Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Kala Saham Terkoreksi, Investasi atau Observasi?

Koreksi saham sering kali dianggap sebagai sinyal bahaya. Tapi, benarkah ini justru saat yang tepat untuk membeli?

Oleh Alfi Salima Puteri
Ivan Jaya, Customer Funding & Wealth Business Head Bank Danamon

Ivan Jaya, Customer Funding & Wealth Business Head Bank Danamon

            Pergerakan saham yang mengalami koreksi kerap menimbulkan dilema bagi investor. Sebagian khawatir dengan penurunan harga saham, sementara sebagian lainnya justru melihatnya sebagai peluang untuk berinvestasi dengan harga lebih rendah. Di tengah situasi ini, Consumer Funding and Wealth Business Head Bank Danamon, Ivan Jaya, berbagi pandangannya mengenai kondisi pasar saat ini serta strategi investasi yang dapat diterapkan.

Menurutnya, koreksi saham yang terjadi saat ini merupakan hal wajar dan dapat dikategorikan sebagai koreksi sehat. Ia menegaskan, meskipun pertumbuhan saham mungkin tidak seagresif tahun-tahun sebelumnya, trennya tetap menunjukkan arah yang positif. “Saham tetap tumbuh walaupun mungkin tidak seagresif tahun-tahun sebelumnya, namun tetap positif. Ini merupakan indikasi bahwa perekonomian Indonesia masih cukup kuat meskipun menghadapi turbulensi makro dan mikro,” ujar Ivan kepada Infobank, bulan lalu.

Ia membandingkan situasi saat ini dengan kondisi pasar pada saat pandemi COVID-19, di mana valuasi saham, yang diukur dari price to earnings (P/E) ratio, sempat berada di angka 12-13 kali – lebih rendah dibandingkan dengan rata rata normal 15 kali. Kondisi serupa terjadi kembali saat ini, yang menurut Ivan dapat menjadi kesempatan bagi investor untuk membeli saham dengan harga lebih murah.

Banyak pelaku pasar mempertanyakan apakah aksi jual investor asing akan terus berlanjut dan menekan pasar saham lebih dalam. Menanggapi hal ini, Ivan melihat bahwa aksi jual memang masih berlangsung, tapi mulai mereda. “Menurut saya, sentimennya sudah mulai sedikit menurun. Masih ada, tapi sudah lumayan bottoming. Untuk tembus ke bawah lagi itu harus ada semacam krisis besar, sementara kita tidak dalam kondisi seperti itu,” jelasnya.

Seiring dengan me redanya aksi jual investor asing, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memang mengalami rebound hampir 6% pada Maret lalu. Hal ini menunjukkan bahwa pasar saham mulai menemukan titik ke seimbangan dan ber potensi untuk kembali menguat secara bertahap. Bagi investor yang ingin memanfaatkan peluang di tengah koreksi ini, Ivan menyarankan strategi alokasi aset yang seimbang dan terukur. Investor moderat disarankan mengalokasi kan sekitar 40%-50% dari portofolio ke instrumen obligasi guna menjaga stabilitas di tengah volatilitas pasar saham. Dengan IHSG yang saat ini berada pada level rendah, sekitar 20%-25% dari portofolio dapat dialokasikan ke saham. “Kalau kita lihat harga saham sekarang, seperti istilah beli Mercy harga Bajaj. Ini merupakan saat yang tepat untuk masuk ke pasar saham,” ucap Ivan.

Sisa portofolio dapat dialokasikan ke instrumen yang lebih likuid, seperti deposito, reksa dana pasar uang, atau obligasi berjangka pendek seperti Obligasi Ritel Indonesia (ORI), sukuk, dan Surat Berharga Negara (SBN). Langkah ini bertujuan untuk menjaga likuiditas dan fleksibilitas dalam mengelola investasi.

Koreksi di pasar saham bukanlah sesuatu yang harus selalu ditakuti. Sebaliknya, bagi investor yang cermat, kondisi ini bisa menjadi peluang untuk mendapatkan saham berkualitas dengan harga lebih rendah. Dalam menghadapi koreksi pasar, yang terpenting adalah tetap tenang, melakukan analisis mendalam, dan tidak terburu-buru mengambil keputusan.

Menurutnya, koreksi saham yang terjadi saat ini merupakan hal wajar dan dapat dikategorikan sebagai koreksi sehat. Ia menegaskan, meskipun pertumbuhan saham mungkin tidak seagresif tahun-tahun sebelumnya, trennya tetap menunjukkan arah yang positif. “Saham tetap tumbuh walaupun mungkin tidak seagresif tahun-tahun sebelumnya, namun tetap positif. Ini merupakan indikasi bahwa perekonomian Indonesia masih cukup kuat meskipun menghadapi turbulensi makro dan mikro,” ujar Ivan kepada Infobank, bulan lalu.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi April 2025

Rp 65.000

BELI