Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Hoarding Mentality

Oleh Komaruddin Hidayat
Penulis adalah Komisaris IndePenden BSI

Penulis adalah Komisaris IndePenden BSI

Judul di atas menunjuk pada perilaku orang yang senang mengoleksi dan menumpuk barang barang. Kualitas barang yang ditumpuk sesuai dengan selera dan tingkat kemampuan ekonominya. Hoarding mentality ini berimpitan dengan flexing. Yaitu, pamer barang bermerek untuk menun jukkan dirinya tergolong kelompok eksklusif.

Jika ditelusuri lebih jauh, orang yang suka flexing bisa jadi karena tekanan lingkungan agar merasa dirinya tidak terkucilkan. Dengan begitu, orang yang suka flexing di dalam dirinya tersimpan rasa tidak aman, kurang percaya diri, dan butuh pengakuan orang lain akan eksistensi dirinya, tapi tidak autentik.

Orang yang percaya diri karena kekuatan integritasnya tidak merasa perlu untuk flexing atau pamer barang-barang yang bersifat material. Sesuatu yang hanya menempel seperti pakaian, jabatan, atau titel. Kita berpakaian, pagi dipakai, sore dilepas. Sedangkan karakter, integritas, dan ilmu pengetahuan akan senantiasa melekat.

Di kalangan remaja ada tren baru yang menarik untuk diperhatikan dan diapresiasi. Yaitu, sebuah sikap yang justru mengkritik hoarding mentality. Mereka tidak suka menumpuk pakaian yang memenuhi lemari dan kamarnya. Ketika membeli yang baru, maka mesti ada pakaian lama yang dikeluarkan, diberikan kepada orang yang membutuhkan. One in, one out, kata mereka.

Sekarang ini, ada beragam pakaian dengan desain yang menarik dan harga yang relatif murah. Pakaian bermerek (branded) harganya mahal karena membayar merek dan pajak impornya. Kalau membeli di toko, pembeli ikut membayar pajak sewanya. Padahal, Indonesia memiliki banyak bahan pakaian berkualitas tinggi dan memiliki desainer yang bagus-bagus. Jadi, untuk membeli dan memiliki pakaian bagus, tidak harus dengan harga mahal kalau mau membeli produk dalam negeri.

Kelihatannya banyak remaja yang lebih tertarik pada mode dan desain. Ketika mereka membeli produk baru, koleksi yang lama – yang kondisinya masih bagus – dia sum bang kan kepada orang yang memerlukan. Keinginan untuk berbagi ini gejala baru yang mesti didorong dan disosialisasi kan, sebagai kritik dan pembentukan karakter agar tidak terjebak pada hoarding mentality dan flexing.

Di luar negeri ada beberapa flea market (pasar loak) yang lebih berfungsi sosial, filantropi, ketimbang sebagai lahan bisnis. Keluarga yang tergolong kaya sengaja menyumbangkan bebe rapa potong pakaiannya yang masih bagus tapi dianggap ketinggalan mode, termasuk sepatu, ke pasar loak. Barang-barang itu lalu dipajang dan dibuat klasifikasi dengan rapi. Meski barang bermerek dan orisinal, harganya sangat miring. Bahkan, jika pembeli itu seorang mahasiswa atau pensiunan, dengan mengeluarkan kartu identitasnya, harga bisa ditawar lebih rendah lagi.

Di Indonesia, pasar loak yang populer adalah tempat penjualan buku buku bekas. Namun, pasar loak yang berfungsi sosial kelihatannya kurang populer. Kalau saja gejala remaja yang melakukan kritik flexing dan hoarding mentality itu difasilitasi dan dikembangkan di lingkungan kampus, mungkin akan mencipta kan suasana baru. Intinya adalah mendorong sikap hidup sederhana, tidak senang menumpuk pakaian, senang berbagi kepada orang lain, dan mengeluarkan koleksi pakaiannya dalam kondisi yang masih bagus.

Ide dan tindakan serupa sesungguhnya sudah banyak dilakukan eksekutif muda. Setiap menerima gaji, mereka membeli sekian puluh bungkus nasi, lalu ditampung di mobilnya. Nasi itu diberikan secara cuma-cuma setiap melihat orang yang tampaknya miskin dan lapar di pinggir jalan atau di sekitar lampu merah. Kebiasaan ini dipraktikkan setiap habis menerima gaji.

Jadi, mode sedekah rasanya perlu diubah. Dari yang sifatnya seremonial menjadi agenda rutin, tanpa harus menunggu bulan suci Ramadan atau hari-hari istimewa seperti hari ulang tahun. Saya yakin, kalau hal ini menjadi gaya hidup, pasti dampaknya sangat signi fikan bagi pembentukan social habit yang selalu peduli pada rakyat kecil. Syukur-syukur membentuk pribadi filantropi, antitesis dari kecenderungan korup si, mengambil barang yang bukan haknya. Kita buat gerakan sosial, jujur dan senang berbagi itu hebat. Korupsi itu menunjukkan mental benalu dan jiwanya miskin.

Jika ditelusuri lebih jauh, orang yang suka flexing bisa jadi karena tekanan lingkungan agar merasa dirinya tidak terkucilkan. Dengan begitu, orang yang suka flexing di dalam dirinya tersimpan rasa tidak aman, kurang percaya diri, dan butuh pengakuan orang lain akan eksistensi dirinya, tapi tidak autentik.

Orang yang percaya diri karena kekuatan integritasnya tidak merasa perlu untuk flexing atau pamer barang-barang yang bersifat material. Sesuatu yang hanya menempel seperti pakaian, jabatan, atau titel. Kita berpakaian, pagi dipakai, sore dilepas. Sedangkan karakter, integritas, dan ilmu pengetahuan akan senantiasa melekat.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi April 2025

Rp 65.000

BELI