Di saat perbankan berhati-hati menyalurkan kredit ke UMKM, Moladin Finance Indonesia justru makin agresif memperluas pembiayaan di segmen itu. Apa jurusnya?
Mulyadi, Direktur Utama Moladin Finance Indonesia
Moladin Finance Indonesia (MOFI) mengambil langkah berani dalam pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di tengah kehati-hatian perbankan. Perusahaan pembiayaan ini makin agresif memperluas portofolio pembiayaannya, terutama dengan skema berbasis jaminan properti. Hal itu bertolak belakang dengan tren industri keuangan yang cenderung konservatif akibat meningkatnya risiko kredit di segmen itu.
Direktur Utama MOFI, Mulyadi, menyatakan bahwa UMKM merupakan segmen yang paling tahan terhadap berbagai krisis ekonomi. “Berdasarkan historikal, yang paling kuat dan bertahan dalam segala kondisi ekonomi adalah pelaku UMKM. Itu terbukti dari krisis 1998, 2008, hingga COVID-19. Kami yakin UMKM akan tetap mampu bertahan,” ujarnya kepada Infobank, bulan lalu.
Berbeda dengan perbankan yang menghindari risiko tinggi, MOFI menerapkan strategi mitigasi risiko ketat dengan pembiayaan berbasis jaminan properti. Penilaian kreditnya juga lebih fleksibel dengan mempertimbangkan tren bisnis dan prospek usaha, membuka akses bagi UMKM yang kesulitan memenuhi persyaratan perbankan.
Pada 2024, MOFI mencatatkan pertumbuhan signifikan dengan peningkatan pencairan pembiayaan sebesar 141% dibandingkan dengan tahun sebelumnya, serta pertumbuhan piutang pembiayaan sebesar 59% menjadi Rp1,7 triliun. Portofolio pembiayaan memang masih didominasi oleh pembiayaan otomotif (80%). Tapi, dalam beberapa tahun ke depan, pembiayaan UMKM diproyeksikan akan terus meningkat hingga akan seimbang dengan sektor otomotif.
Sejumlah tantangan dihadapi MOFI pada 2025 ini, termasuk ketidakpastian ekonomi, perubahan regulasi, dan persaingan yang kian ketat dengan inovasi digital. Untuk menjaga efisiensi dan mengurangi risiko, pihak perusahaan pun mengandalkan digitalisasi, termasuk pengembangan aplikasi Dealer Apps yang mempercepat proses pembiayaan diler mobil bekas. Digitalisasi untuk UMKM masih dalam tahap pengembangan. “Kami sedang mengembangkan proses digitalisasi internal untuk UMKM, mulai dari onboarding, underwriting, hingga collection,” jelas Mulyadi.
Pemanfaatan teknologi analitik dan kecerdasan buatan (AI) juga menjadi strategi utama MOFI dalam memantau performa peminjam dan mendeteksi potensi kredit bermasalah lebih dini. MOFI berusaha menggandeng berbagai mitra, termasuk bank dan institusi keuangan lainnya, guna memperluas sumber pendanaan, baik lokal maupun internasional. Selain itu, menyesuaikan skema pembiayaan dengan kebutuhan pasar.
Suku bunga tinggi pada 2024 merupakan tantangan yang perlu diperhitungkan para pemain di industri ini karena dapat memengaruhi permintaan pembiayaan. Menyikapi hal itu, MOFI menerapkan efisiensi operasional, pengelolaan biaya ketat, serta diversifikasi produk agar tetap kompetitif. “Tahun ini bukan kondisi yang ideal. Tapi, kita tetap harus tumbuh dan tumbuh dengan sehat. Strategi utama kita adalah efisiensi melalui digitalisasi dan pengembangan fitur yang sesuai kebutuhan pelanggan,” tambah Mulyadi.
Selain efisiensi biaya, MOFI tengah mengkaji kemungkinan menghadirkan skema pembiayaan UMKM tanpa agunan. Dengan strategi berbeda dari perbankan, MOFI optimistis sektor UMKM tetap menjanjikan dan diharapkan kontribusinya terhadap total portofolio meningkat menjadi 30%-40% dalam beberapa tahun ke depan.
Menurut data Biro Riset Infobank (birI), MOFI mencatat pertumbuhan keuangan yang signifikan dari 2020 hingga 2023.
Direktur Utama MOFI, Mulyadi, menyatakan bahwa UMKM merupakan segmen yang paling tahan terhadap berbagai krisis ekonomi. “Berdasarkan historikal, yang paling kuat dan bertahan dalam segala kondisi ekonomi adalah pelaku UMKM. Itu terbukti dari krisis 1998, 2008, hingga COVID-19. Kami yakin UMKM akan tetap mampu bertahan,” ujarnya kepada Infobank, bulan lalu.
Berbeda dengan perbankan yang menghindari risiko tinggi, MOFI menerapkan strategi mitigasi risiko ketat dengan pembiayaan berbasis jaminan properti. Penilaian kreditnya juga lebih fleksibel dengan mempertimbangkan tren bisnis dan prospek usaha, membuka akses bagi UMKM yang kesulitan memenuhi persyaratan perbankan.