Bank BPD Bali ingin memperkuat daya saing di tingkat nasional dan lebih berkontribusi pada perekonomian Bali. Bank ini terus membangun ekosistem digital yang dapat memperkuat sektor keuangan daerah serta mendukung struktur pendanaan yang lebih efisien.
Ida Bagus Gede Setia Yasa; membangun data center
Bank Pembangunan Daerah Bali (Bank BPD Bali) mencatatkan kinerja positif di 2024, dengan perolehan laba bersih Rp878,47 miliar atau tumbuh 19% secara tahunan. Peningkatan laba yang mengesankan itu antara lain ditopang beragam inovasi dan layanan digital yang terus dilakukannya sehingga mendongkrak kinerja bank kebanggaan masyarakat Bali ini.
Berbagai inovasi dan layanan digital yang terus dikembangkan Bank BPD Bali di antaranya layanan mobile banking, internet banking, dan layanan CMS untuk transaksi bisnis. Tercatat, pengguna aplikasi mobile banking Bank BPD Bali, yakni BPD Bali Mobile, tumbuh 30% atau mencapai 287.065 nasabah. Bank ini juga meluncurkan BaliPay dan DigiLoan. Selain itu, keamanan siber menjadi prioritas bank ini ke depan.
Kepada Infobank, Januari lalu, Ida Bagus Gede Setia Yasa, Direktur Operasional dan Teknologi Informasi (TI) Bank BPD Bali, menjelaskan visi dan misi bank ini dalam memperkuat daya saingnya melalui pengembangan TI dan operasional yang berfokus pada digitalisasi. Petikannya:
Apa target yang hendak dicapai Bank BPD Bali terkait dengan operasional dan TI?
Sejak saya dipercaya untuk mengemban tugas sebagai Direktur Operasional dan TI Bank BPD Bali, salah satu misi dan visi kami adalah memperkuat daya saing bank ini di kancah perbankan nasional karena Bali merupakan daerah yang cukup penting, baik dari sisi sektor perbankan maupun sektor keuangan secara umum. Sebagai bank daerah, kami harus berkontribusi untuk meningkatkan ekonomi daerah. Kemudian, salah satu tugas kami adalah memperkuat ekosistem digital yang bisa mendukung sektor keuangan di Bali, yang kami harap bisa membantu meningkatkan daya saing bank ini di tingkat nasional.
Kami terus mengembangkan berbagai layanan digital, seperti mobile banking, internet banking, dan lain-lain sejak 2015. Di 2017, kami mulai mengembangkan layanan CMS untuk transaksi bisnis, seperti pencairan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D). Kami juga menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah (pemda) untuk mengintegrasikan layanan pembayaran daerah ke sistem digital, termasuk pajak daerah.
Dengan sistem digital yang kami kembangkan, baik yang besar maupun kecil, setiap daerah dapat mengakses layanan yang sama. Selain itu, ekosistem digital adalah salah satu fondasi dalam pembentukan struktur pendanaan yang lebih murah, CASA lebih murah.
Bank BPD Bali merupakan salah satu bank daerah yang sangat masif dalam pengembangan kanal digital dan menciptakan ekosistem digital daerah, salah satunya dengan meluncurkan layanan BaliPay. Bagaimana pengembangan BaliPay hingga saat ini dan apa manfaatnya?
BaliPay adalah platform pembayaran elektronik yang kami kembangkan dan luncurkan pada 2022. Sistem ini tidak hanya memudahkan transaksi, tapi juga mendorong penggunaan uang elektronik dalam ekosistem ekonomi di Bali, baik di dunia pariwisata maupun bisnis lainnya. Selain itu, Bali perlu sistem pembayaran karena Bank BPD Bali mengelola destinasi wisata yang terkait dengan sistem pembayaran. Sehingga, kami berharap, dengan mengembangkan uang elektronik server based, ke depan bisa menjadi salah satu daya tarik untuk wisatawan.
Akan tetapi, tantang annya pun ke depan, uang elektronik yang unregistered tidak diperkenankan lagi digunakan. Mungkin nanti kami akan koordinasikan tahun ini agar wisatawan asing yang bertransaksi di Bali bisa menggunakan BaliPay. Jadi, sebenarnya kami mengembangkan BaliPay juga untuk mempermudah transaksi pembayaran bagi wisatawan asing yang berkunjung ke Bali.
Kami berharap, BaliPay bisa berkontribusi pada peningkatan pendapatan daerah melalui sistem pembayaran yang lebih efisien. Sistem ini memungkinkan transaksi nontunai, yang tentu saja akan mengurangi penggunaan uang tunai dan mempermudah pelacakan pajak daerah. Kami terus bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk mengintegrasikan layanan ini ke dalam aplikasi digital daerah, terutama untuk sektor pajak daerah dan sistem pembayaran lainnya.
Bagaimana perkembangan transaksi melalui kanal-kanal elektronik atau digital di Bank BPD Bali?
