Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Perempuan Emas Berakar

Oleh Awaldi
Penulis adalah pemerhati SDM bank.

Penulis adalah pemerhati SDM bank.

         Sebenarnya cita-cita Kartini sudah bisa dibilang tercapai. Jumlah perempuan yang belajar di perguruan tinggi sudah melewati jumlah pria. Perempuan juga lebih tinggi nilai akademiknya. Mereka juga lebih banyak masuk ke dalam dunia korporasi. Level entry management dan middle management, menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), porsi perempuan mendekati 55-60%.

Akan tetapi kegundahan banyak pihak, terutama para pengambil kebijakan di negeri ini adalah dengan setelah semua program, target, dan komitmen termasuk kuota yang dibuat untuk menaikan jumlah pemimpin perempuan dalam korporasi, pertumbuhannya tetap perlahan, bahkan cenderung stagnan. Tahun 2000 persentase perempuan dalam posisi kepemimpinan senior sekitar 15-18%, dan 25 tahun kemudian hari ini masih dalam kisaran persentase yang sama.

Apakah kita perlu rusuh dan bersedih hati melihat angka statistik yang tidak bergerak selama seperempat abad ini? Kalau saya sarankan kita tanggapi dengan santai saja. Tidak usah merasa target-target yang dibuat untuk menaikkan jumlah perempuan di kursi pucuk pimpinan sudah gagal. Mungkin memang porsinya sebegitu saja.

Memang perempuan dalam posisi sebagai board member maupun level BOD-1 akan memberikan perspektif yang berbeda. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan dalam industri keuangan memberikan stabilitas lebih baik kepada perusahaan, fokus pada pengembangan SDM, perhatian kepada detail dari rencana dan project yang lebih baik, dan perhatian terhadap mitigasi akan resiko yang mungkin terjadi.

Usaha sudah banyak dilakukan untuk menaikkan porsi perempuan dalam posisi eksekutif. Akan tetapi jumlahnya tidak nambah-nambah.

Data dari OJK 2023 menunjukkan bahwa hanya sekitar 18% posisi direksi di industri perbankan Indonesia yang diisi oleh perempuan. Di sektor asuransi dan pembiayaan, angkanya tidak jauh berbeda, berkisar di 15-20%. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Laporan World Economic Forum juga mencatat bahwa di Asia Tenggara pergerakan perempuan naik ke posisi yang lebih tinggi masih lambat. Bahkan Eropa mencatatkan penurunan jumlah keterwakilan perempuan dalam posisi puncak dibanding dekade sebelumnya.

Tampaknya mendorong perempuan supaya karier lebih moncer selalu tidak cukup. Tidak bisa dengan fokus pada semua pendekatan itu lalu semuanya selesai. Asal perempuan disiapkan dari awal, kemudian ditetapkan kuotanya di posisi puncak, jumlah pemimpin perempuan akan otomatis naik. Tidak segampang itu.

Mempunyai keterwakilan perempuan yang lebih banyak Perempuan Emas Berakar di tampuk kekuasaan bagiamana pun masuk dalam kategori “suatu perubahan besar”. Dan setiap perubahan besar rumusnya adalah matangnya membutuhkan waktu. Didorong-dorong sejak jaman Kartini, tetap saja mandek. Apakah ini semacam nasehat bahwa alam tidak pernah terburu-buru. Pohon besar butuh puluhan tahun untuk tumbuh kokoh. Begitu juga dengan transformasi budaya dan kepemimpinan.

Survey oleh McKinsey Indonesia tahun 2022 mengungkap bahwa meskipun banyak perempuan berkinerja tinggi di level middle management, tidak semua dari mereka mengincar kursi eksekutif. Banyak yang lebih memilih keseimbangan hidup, peran keluarga, atau bahkan karier yang lebih fleksibel. Artinya barangkali tidak semua perempuan harus dikejar-kejar untuk menduduki posisi puncak. Ambisi korporasi untuk mencapai gender parity di posisi eksekutif barangkali mau tidak mau mesti mempertimbangkan apa yang benar-benar diinginkan oleh para perempuan itu sendiri.

Barangkali ini adalah bagian dari perubahan besar. Perubahan budaya patriarkis di dunia kerja, perubahan persepsi tentang wilayah kerja perempuan, perubahan tentang kenyamanan perempuan dalam memiliki keluarga yang sehat; sikap yang dianut perempuan pekerja yang justru makin menguat belakangan ini.

Karena ini adalah termasuk perubahan besar, maka sejarah mengajarkan kepada kita itu tidak bisa dipaksakan lewat regulasi atau inisiatif satu-dua tahun. Ia tumbuh perlahan, seiring dengan evolusi nilai sosial, pendidikan, dan norma di masyarakat.

Dorongan untuk menciptakan ruang bagi kepemimpinan perempuan tetap penting. Tapi kita juga harus menerima bahwa tidak semua perubahan bisa dikebut seperti proyek pembangunan jalan tol. Ada fase-fase yang tidak bisa dilewati begitu saja. Mungkin termasuk kita tidak bisa melawan kehendak alam.

Dalam dunia keuangan, kita paham pentingnya irama: kapan harus agresif, kapan harus konservatif. Begitu juga dalam mendorong kesetaraan kepemimpinan perempuan. Mungkin kita perlu lebih sabar. Kita harus percaya bahwa seperti halnya proses alam, kesetaraan kepemimpinan akan datang di waktu yang tepat, saat akar-akar sosial sudah cukup kuat menopang perubahan itu.

Kepemimpinan perempuan dalam industri jasa keuangan Indonesia akan terus berkembang. Mereka bak emas yang sejatinya berkilau dan memberikan pembeda kepada sekelilingnya. Tapi jangan kita paksa melawan arus alam dan budaya. Biarkan ia tumbuh perlahan tapi pasti. Sebab perubahan yang bertahan lama adalah perubahan yang berakar kuat, bukan yang hanya dipaksakan di permukaan.

Akan tetapi kegundahan banyak pihak, terutama para pengambil kebijakan di negeri ini adalah dengan setelah semua program, target, dan komitmen termasuk kuota yang dibuat untuk menaikan jumlah pemimpin perempuan dalam korporasi, pertumbuhannya tetap perlahan, bahkan cenderung stagnan. Tahun 2000 persentase perempuan dalam posisi kepemimpinan senior sekitar 15-18%, dan 25 tahun kemudian hari ini masih dalam kisaran persentase yang sama.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi April 2025

Rp 65.000

BELI