Berawal dari kegiatan sederhana, pemrograman robot pada akhirnya akan mencapai titik di mana mereka mampu bertindak dan berpikir layaknya manusia. Namun, pemanfaatannya harus tepat sasaran dan teregulasi dengan baik.
Sumber: Statista, 2023
Robot telah hadir sejak 1950- an untuk membantu manusia dalam pekerjaan berat dan repetitif. Seiring dengan perkembangan teknologi, robot makin canggih dengan adanya robotic process automation (RPA) yang mulai digunakan secara luas sejak akhir 1990-an. RPA memungkinkan otomatisasi berbagai tugas di industri, terutama di sektor perbankan, seperti data entry, know your customer (KYC), dan pemrosesan kredit.
Pasar RPA pun terus berkembang pesat. Menurut Statista, nilai pasar RPA diprediksi mencapai US$7,01 miliar pada 2025 dan meningkat menjadi US$13,39 miliar pada 2030. Pertumbuhan ini didorong oleh manfaat efisiensi biaya dan peningkatan produktivitas yang ditawarkan RPA.
Namun, berbeda dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), RPA hanya dapat bekerja sesuai dengan program yang telah ditentukan dan tidak memiliki kemampuan belajar sendiri. Perubahan kecil dalam variabel dapat memengaruhi hasil kerja RPA. Meski demikian, RPA tetap memiliki peran penting dalam menangani tugas repetitif yang tidak bisa dilakukan AI.
Yassin Tadjoedin, Direktur Operasional Citi Indonesia, menyatakan bahwa RPA tetap relevan bagi industri perbankan karena perbedaan mendasarnya dengan AI. “Menurut saya, RPA masih akan digunakan oleh industri perbankan karena tujuannya berbeda dengan AI. Kalau AI, punya kemampuan sebagai kecerdasan buatan untuk belajar dan semakin pintar. Tapi, AI sifatnya tidak repetitif, berbeda dengan RPA. Semuanya punya manfaatnya masingmasing,” ujarnya kepada Infobank, beberapa waktu lalu.
Ke depan, RPA berpotensi untuk berkembang lebih jauh dengan integrasi AI dan machine learning (ML), memungkinkan robot tidak hanya bekerja otomatis, tetapi juga memiliki kecerdasan lebih tinggi. Dengan inovasi ini, kemampuan RPA dalam membantu pekerjaan manusia akan makin luas.
Namun, Abdy Dharma Salimin, Direktur Teknologi PermataBank, mengingatkan bahwa pemanfaatan teknologi harus diatur dengan baik agar tidak menimbulkan dampak negatif. “Teknologi hanya untuk alat. Selebihnya, hanya bagaimana kita memahami pelanggan-pelanggan kita dan tahu apa yang kita butuhkan, baru teknologinya yang bekerja. Dengan perkembangan teknologi yang baru sekarang ini, don’t start with the technology, that’s the wrong way,” tukas Abdy kepada Infobank.
Pada akhirnya, baik RPA maupun teknologi lainnya harus diarahkan untuk meningkatkan kualitas layanan dan memberikan manfaat nyata bagi pengguna.
Pasar RPA pun terus berkembang pesat. Menurut Statista, nilai pasar RPA diprediksi mencapai US$7,01 miliar pada 2025 dan meningkat menjadi US$13,39 miliar pada 2030. Pertumbuhan ini didorong oleh manfaat efisiensi biaya dan peningkatan produktivitas yang ditawarkan RPA.
Namun, berbeda dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), RPA hanya dapat bekerja sesuai dengan program yang telah ditentukan dan tidak memiliki kemampuan belajar sendiri. Perubahan kecil dalam variabel dapat memengaruhi hasil kerja RPA. Meski demikian, RPA tetap memiliki peran penting dalam menangani tugas repetitif yang tidak bisa dilakukan AI.