Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Sekali Sentuh, Transaksi Melaju

QRIS Tap NFC resmi hadir sebagai inovasi terbaru dalam ekosistem pembayaran digital di Indonesia. Dengan makin canggihnya sistem pembayaran digital, bagaimana nasib transaksi konvensional?

Oleh Mohammad Adrianto Sukarso
Santoso Liem,  Ketua Umum ASPI.

Santoso Liem, Ketua Umum ASPI.

Sejak pertama kali diperkenalkan Bank Indonesia (BI) pada 2019, Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) telah menjadi salah satu metode pembayaran digital paling populer di Indonesia. Hingga Januari 2025, volume transaksi QRIS meningkat pesat, tumbuh 170,1% secara tahunan.

Melanjutkan kesuksesan itu, BI bersama penyelenggara infrastruktur sistem pembayaran (PIP) menghadirkan inovasi baru bernama QRIS Tap NFC atau QRIS Tap. Teknologi ini memungkinkan pengguna melakukan transaksi hanya dengan mendekatkan telepon seluler (ponsel) ke perangkat pembayaran.

QRIS Tap diluncurkan pada medio Maret lalu, dengan penerapan awal di sektor transportasi. Menurut Ketua Umum Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), Santoso Liem, penggunaan QRIS Tap akan diperluas ke berbagai sektor. “Uji coba QRIS Tap telah melibatkan industri dari sisi issuer, acquirer, dan switching serta menggandeng beberapa merchant di sektor transportasi, food and beverage (F&B), groceries, dan lainnya. Secara bertahap, jumlah industri dan merchant yang terlibat akan terus diperluas,” ujar Santoso kepada Ayu Utami Saraswati dari Infobank, bulan lalu.

Meski menawarkan kemudahan baru, QRIS Tap tidak dimaksudkan untuk menggantikan metode pembayaran digital lainnya yang lebih dulu ada, seperti kartu debit, kartu kredit, atau uang elektronik (e-money). Teknologi ini justru hadir untuk melengkapi sistem pembayaran yang sudah ada.

Direktur Bisnis PT Artajasa Pembayaran Elektronis (Artajasa), Heru Perwito, menegaskan bahwa preferensi masyarakat dalam bertransaksi masih beragam. “Indonesia sebagai negara kepulauan dengan beragam suku, budaya, dan tingkat ekonomi, memiliki kebiasaan tersendiri dalam bertransaksi. Kedua metode pembayaran ini, baik kartu ATM/debit maupun QRIS, saling melengkapi karena memiliki segmennya masing-masing,” jelas Heru kepada Infobank.

Data BI menunjukkan, pada 2024, jumlah kartu debit dan kartu kredit yang beredar mencapai 344,10 juta, naik 13,38% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sementara, jumlah e-money meningkat 13,87% menjadi 922,07 juta unit. Volume dan nilai transaksi instrumen kartu serta e-money juga terus bertumbuh, menunjukkan bahwa metode pembayaran konvensional tetap memiliki tempat di masyarakat.

Tak hanya faktor preferensi pengguna, kesiapan infrastruktur pembayaran juga menjadi pertimbangan penting dalam adopsi QRIS Tap. Teknologi berbasis NFC ini membutuhkan perangkat yang kompatibel, terutama di sektor yang masih terbiasa menggunakan pembayaran berbasis kartu.

Dengan adanya QRIS Tap, Indonesia makin memperkuat ekosistem pembayaran digitalnya. Namun, perkembangan teknologi ini akan berjalan berdampingan dengan metode pembayaran lain yang sudah ada. Alih-alih menggantikan, QRIS Tap hadir sebagai pilihan baru yang menawarkan kecepatan dan kemudahan dalam transaksi bagi masyarakat.

Melanjutkan kesuksesan itu, BI bersama penyelenggara infrastruktur sistem pembayaran (PIP) menghadirkan inovasi baru bernama QRIS Tap NFC atau QRIS Tap. Teknologi ini memungkinkan pengguna melakukan transaksi hanya dengan mendekatkan telepon seluler (ponsel) ke perangkat pembayaran.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi April 2025

Rp 65.000

BELI