Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Bumaman Teodeki Tarigan, Direktur Utama BPR Pijer Podi Kekelengen

Menabur Kebaikan, Menuai Kemakmuran

Kehidupannya di Kota Pelajar mengubah pola pikir dan pandangannya akan kehidupan. Ia menjadi lebih sosialis dan dekat dengan masyarakat. Prinsip itu pula yang menjadi mesin penggerak dalam menjalankan bisnis bank rural yang dipimpinnya.

Oleh Mohammad Adrianto Sukarso
Bumaman Teodeki Tarigan; membela rakyat kecil

Bumaman Teodeki Tarigan; membela rakyat kecil

Teologi adalah lentera yang menerangi loronglorong pencarian makna hidup. Bagi sebagian orang, ilmu ini menjadi jembatan antara dunia dan surga, menuntun mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Bumaman Teodeki Tarigan, Direktur Utama BPR Pijer Podi Kekelengen, adalah salah satu figur yang merasakan betul dampak positif usai menekuni teologi. Bermula dari keikutsertaan di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, pria asal Karo, Sumatra Utara, ini justru mendapat pandangan baru akan hidup, khususnya dalam beragama.

Hasrat Eki, sapaan akrabnya, yang kuat untuk mempelajari teologi, membuatnya berani untuk mendaftar di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), mengambil jurusan teologi. Ia bahkan tak segan menjadikan studinya di Jurusan Hubungan Internasional UGM sebagai skala prioritas kedua.

Pendalaman akan teologi membuat Eki banyak berpikir untuk mendukung hak masyarakat kecil. Semangatnya untuk membela kaum tertindas makin besar lantaran masa itu, tepatnya pada Mei 1998, merupakan akhir dari rezim Presiden Soeharto yang sudah berkuasa selama 32 tahun. Pria berdarah Batak ini menjadi satu dari jutaan mahasiswa yang turun ke jalan untuk menyuarakan keadilan bagi rakyat Indonesia.

Menariknya, kondisi demonstrasi di Yogyakarta dideskripsikan penuh kehangatan dan sukacita. Berbeda dengan di kota-kota lain yang panas dan mencekam, lantaran ingin memberi tekanan kepada penguasa. Justru, masyarakat Yogyakarta malah “sibuk” berbagi makanan kepada orangorang yang ikut unjuk rasa.

“Pada tanggal 20 Mei (1998) itu ada demo besar di Yogyakarta, diikuti mahasiswa universitas dan masyarakat. Tapi, suasananya justru tidak seperti demo. Saat itu suasananya malah seperti pesta. Saya orang Sumatra Utara dapat suasana seperti itu di Yogyakarta malah kaget juga. Itu jadi demonstrasi yang bikin kami kenyang,” kelakar Eki melalui pembicaraan telepon seluler dengan Infobank.

Pengalaman demonstrasi di Yogyakarta menjadi kenangan yang tidak akan dilupakannya. Selain menjadi bagian dari kebangkitan era reformasi, peristiwa tersebut mengajarkan Eki untuk selalu berada di pihak masyarakat kecil. Peristiwa itu turut memengaruhi perjalanan hidupnya.

Tahun 2003 menjadi tahun terakhir bagi Eki di Yogyakarta. Ia berhasil menyelesaikan kuliah di UGM dan UKDW. Dua gelar sekaligus disandangnya: SIP dan S.Si. Eki memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya dan mengabdikan diri sebagai pendeta di Gereja Batak Karo Protestan.

Uniknya, pengabdiannya sebagai pendeta justru membuka pintu peluang baru yang tidak disangkasangka. Pria yang juga punya gelar magister manajemen dari Universitas Sumatera Utara (USU) ini mendapat tawaran untuk bekerja di BPR Pijer Podi Kekelengen. Rupanya, pemilik bank rural ini tak lain adalah gereja tempat Eki mengabdi.

“Jadi, waktu saya benar-benar kembali dari Yogyakarta pada 2003, BPR ini isinya sudah sepuh-sepuh. Mereka butuh kader barulah. Saya yang waktu itu mau jadi calon pendeta diproyeksikan oleh gereja, untuk jadi salah satu kader yang dipertimbangkan oleh BPR tersebut,” kenang Eki.

Dengan kerja keras dan ketekunan, Eki berhasil membuktikan kelayakannya untuk menjadi calon pemimpin masa depan BPR Pijer Podi Kekelengen. Hanya perlu lima tahun baginya untuk dipercaya duduk di kursi direksi BPR. Tahun 2008, Eki sudah didapuk menjadi direktur pengawasan bank. Dua tahun berselang, Eki pun dipercaya pemegang saham untuk menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama BPR Pijer Podi Kekelengen.

