ANGGORO EKO CAHYO, DIREKTUR UTAMA BPJS KETENAGAKERJAAN
Ketika bergabung dengan BPJS Ketenagakerjaan, apa visi Anda untuk memperkuat organisasi?
Saat pertama kali bergabung, saya menyadari bahwa BPJS Ketenagakerjaan memiliki irisan dengan industri asuransi. Biasanya, orang melihat asuransi sebagai sesuatu yang mudah dalam pembayaran iuran, tetapi sulit dalam klaim. Selain itu, ada anggapan bahwa asuransi itu kurang transparan. Karena itu, saya bersama board of directors lainnya menetapkan visi sederhana dengan tiga kata kunci: tepercaya, berkelanjutan, dan menyejahterakan. Peserta harus merasa yakin bahwa BPJS Ketenagakerjaan aman dan dikelola dengan baik, karena mereka mengandalkan dana ini untuk masa depan.
Apa yang Anda lakukan untuk membangun kepercayaan pekerja Indonesia terhadap BPJS Ketenagakerjaan?
Pada 2021, saya berkunjung ke salah satu cabang BPJS Ketenagakerjaan, lalu bertemu peserta yang gagal klaim karena dokumen tidak lengkap. Kemudian, saya cek data. Rupanya tingkat keberhasilan klaim saat itu hanya sekitar 55%. Sebagian besar peserta pulang karena dokumen tidak lengkap.
Kami pun berdiskusi antardireksi untuk menyederhanakan dokumen klaim. Target saya, tingkat keberhasilan klaim meningkat hingga sekitar 90%. Setelah itu, kami melanjutkan dengan digitalisasi. Dengan digitalisasi, klaim bisa dilakukan melalui handphone. Tanpa perlu datang ke cabang. Program ini, yang kami sebut Jamsostek Mobile ( JMO). Klaim yang di bawah Rp10 juta dapat diproses melalui JMO. Sehingga, stigma klaim sulit pun mulai hilang. Dalam empat bulan, kami berhasil menerapkan sistem ini berkat kerja keras tim IT. Pada 2024, total klaim mencapai 4,2 juta, dengan 55% diproses digital. Selain mempermu dah akses dan meningkatkan transparan si, hasil pengembangan dana BPJS Ketenagakerjaan mencapai 6%, dua kali lipat suku bunga deposito bank peme rin tah. Semua ini membangun keper cayaan bahwa BPJS Ketenaga kerjaan aman, mudah, dan transparan serta pengembangannya jelas.
Mengenai digitalisasi, bagaimana dinamika internal dalam proses peralihannya?
Sebenarnya, dinamika ini lebih kepada bagaimana kami memulainya. Ketika saya bergabung, saya menyampaikan kepada tim bahwa tantangan besar kami adalah melindungi 100 juta pekerja, sementara saat itu peserta aktif hanya 28 juta dengan dana kelolaan Rp470 triliun. Dengan 324 cabang dan 6.000 karyawan, menambah tenaga kerja bukan solusi efisien, sehingga digitalisasi menjadi keharusan, karena era ke depan adalah era digitalisasi. Digitalisasi memungkinkan proses lebih sederhana dan efisien tanpa menambah karyawan atau cabang. Hasilnya, transaksi klaim meningkat dari 2,5 juta pada 2021 menjadi 4,2 juta pada 2024 atau naik dua kali lipat, sementara jumlah cabang dan karyawan tetap. Melalui digitalisasi, kecepatan transaksi juga meningkat, dan tingkat layanan (service level efficiency/SLE) kami makin membaik. Jadi, meskipun jumlah transaksi meningkat, jumlah karyawan dan cabang tidak bertambah, tetapi kualitas layanan justru lebih baik.
Apa rencana jangka panjang untuk pengembangan BPJS Ketenagakerjaan?
Inovasi adalah fokus utama kami, terutama melalui JMO. Ke depannya, kami akan menambahkan fitur Inclusive Job Center untuk informasi lowongan kerja. Kami juga akan memprioritaskan pendaftaran peserta sektor informal, seperti petani, nelayan, ojek online, dan pekerja kreatif.
Lalu, apa upaya lain yang dilakukan untuk menjangkau sektor informal?
Kami berkolaborasi dengan komunitas dan agen perbankan untuk mempermudah pendaftaran peserta. Kami pun punya program Agen Perisai melibatkan tokoh masyarakat yang memiliki pengaruh besar dalam sektor informal. Saya selalu menekankan bahwa BPJS Ketenagakerjaan bukan asuransi komersial, melainkan lembaga nonprofit yang memberikan perlindungan sosial.
Saat pertama kali bergabung, saya menyadari bahwa BPJS Ketenagakerjaan memiliki irisan dengan industri asuransi. Biasanya, orang melihat asuransi sebagai sesuatu yang mudah dalam pembayaran iuran, tetapi sulit dalam klaim. Selain itu, ada anggapan bahwa asuransi itu kurang transparan. Karena itu, saya bersama board of directors lainnya menetapkan visi sederhana dengan tiga kata kunci: tepercaya, berkelanjutan, dan menyejahterakan. Peserta harus merasa yakin bahwa BPJS Ketenagakerjaan aman dan dikelola dengan baik, karena mereka mengandalkan dana ini untuk masa depan.
Apa yang Anda lakukan untuk membangun kepercayaan pekerja Indonesia terhadap BPJS Ketenagakerjaan?