Penulis adalah Honorable Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI). Artikel ini merupakan pendapat pribadi.
Tidak dapat dimungkiri bahwa kehadiran kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) telah menjadi suatu keniscayaan bagi individu maupun perusahaan. Tentunya tidak ketinggalan juga bagi semua entitas bisnis, termasuk industri perbankan maupun industri kuangan nonperbankan (IKNB). Memang sudah seharusnya kalangan industri perbankan maupun IKNB memanfaatkan AI, selain karena tuntutan eksternal juga karena kebutuhan internal. Namun, yang sudah seharusnya dipertimbangkan, ketika menggunakan AI, diperolehnya nilai tambah yang maksimal. Setidak-tidaknya dapat menjawab tuntutan dan kebutuhan strategis perusahaan di satu pihak dan kebutuhan nasabah di lain pihak.
Secara teoretis, penggunaan AI minimal dapat meningkatkan kecepatan dan akurasi suatu proses pekerjaan yang dilakukan secara berulang. Harus juga dipastikan bahwa alasan menggunakan AI itu bukan biar tidak dianggap ketinggalan zaman, melainkan karena memang sudah menjadi kebutuhan karena AI memberikan banyak manfaat. Alasan lain perlu menggunakan AI tentunya karena pertimbangan asas manfaatnya bagi lembaga/institusi dan nasabah/pelanggan.
Secara harfiah, AI dapat mengotomatisasi tugas-tugas berulang, seperti pemrosesan pinjaman, pemeliharaan akun, dan pertanyaan layanan pelanggan, sehingga membebaskan karyawan untuk lebih banyak melakukan pekerjaan yang lebih kompleks dan strategis. Sistem yang didukung AI dapat mengoptimalkan alur kerja, mengurangi kesalahan, dan meningkatkan efisiensi operasional secara keseluruhan. Pada akhirnya akan menghasilkan penghematan biaya yang signifikan. AI juga dapat menganalisis kumpulan data besar dan memproses informasi jauh lebih cepat daripada dilakukan manusia, sehingga memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan penyampaian layanan yang lebih cepat pula.
Penggunaan AI oleh sebagian kalangan, seperti perbankan, pada awalnya lebih karena bersifat reaktif sebagai respons atas kehadiran AI yang terus berkembang lebih canggih. Penggunaan AI pada awalnya hanya sekadar mengikuti tren. Namun, hal itu justru dapat menimbulkan masalah. Penggunaan AI dapat menimbulkan masalah ketika investasi yang dikeluarkan untuk pengadaan AI tidak sepadan dengan nilai tambah yang seharusnya didapat. Menarik untuk diperhatikan hasil survei dari Net Security (2020), yang menyatakan bahwa hambatan terbesar dalam mengadopsi AI ialah mengidentifikasi penggunaan AI yang berorientasi pada nilai bisnis. Artinya apakah adopsi AI yang dilakukan benar-benar dapat meningkatkan bisnis dan efisiensi.
Harus Diperhatikan
Menarik juga untuk memperhatikan kajian Gartner (2020) terkait penggunaan AI. Berdasarkan kajiannya, hanya sekitar 10% dari lembaga yang disurvei mampu memindahkan lebih dari 75% prototipe AI mereka ke produksi. Pesannya tentu terkait dengan pertanyaan, apakah layak untuk terus berinvestasi AI lebih banyak sebagai salah satu solusi teknologi yang secara kekinian memang terus meningkat? Bukan merupakan suatu kesalahan atau disimpulkan bahwa menggunakan AI hanya akan meningkatkan biaya. Dalam hal tertentu, banyak entitas bisnis menggunakan AI hanya agar tidak dipersepsikan sebagai perusahaan “zadul” sehingga apa yang dilakukan tidak untuk perspektif jangka panjang.
