Bank daerah dengan porsi dana murah besar lebih tangguh menahan beban, terbukti dari laba solid yang mereka catat. Ke depan, perebutan dana murah kian ketat, menjadikan inovasi dan digitalisasi kunci persaingan.
I Nyoman Sudharma, Direktur Utama Bank BPD Bali
Kinerja laba industri bank pembangunan daerah (BPD) terus tertekan sejak akhir 2023. Dalam dua tahun terakhir, industri ini mencatat pertumbuhan laba negatif meskipun intermediasi perbankan tumbuh solid, bahkan melampaui rata-rata bank umum. Sayangnya, lonjakan beban bunga yang jauh melampaui kenaikan pendapatan bunga telah menggerus profitabilitas BPD. Tekanan ini kian terasa sejak era suku bunga tinggi yang dimulai pada pertengahan 2022.
Data Biro Riset Infobank (birI) menunjukkan kredit BPD mencapai Rp658,60 triliun pada 2024, tumbuh 6,49% (year on year/yoy), di bawah pertumbuhan industri bank umum yang tercatat 10,52%. Pertumbuhan kredit BPD ini mendorong kenaikan pendapatan bunga sebesar 8,42% menjadi Rp126,82 triliun. Namun, DPK hanya tumbuh 3,06% menjadi Rp752,69 triliun, sementara beban bunga melonjak 13,48% menjadi Rp76,52 triliun. Alhasil, pendapatan bunga bersih BPD hanya tumbuh tipis 1,54% menjadi Rp50,60 triliun. Dengan kenaikan berbagai beban lainnya, laba bersih industri BPD turun 10,45% menjadi Rp13,00 triliun dari Rp14,52 triliun tahun sebelumnya.
Di tengah tekanan ini, beberapa BPD tetap berhasil mencatatkan pertumbuhan laba, terutama yang memiliki porsi dana murah (current account saving account/CASA) yang tinggi. Dari sepuluh BPD dengan laba terbesar per September 2024, hanya dua yang membukukan pertumbuhan laba, yakni Bank Papua dan Bank BPD Bali. CASA keduanya di atas 70%, bahkan Bank Papua mencatat pangsa CASA lebih dari 90%. Dengan dana murah yang kuat, lonjakan beban bunga bisa ditekan, sementara pendapatan dari kredit tetap tumbuh, sehingga laba bersih meningkat.
Direktur Utama Bank BPD Bali, I Nyoman Sudharma, menegaskan bahwa CASA menjadi faktor kunci dalam menjaga pertumbuhan di tengah tingginya suku bunga dan ketatnya likuiditas. “Dengan porsi CASA yang dominan, bank memiliki struktur pendanaan yang lebih efisien karena biaya dana dapat ditekan. Hal ini memberikan fleksibilitas menghadapi dinamika pasar sekaligus mempertahankan profitabilitas,” ujarnya kepada Infobank, Maret lalu.
Pada 2024, DPK Bank BPD Bali tumbuh 15,10% menjadi Rp32,17 triliun, dengan CASA mencapai 70,80% atau Rp22,78 triliun. Biaya dana tumbuh hanya 11,02%, lebih rendah daripada pertumbuhan DPK, yang mendorong laba bersih naik 19,00% menjadi Rp878,47 miliar.
Sudharma menambahkan, CASA yang besar memungkinkan Bank BPD Bali menawarkan kredit dengan suku bunga lebih kompetitif, terutama bagi sektor UMKM yang menyerap 51,20% dari total kredit bank. Dengan rasio pembiayaan inklusif makroprudensial (RPIM) mencapai 52,02%, bank ini mendapatkan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) dari Bank Indonesia (BI), yang makin memperkuat pencapaian laba.
Senada, Direktur Utama Bank BPD DIY, Santoso Rohmad, menyebut CASA sebagai strategi utama dalam memacu pertumbuhan. Pada 2024, pangsa CASA Bank BPD DIY di atas 70%, memberikan keleluasaan dalam ekspansi pasar, khususnya di Yogyakarta dan sekitarnya. “Kami optimalkan digitalisasi untuk membangun ekosistem digital, termasuk di sektor pendidikan yang memiliki peredaran uang besar. Dengan transaksi yang mudah, dana akan tersimpan di rekening tabungan, memperkuat CASA dan mendukung pertumbuhan kredit,” ujarnya.
Sementara itu, Bank Kaltimtara mencatat peningkatan pangsa CASA tertinggi, mencapai 88,35% dari total DPK per akhir 2024, dengan tabungan sebagai kontributor utama sebesar 46,76%. Tahun sebelumnya, CASA bank ini masih di bawah 75%.
Direktur Utama Bank Kaltimtara, Muhammad Yamin, mengatakan capaian ini mencerminkan kepercayaan tinggi nasabah. “Komposisi CASA terbesar berasal dari tabungan 46,76%, giro pemda 34,26%, dan giro swasta 18,98%, menunjukkan diversifikasi sumber dana yang baik,” katanya kepada Infobank, bulan lalu.
Ke depan, kompetisi memperebutkan dana murah diprediksi kian ketat seiring dengan isu pengetatan likuiditas yang masih berlanjut. BPD harus memperkuat strategi manajemen likuiditas dan mendorong pertumbuhan DPK, khususnya dana murah, melalui inovasi produk dan digitalisasi layanan.
Berdasarkan catatan Infobank, pangsa DPK BPD terhadap industri bank umum masih relatif kecil, yakni 8,52% per 2024. Begitu pula pangsa dana murah yang hanya 7,29% dari total dana murah industri bank umum. Artinya, persaingan BPD dalam memperoleh DPK dan dana murah tidak hanya ketat di antara sesama bank daerah, tapi juga dengan bank-bank umum lainnya.
Data Biro Riset Infobank (birI) menunjukkan kredit BPD mencapai Rp658,60 triliun pada 2024, tumbuh 6,49% (year on year/yoy), di bawah pertumbuhan industri bank umum yang tercatat 10,52%. Pertumbuhan kredit BPD ini mendorong kenaikan pendapatan bunga sebesar 8,42% menjadi Rp126,82 triliun. Namun, DPK hanya tumbuh 3,06% menjadi Rp752,69 triliun, sementara beban bunga melonjak 13,48% menjadi Rp76,52 triliun. Alhasil, pendapatan bunga bersih BPD hanya tumbuh tipis 1,54% menjadi Rp50,60 triliun. Dengan kenaikan berbagai beban lainnya, laba bersih industri BPD turun 10,45% menjadi Rp13,00 triliun dari Rp14,52 triliun tahun sebelumnya.