dan kecil.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada Maret 2024 – saat Ramadan berlangsung – intermediasi BPR masih berjalan dengan sangat baik. Kredit dan dana pihak ketiga (DPK) masing-­masing meningkat 8,73% dan 8,32%, sementara aset naik 6,82%. Namun, memasuki November 2024, pertumbuhan kredit dan DPK masing­-masing melambat menjadi 5,63% dan 4,56% dengan nominal Rp148,08 triliun dan Rp143,26 triliun. Pertumbuhan aset pun turun ke angka 4,90%, menjadi Rp202,49 triliun. Perlambatan ini menjadi cerminan dari menurunnya daya beli masyarakat setelah Ramadan berlalu.

Penurunan daya beli dan kontraksi ekonomi pun menjadi tantangan bagi BPR menjelang Ramadan 2025. Banyak BPR mengandalkan nasabah dari sektor perdagangan yang sering mengajukan kredit tambahan untuk meningkatkan modal usaha menjelang Ramadan. Jika permintaan kredit dari sektor ini menurun, BPR juga akan menghadapi tantangan dalam menyalurkan pinjaman.

“Kalau dari para pedagang, kebanyakan dari mereka bukan mencairkan dananya, tapi biasanya mengajukan pinjaman untuk kebutuhan penambahan modal untuk dagangan mereka. Nah, kalau tahun ini sepi itu ya kita belum tahu, karena kita belum memasuki bulan itu. Mungkin juga akan ada penurunan,” terang Paulus Rasubala, Direktur Utama BPR Varia Centralartha, kepada Steven Widjaja dari Infobank, bulan lalu.

Ramadan juga membawa tantangan likuiditas bagi BPR. Banyak nasabah menarik dana simpanan mereka untuk membiayai kebutuhan Ramadan. Sementara, di beberapa daerah, aktivitas ekonomi justru melambat karena masyarakat lebih fokus pada ibadah. BPR pun harus bersaing dengan lembaga keuangan lain, seperti bank umum, perusahaan pembiayaan (multifinance), dan fintech lending, dalam merebut pangsa pasar yang makin ketat.

Meski tantangan yang dihadapi cukup besar, para pelaku industri BPR tak tinggal diam. Mereka aktif mencari strategi untuk tetap bertumbuh dan meraih peluang di tengah situasi yang penuh dinamika.

       

Sarti, Direktur Utama BPR BKK Wonogiri, mengaku, kendati daya beli melemah, pihaknya masih mampu mencatat pertumbuhan positif pada 2024. Kredit, DPK, dan laba bersih BPR ini bahkan hampir mencapai pertumbuhan dua digit. “Yang kami rasakan dari kinerja 2024, pertumbuhan tidak seperti tahun sebelumnya ya, walaupun kami masih bisa tumbuh lebih dari 9%. Jadi, insyaallah target kami bisa tercapai, karena penyusunan RBB tetap menyesuaikan situasi dan kondisi setiap bulannya,” ujar Sarti kepada Infobank melalui pesan singkat, Februari lalu.

Para pelaku BPR optimistis bahwa kuartal pertama 2025 – bertepatan dengan Ramadan dan Idulfitri – bisa ditutup dengan hasil positif. Karena itu, sejumlah strategi mesti diterapkan agar tetap kompetitif.

Menurut Hasan, Direktur Utama BPR Cahaya Khatulistiwa Sejahtera sekaligus PJ Ketua Perhimpunan Bank Perekonomian Rakyat Indonesia (Perbarindo) Kalbar Kalteng, BPR perlu lebih prudent dalam menyalurkan kredit konsumtif dan produktif. Selain itu, diperlukan inovasi dalam produk keuangan yang menarik dan relevan sehingga bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi nasabah.

Kemampuan beradaptasi menjadi kunci utama bagi pelaku industri untuk tetap relevan. Tak hanya itu, menjaga hubungan baik dengan nasabah juga menjadi faktor penting dalam mempertahankan pertumbuhan. Kedekatan dan keharmonisan antara BPR dan pelanggannya akan menentukan keberhasilan bank dalam meraih keuntungan selama Ramadan.

“Meskipun tantangan selama Ramadan cukup besar, BPR/BPRS memiliki sejumlah strategi yang bisa diimplementasikan untuk menjaga kinerja dan memanfaatkan peluang yang ada. Keberhasilan dalam menghadapi tantangan ini sangat bergantung pada adaptasi dan inovasi produk serta pengelolaan hubungan baik dengan nasabah,” tegas Hasan kepada Infobank, bulan lalu.

Di balik setiap tantangan, selalu ada peluang yang dapat dimanfaatkan. Hanya mereka yang memiliki visi strategis dan keberanian untuk bertindak yang mampu meraih kesuksesan. Daya beli masyarakat memang tengah melemah, tetapi Ramadan tetap menjadi momen spesial dengan potensi ekonomi yang besar. Dan, bagaimana para pelaku BPR memanfaatkan peluang yang ada akan menentukan apakah mereka dapat mempertahankan momentum pertumbuhan yang positif di 2025.

 

Pada kuartal pertama 2024, yang bertepatan dengan Ramadan dan pemilihan umum (pemilu), Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11% secara year on year (yoy). Konsumsi rumah tangga, yang menyumbang 54,93% dari total pertumbuhan, mengalami kenaikan sebesar 4,91% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Ramadan meningkatkan belanja masyarakat, baik untuk kebutuhan makanan dan minuman, pakaian, maupun barang-barang lainnya guna menyambut Idulfitri.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Maret 2025

Rp 65.000

BELI