Dengan menganalisis data historis, kenyataan menunjukkan bahwa AI dapat mengidentifikasi pola dan korelasi yang mungkin masih banyak diabaikan apabila hanya dilakukan oleh manusia. Kemampuan prediktif dari AI memungkinkan organisasi dapat mengantisipasi ancaman sebelum terwujud, sehingga memungkinkan tersedianya strategi mitigasi risiko proaktif. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika entitas bisnis seperti bank dan lembaga keuangan nonbank akan meningkatkan utilisasi AI, antara lain sebagai berikut.
Pertama, banyak yang menyarankan utilisasi dan optimalisasi penggunaan AI dimulai untuk mengatasi aktivitas yang rutin. Misalnya terkait pelaporan yang harus disampaikan baik kepada regulator maupun manajemen. Tentunya akan banyak versi jenis laporan. Namun, apabila sumber datanya sudah terintegrasi, maka menggunakan AI merupakan pilihan yang tepat. Kehadiran AI tentunya akan dapat menghilangkan berbagai silo satuan kerja karena data yang diakses sudah terpusat. Ketika AI belum banyak digunakan masih banyak dijumpai permintaan data yang “dikuasai” oleh masing-masing satuan kerja sehingga akan ada tambahan birokrasi yang seharusnya tidak terjadi. Pekerjaan mengolah kembali data untuk keperluan khusus masih banyak dilakukan oleh manusia yang tentunya semua itu sudah dapat dilakukan oleh AI.
Kedua, kehadiran AI tentunya difokuskan untuk meningkatkan dan mendapatkan manfaat atas terciptanya efisiensi dan efektivitas tata kelola perusahaan. Secara umum, penggunaan AI harus menghasilkan percepatan dalam proses, akurasi, dan upaya pencegahan aktivitas yang direkayasa. Sekadar ilustrasi, jika bank dan/atau nonbank akan menggunakan AI harus dapat membantu lebih cepat dan akurat untuk mendeteksi aplikasi pinjaman yang tidak benar, jenis penipuan, pencucian uang, dan/ atau penipuan lainnya. AI dapat digunakan untuk membantu memprediksi kemungkinan penipuan lebih dini yang secara akumulasi dapat meningkatkan seluruh proses deteksi penipuan.
Ketiga, menggunakan model AI untuk kredit harus mengintegrasikannya dengan proses perkreditan secara menyeluruh. Secara universal banyak yang menyatakan bahwa AI dapat menganalisis sejumlah besar data untuk mengidentifikasi pola dan menilai kelayakan kredit dengan lebih akurat. Hal ini dapat membuat lebih sedikit terjadinya gagal bayar pinjaman, mengurangi risiko, dan meningkatkan margin keuntungan. Pada umumnya model yang dikembangkan minimal meliputi prinsip 5C (character, capacity, capital, condition, collateral). Mengapa 5C khususnya menjadi hal penting, tentunya dikaitkan dengan kelayakan kredit yang terukur dan rasional. Hal tersebut sangat penting dalam rangka mengantisipasi risiko kredit yang hasil akhirnya menimbulkan permasalahan, seperti kredit yang macet.
Keempat, penggunaan AI tidak lagi sekadar ada (nice to have), tetapi karena memang must to have. Dalam konteks must to have, salah satu yang masih belum banyak mendapatkan perhatian ialah soal talenta (talent) AI. Banyak dijumpai, ketika menggunakan AI, baik bank maupun lembaga keuangan bukan bank, menghadapi semacam kelangkaan talenta yang menguasai AI. Saya tidak ingin mengatakan bahwa talenta atau spesialis AI adalah suatu profesi yang sama sekali baru, tetapi lebih kepada realitas bahwa spesialis AI masih tergolong terbatas. Talenta yang selama ini fokus di IT harus ditambah.
Apabila penggunaan AI dilakukan secara tepat, memungkin kan bank dan IKNB mengembangkan produk dan layanan keuangan inovatif yang sesuai dengan kebutuhan nasabah yang terus berkembang.
Tentunya akan ada pertanyaan, mengapa harus ada para talenta spesialis AI? Saya bisa saja salah, mengapa diperlukan spesialis AI. Alasannya karena kompetensinya tetap ada perbedaan. Makna must to have tentunya bertujuan agar rancang bangun AI dapat ditangani para ahlinya. Bisa saja merupakan kombinasi, mengambil spesialis dari luar serta mendidik tenaga IT yang sudah ada menjadi spesialis.