“Pemegang saham menganggap kalau saya adalah orang yang sering punya ide-ide untuk BPR. Saya sering dianggap yang mau berpikir ‘agak lain’. Cuma saya yang gemar membuat skema. Sementara, dua rekan saya yang lain memang bertipikal yang melaksanakan perintah. Barangkali, itu keunggulan yang dilihat pemegang saham dari saya,” ujarnya.

Pemilihan Eki sebagai plt direktur utama sempat mengundang tanda tanya Bank Indonesia (BI) sebagai regulator. Maklum, usianya saat itu masih di kepala tiga. Lagi-lagi, ayah dua anak perempuan ini membuktikan kapasitasnya sebagai leader. BI akhirnya merestui Eki untuk menjabat sebagai direktur utama BPR pada 2013.

Tangan dingin Eki berhasil membawa BPR Pijer Podi Kekelengen menjadi yang terbesar di Sumatra Utara. Ia masih ingat, pada 2003, aset bank rural ini hanya di kisaran Rp35 miliar. Namun, pada akhir 2024, BPR itu mampu membukukan aset sebesar Rp461,89 miliar.

Eki merupakan sosok berjiwa egaliter. Meskipun ada hierarki yang wajib dipatuhi di kantor, ia tidak memberlakukan pegawai bank sebagai “bawahan”, melainkan sebagai layaknya manusia. Pendalamannya terhadap ilmu teologi yang ia pelajari semasa kuliah membentuknya sebagai sosok yang empatetik; peduli terhadap sesama, dan selalu berada di sisi masyarakat kecil.

“Pada tanggal 20 Mei (1998) itu ada demo besar di Yogyakarta, diikuti mahasiswa universitas dan masyarakat. Tapi, suasananya justru tidak seperti demo. Saat itu suasananya malah seperti pesta. Saya orang Sumatra Utara dapat suasana seperti itu di Yogyakarta malah kaget juga.”

Kedekatannya dengan masyarakat kecil terbukti dari keaktifannya berorganisasi di lembaga swadaya masyarakat (LSM). Eki bahkan mengajak istrinya, yang juga gemar melakukan aktivisme, beserta kedua anaknya, untuk berkontribusi membela yang lemah.

Sementara, di BPR Pijer Podi Kekelengen, ia menginstruksikan para pegawainya untuk menargetkan nasabah-nasabah “mini”. Selain untuk membantu mereka dari sisi finansial, pada akhirnya ini juga berdampak terhadap kinerja perusahaan yang tetap positif. Eki mengaku, bank rural besutannya memiliki likuiditas yang terjaga, di tengah sulitnya mencari funding.

“Jadi, karena kami melayani masyarakat kecil, memang orangnya harus banyak. Tapi, di situ memang kami juga akan dapat banyak dana kecil-kecil. Itu yang membuat dana kami lebih stabil, karena kami tidak tergantung pada satu atau dua orang yang punya dana besar. Dana kami itu kecil-kecil tapi banyak,” terang Eki.

Tahun 2025 akan menantang bagi pelaku industri BPR. Namun, Eki optimistis bahwa BPR Pijer Podi Kekelengen masih bisa tumbuh dengan baik, bahkan menargetkan aset bank dapat menyentuh Rp500 miliar. Pemutakhiran infrastruktur teknologi dan penguatan sumber daya manusia (SDM) menjadi strategi utama yang diharapkan mampu memicu peningkatan kinerja di tahun ini.

Mereka yang menabur kebaikan pasti suatu saat akan menuai kemakmuran. Eki menjadi salah satu bukti nyata bahwa orang-orang dengan kebaikan hati akan kembali menerima ganjarannya berkali-kali lipat lebih besar dari apa yang diberikan selama hidupnya. Sebagaimana yang tertuang dalam Mazmur 82:3-4, “Berilah keadilan kepada orang yang lemah dan kepada anak yatim. Belalah hak orang sengsara dan orang yang kekurangan! Luputkanlah orang yang lemah dan yang miskin. Lepaskanlah mereka dari tangan orang fasik!”

Bumaman Teodeki Tarigan, Direktur Utama BPR Pijer Podi Kekelengen, adalah salah satu figur yang merasakan betul dampak positif usai menekuni teologi. Bermula dari keikutsertaan di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, pria asal Karo, Sumatra Utara, ini justru mendapat pandangan baru akan hidup, khususnya dalam beragama.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi April 2025

Rp 65.000

BELI