Pada 2019, transaksi nasabah di Bank BPD Bali paling banyak ATM sekitar 50%, mobile banking sekitar 20%, teller sekitar 20%. Saat ini, transaksi mobile banking sudah lebih besar dibandingkan dengan transaksi ATM, yang dulunya dominan. Dari total sekitar 61 juta transaksi Bank BPD Bali di 2024, hampir 40% dari total transaksi kami dilakukan melalui mobile banking, sedangkan ATM menyumbang sekitar 30%. Kemudian, sisanya melalui internet banking maupun agen dan teller.
Dari sisi user pun tercatat pengguna mobile banking mencapai 60% dari total nasabah yang kami miliki. Kami juga fokus pada peningkatan digitalisasi untuk UMKM di Bali. Sekitar 48% dari total pembiayaan kami diberikan kepada sektor UMKM, sektor produktif sekitar 53%-54%, dan kami terus mendorong lebih banyak merchant untuk menggunakan sistem QRIS dan layanan digital kami.
Bagaimana dengan kontribusi UMKM terhadap layanan digital bank? Apakah UMKM juga menggunakan layanan mobile banking Bank BPD Bali?
Ya, benar. Kami terus mendorong UMKM untuk menggunakan mobile banking dan layanan digital kami. Saat ini, kami telah digitalisasi sekitar 44.000 merchant, sebagian besar di sektor restoran, hotel, dan hiburan. Kami bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk menyediakan solusi POS online secara real-time, yang memungkinkan merchant untuk menghitung kewajiban pajak mereka dengan lebih mudah. Kami juga mengembangkan solusi QRIS dinamis untuk transaksi mereka.
Bank BPD Bali juga telah mengembangkan layanan DigiLoan. Dari layanan ini, apa yang ingin dicapai?
DigiLoan memiliki konsep digitalisasi internal business process kami. Misalnya, dalam hal pemberian kredit, SLA (service level agreement) bisa lebih cepat karena proses analisis kredit lebih efisien dengan menggunakan scoring yang lebih sederhana berdasarkan risiko. Makin kecil risiko, makin cepat kami bisa menganalisis. Hingga saat ini, sudah hampir dua tahun kami mulai implementasi DigiLoan, dan kami sedang melakukan reengineering dari sisi proses bisnis. Sehingga, proses akuisisi dan pengukuran kinerja market dari sisi tenaga sales dan analis kami bisa terukur. Itu salah satu tujuan membangun DigiLoan.
Di samping nanti dalam super app kami, DigiLoan ini menjadi channel akuisisi dari kredit yang low risk. Misalnya, nasabah yang gajinya dipotong (sistem payroll) bisa mengajukan kredit melalui layanan mobile banking super app kami, tapi back end-nya adalah DigiLoan. Ini satu hal yang harus kami kelola ke depan. Karena, harapan nasabah, mereka bisa melakukan layanan perbankan melalui ponselnya.
Dengan sistem digital yang kami kembangkan, baik yang besar maupun kecil, setiap daerah dapat mengakses layanan yang sama. Selain itu, ekosistem digital adalah salah satu fondasi dalam pembentukan struktur pendanaan yang lebih murah, CASA lebih murah.
Terkait dengan layanan mobile banking super app Bank BPD Bali, fitur apa saja yang akan tersedia dalam super app itu?
Untuk awal, fitur super app akan sama dengan mobile banking Bank BPD Bali saat ini. Namun, nanti ada fitur tambahan seperti QRIS dan NFC. Kami diberi kesempatan oleh Bank Indonesia (BI) untuk mengembangkan layanan NFC, QRIS, dan teknologi lainnya seperti contactless payment.
Kapan super app ini akan diluncurkan?
Kami mengutamakan peluncuran super app kami di pertengahan 2025 ini.
Bagaimana dengan strategi keamanan siber, apakah ada pembaruan?
Keamanan siber memang menjadi tantangan besar bagi kami. Dari sisi infrastruktur, kami sudah melengkapi sistem dengan standar terbaik, baik dari sisi endpoint, back end, hingga keamanan jaringan. Kami juga sudah mengimplementasikan sistem deteksi dan perlindungan yang kuat. Walaupun kami berharap tidak ada serangan siber, kami mempersiapkan sistem recovery dengan baik.
Kami telah membangun data center dan memperbaiki SOP (standard operating procedure) kami untuk menghadapi potensi serangan siber. Kami terus memperkuat monitoring infrastruktur dan membangun sistem perlindungan yang lebih baik, seperti BlackDS, untuk mengatasi potensi serangan siber.
Kami juga memperhatikan aspek perlindungan konsumen agar kerugian nasabah bisa diminimalkan, meskipun mereka terkadang menjadi korban social engineering. Kami juga terus mengembangkan layanan untuk menjaga agar nasabah tetap aman saat menggunakan layanan perbankan digital kami.
Berbagai inovasi dan layanan digital yang terus dikembangkan Bank BPD Bali di antaranya layanan mobile banking, internet banking, dan layanan CMS untuk transaksi bisnis. Tercatat, pengguna aplikasi mobile banking Bank BPD Bali, yakni BPD Bali Mobile, tumbuh 30% atau mencapai 287.065 nasabah. Bank ini juga meluncurkan BaliPay dan DigiLoan. Selain itu, keamanan siber menjadi prioritas bank ini ke depan.