Industri asuransi jiwa terus melangkah pasti – meski pendapatannya menurun, efisiensi menjadi layar yang menjaga kapal tetap melaju. Sebaliknya, asuransi umum terombang-ambing di tengah badai klaim yang bergelora.
Budi Herawan, Ketua Umum AAUI
Industri asuransi jiwa di Indonesia ibarat perahu yang berlayar di perairan tenang tapi berlumpur, bergerak lamban di tengah tantangan yang makin kompleks. Sementara itu, asuransi umum lebih seperti kapal di tengah badai, dihantam gelombang besar berupa lonjakan klaim dan tekanan underwriting. Dalam lanskap yang penuh ketidakpastian ini, efisiensi menjadi kunci utama untuk bertahan dan menjaga profitabilitas.
Tekanan ekonomi, melemahnya daya beli masyarakat, dan regulasi yang makin ketat membuat perusahaan asuransi jiwa tak lagi bisa mengandalkan strategi lama. Mereka dipaksa untuk lebih selektif dalam menerima polis, menekan biaya operasional, serta mengoptimalkan strategi investasi agar tetap kompetitif di pasar yang makin dinamis.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pendapatan industri asuransi jiwa pada 2024 tercatat Rp182,46 triliun, menurun 2,44% dari Rp187,02 triliun pada tahun sebelumnya. Meski begitu, beban yang ditanggung industri ini berhasil ditekan ke angka Rp187,08 triliun dari Rp194,23 triliun di 2023, menandakan adanya strategi efisiensi yang berjalan efektif.
Salah satu indikator keberhasilan efisiensi ini terlihat dari beban klaim dan manfaat yang menurun 5,19% dari Rp152,80 triliun di 2023 menjadi Rp144,87 triliun di 2024. Selain itu, pendapatan premi yang menjadi tulang punggung industri, tercatat mengalami pertumbuhan kembali setelah sempat melambat di 2023.
Pada 2024, pendapatan premi industri asuransi jiwa mencapai Rp156,43 triliun, naik 3,11% dari Rp151,72 triliun pada tahun sebelumnya. Namun, tantangan baru muncul dari sisi investasi. Hasil investasi yang selama ini menjadi penopang pendapatan justru mengalami kontraksi cukup tajam, turun 29,13% dari Rp31,27 triliun di 2023 menjadi Rp22,16 triliun pada 2024.
Di tengah dinamika itu, BNI Life Insurance (BNI Life) menjadi salah satu perusahaan yang berhasil memperta hankan profitabilitas melalui efisiensi yang agresif. Plt Direktur Utama BNI Life, Neny Asriany, menegaskan, meski pendapatan investasi tertekan, perusahaan tetap mampu mencatatkan pertumbuhan laba berkat strategi efisiensi yang diterapkan.
"Kami banyak melakukan efisiensi pada operational expenditure (opex), terutama dengan adanya regulasi baru terkait e-policy yang membantu menekan biaya polis. Digitalisasi juga mempercepat efisiensi operasional. Dari sisi sales, kami lebih fokus pada peningkatan produktivitas disbanding sekadar menambah jumlah agen," ujar Neny kepada Infobank, bulan lalu.
Laporan keuangan BNI Life per 2024 menunjukkan efektivitas strategi itu. Pendapatan preminya tumbuh 3,77% dari Rp5,38 triliun di 2023 menjadi Rp5,58 triliun di 2024. Total beban pun berhasil ditekan 2,44% menjadi Rp6,48 triliun dari sebelumnya Rp6,64 triliun. Dengan efisiensi ini, laba setelah pajak BNI Life meningkat 3,87% dari Rp325,4 miliar menjadi Rp338 miliar. Strategi ini berkontribusi sekitar 14% terhadap laba BNI Life.
Tren serupa juga terjadi di Asuransi Jiwa BCA (BCA Life), yang menerapkan strategi efisiensi guna menjaga profitabilitas. Pada 2024, BCA Life mencatatkan pendapatan premi sebesar Rp1,28 triliun, turun 10,33% dari Rp1,43 triliun di 2023. Namun, perusahaan ini berhasil menekan jumlah beban menjadi Rp1,39 triliun dari sebelumnya Rp1,51 triliun atau turun 7,95%. Dampaknya, laba setelah pajak naik 17,2% menjadi Rp92,47 miliar dari sebelumnya Rp78,90 miliar. Presiden Direktur & CEO BCA Life, Eva Agrayani, menegaskan, meski 2024 penuh tantangan, perusahaan asuransi ini tetap optimistis menghadapi 2025 dengan strategi efisiensi dan fokus pada distribusi bancassurance.
Di lain sisi, industri asuransi umum menghadapi tantangan yang jauh lebih berat. Kendati premi bruto industri ini mengalami kenaikan dari Rp99,35 triliun di 2023 menjadi Rp105,12 triliun di 2024 atau tumbuh 5,81%, dengan premi neto meningkat 7,74% dari Rp60,01 triliun menjadi Rp64,66 triliun, beban yang ditanggung perusahaan asuransi umum jauh lebih besar. Pendapatan underwriting yang menjadi indikator utama profitabilitas industri ini justru merosot tajam, turun 25,12% dari Rp56,68 triliun di 2023 menjadi Rp42,44 triliun di 2024.
Lonjakan beban klaim menjadi penyebab utama tekanan ini. Klaim bruto meningkat dari Rp47,96 triliun pada 2023 menjadi Rp51,79 triliun pada 2024 atau naik 7,99%. Beban klaim neto bahkan melonjak hampir 20%, dari Rp34,74 triliun menjadi Rp41,61 triliun. Beban underwriting pun mengalami kenaikan signifikan, dari Rp36 triliun pada 2023 menjadi Rp42,99 triliun pada 2024. Beban usaha yang mencakup biaya operasional dan administrasi turut meningkat dari Rp17,87 triliun menjadi Rp18,98 triliun.
Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Budi Herawan, menyoroti bahwa penurunan laba ini sangat dipengaruhi oleh melemahnya hasil underwriting serta meningkatnya cadangan premi dan cadangan klaim. “Tentunya laba ini terpengaruh dari perhitungan hasil underwriting. Seperti kita ketahui, komponen laba dari perusahaan asuransi berasal dari hasil underwriting dan hasil investasi,” ujar Budi.
Dampak dari tekanan ini terlihat jelas dalam laporan keuangan industri asuransi umum. Jika pada 2023 industri ini masih mencatatkan laba bersih sebesar Rp9,14 triliun, pada 2024 laba tersebut berbalik menjadi rugi Rp8,94 triliun. Penurunan laba hingga hampir 198% ini mencerminkan kondisi sulit yang dihadapi perusahaan asuransi umum dalam menjaga keseimbangan antara pendapatan dan beban operasional.
Baik industri asuransi jiwa maupun umum kini berada di persimpangan takdir. Efisiensi, digitalisasi, dan pengelolaan risiko yang lebih cermat akan menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas industri ini di tahun-tahun mendatang. Dengan strategi yang tepat, industri asuransi diharapkan tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan mampu memberikan perlindungan yang lebih luas bagi masyarakat Indonesia.
Tekanan ekonomi, melemahnya daya beli masyarakat, dan regulasi yang makin ketat membuat perusahaan asuransi jiwa tak lagi bisa mengandalkan strategi lama. Mereka dipaksa untuk lebih selektif dalam menerima polis, menekan biaya operasional, serta mengoptimalkan strategi investasi agar tetap kompetitif di pasar yang makin dinamis.