Beberapa Catatan
Meningkatnya penggunaan AI menjanjikan dampak yang bertahan lama pada industri perbankan maupun IKNB. Sudah banyak pembuktian bahwa menggunakan AI dapat menganalisis data untuk memahami preferensi dan kebutuhan nasabah, sehingga memungkinkan bank dan IKNB dapat menawarkan produk, layanan, dan rekomendasi keuangan sesuai dengan kebutuhan nasabahnya.
Secara garis besar, manfaat yang sudah banyak diperoleh, antara lain (i) dapat menghadirkan chatbot sebagai asisten virtual yang didukung AI untuk menjawab pertanyaan, dan menyelesaikan masalah kapan saja dan lebih cepat; (ii) dapat memfasilitasi komunikasi yang lebih personal dan efisien dengan nasabah; (iii) mampu melakukan deteksi lebih awal terkait dengan penipuan; (iv) mendeteksi dan mencegah ancaman siber; (v) mengidentifikasi potensi risiko dan memprediksi tren masa depan, sehingga dapat membuat keputusan yang tepat dan mengurangi potensi kerugian.
Manfaat lain penggunaan AI ialah dapat mengotomatiskan tugas akuntansi, meningkatkan akurasi, dan memberikan wawasan keuangan yang lebih baik. Apabila ini dapat diwujudkan maka dapat membantu mengidentifikasi ide produk baru dan mengembangkan solusi inovatif serta memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi bisnis. Hal lain, apabila penggunaan AI dilakukan secara tepat, memungkinkan bank dan IKNB mengembangkan produk dan layanan keuangan inovatif yang sesuai dengan kebutuhan nasabah yang terus berkembang.
Namun, menurut kajian McKinsey (2022), ada banyak sekali risiko yang akan dihadapi terkait penggunaan AI dalam kondisi kekinian. Baik risiko bagi bank, bagi lembaga keuangan bukan bank, maupun bagi nasabah. Memang, dengan kekinian teknologi, tidak semua risiko AI selalu dalam skala yang mengkhawatirkan. Namun demikian, tetap ada beberapa risiko terbesar saat ini terkait dengan privasi konsumen, pemrograman yang bias, dan peraturan yang belum jelas. Dalam praktiknya, meskipun sudah menggunakan AI tetap ada potensi penipuan keuangan dan disinformasi di pasar keuangan.
Meskipun AI banyak memberikan manfaat, bukan berarti AI tak mempunyai kelemahan. Bagaimanapun juga AI dibuat oleh manusia dengan menggunakan algoritma. Bisa saja algoritma yang dibuat oleh manusia memiliki bias bawaan, baik disengaja maupun tidak disengaja. Bisa juga algoritma yang dibuat lebih mengutamakan kepentingan tertentu yang berdampak negatif. Realitas ini dapat menyebabkan konsekuensi yang tidak diinginkan seperti yang telah kita lihat dengan algoritma perekrutan yang diskriminatif dan chatbot Twitter Microsoft yang menjadi rasis. Tujuannya baik, tetapi ada etika yang tidak diperhitungkan dengan baik.
Menggunakan AI adalah baik selama tujuannya baik. Namun, etika tetap tak boleh diabaikan. Segala sesuatu yang tidak etis tentunya akan mengurangi kredibilitas dan kepercayaan.
Secara teoretis, penggunaan AI minimal dapat meningkatkan kecepatan dan akurasi suatu proses pekerjaan yang dilakukan secara berulang. Harus juga dipastikan bahwa alasan menggunakan AI itu bukan biar tidak dianggap ketinggalan zaman, melainkan karena memang sudah menjadi kebutuhan karena AI memberikan banyak manfaat. Alasan lain perlu menggunakan AI tentunya karena pertimbangan asas manfaatnya bagi lembaga/institusi dan nasabah/pelanggan.