Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Energi Dari Cahaya Tanpa Batas

Pria ini memikul nama “Cahaya Tanpa Batas” sebagai doa dan harapan orang tuanya. Di usia muda, ia memimpin BPR Kanti yang nyaris karam. Kini, ia tengah menyiapkan generasi penerus dengan keyakinan bahwa kemenangan sejati adalah mengalahkan diri sendiri dan selalu memberi yang terbaik.

Oleh Mohammad Adrianto Sukarso
Sumber : Istimewa

Sumber : Istimewa

      sebuah nama menyimpan doa, harapan, dan perasaan yang hendak dititipkan orang tua pada sang buah hati. Mengemban nama berarti memikul cita-cita orang tua. Tak heran, bagi sebagian orang, nama menjadi tanggung jawab besar yang mesti dijaga demi mewujudkan visi ayah dan bunda.

      “Amitabha”. Dari sinilah nama Made Arya Amitaba, Direktur Utama BPR Sukawati Pancakanti (BPR Kanti), berasal. Dalam bahasa Sanskerta dan ajaran Buddha, “Amitabha” berarti Cahaya Tanpa Batas, yang menerangi seluruh penjuru alam semesta. Arti ini menginspirasi sang ayah untuk menggunakannya sebagai nama pena saat menulis di surat kabar pada era Orde Lama.

       Amitaba bercerita, ayahnya sengaja memilih nama itu untuk menarik perhatian pembaca. Nama itu pula yang akhirnya disematkan pada putranya yang lahir pada tahun 1972 itu.

      “Amitabha itu ‘kan seorang tokoh Buddha. Jadi, ketika orang baca surat kabar, ada kesan kalau penulisnya itu orang baik-baik, dan mau membaca isi beritanya. Karena, itulah kesan pertama dari Amitabha,” ungkapnya kepada Infobank, dalam pertemuan di sebuah kafe di Jakarta, bulan lalu.

      Bagi Amitaba, nama itu memberinya semangat dan rasa percaya diri untuk mengarungi hari. Maklum, sejak belia, ia sudah dipersiapkan menjadi generasi kedua penerus BPR Kanti, melanjutkan bisnis orang tuanya. Sejak duduk di bangku SMA, pria asal Kota Seni Sukawati, Gianyar, Bali, ini berperan aktif dalam proses pendirian BPR Kanti pada 1989. Di sela-sela masa mudanya, ia menyerap ilmu perbankan langsung dari kedua orang tuanya yang menjadi pendiri BPR tersebut.

     Ia menamatkan pendidikan sarjana di Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar pada 1996. Hanya dua tahun berselang, di tengah badai krisis moneter 1997–1998 yang meluluhlantakkan sektor keuangan nasional, melalui RUPSLB ia diangkat menjadi Direktur Utama BPR Kanti. Ketika itu usianya baru 26 tahun, tetapi tanggung jawab besar sudah berada di pundaknya.

      Kala itu, kondisi BPR Kanti bisa dikatakan sangat memprihatinkan. Persentase kredit macet melonjak hingga 70%, aset merosot dari sekitar Rp800 juta menjadi Rp400 juta, dan kerugian terus membeng­kak. Tekanan eksternal akibat krisis moneter mem­buat kepercayaan masyarakat terhadap bank rural kian merosot. Banyak pegawai mengundurkan diri, meninggalkan ruang-ruang kantor yang sunyi. Tak ada yang berani menakhodai kapal yang hampir karam itu.

      “Kalau kondisi bank sudah seperti ini, siapa yang mau urus? Jadi, waktu itu, regulator dari Bank Indonesia (BI) mem­beri sebuah privilege. Mereka bilang, ‘Ya sudah, silakan kalau kamu mau jadi dirut.’ Daripada tidak ada yang mengurus BPR-nya,” kenang Amitaba.

     Minim pengalaman me­mimpin bank membuatnya sempat ragu. Namun, dengan bekal pembelajaran sejak remaja, kepercayaan diri se­bagai bankir generasi kedua, serta keyakinan bahwa BPR adalah aset komunitas, ia mulai meramu strategi penyelamatan. Bersama sembilan pegawai yang tersisa, ia menghidupkan kembali bank yang nyaris mati itu. Ia tak segan mengerjakan tugas apa pun: dari accounting, analisis kredit, pemasaran, hingga menjadi sopir. Hanya dalam waktu sembilan bulan, kerja keras itu mem­buahkan hasil, BPR Kanti kembali mencetak laba bersih.

         Tak berhenti di sana, kiprah Amitaba dalam dunia BPR meluas. Ia adalah sosok yang getol memper­juang­­kan BPR tetap berada di khitah­nya sebagai community bank, sesuai semangat kelahiran BPR melalui Pakto 88.

      Perjuangan ini diwujudkan pada 2006 saat ia turut membidani ke­lahiran Apex Bank, yang di-launching di Bank Indonesia Bali sebagai pilot project. Hingga kini, BPR Kanti men­jalankan peran penting sebagai Apex Bank, memberi bantuan modal kerja kepada BPR lain, membantu meng­atasi liquidity mismatch, mengem­bangkan produk bersama seperti Tabungan ArisanKu, serta memberi­kan pelatihan dan pendidikan capacity building. Tabungan ArisanKu yang ia gagas sudah berjalan selama 18 tahun dan kini diikuti oleh 105 BPR di seluruh Nusantara.

         Perjalanan panjang itu membawa BPR Kanti menjelma menjadi salah satu bank rural terbesar di Pulau Seribu Pura. Per Juni 2025, asetnya menembus Rp707,88 miliar. Namun, Amitaba tidak pernah mengklaim keberhasilan ini sebagai pencapaian pribadi semata. Baginya, kesuksesan adalah buah kerja sama seluruh elemen. Ia bahkan mengibaratkan para karyawannya sebagai “seniman keuangan” yang bebas menciptakan karya bernilai tinggi bagi BPR Kanti.

      “Saya menyediakan panggung bagi para bankir yang bergabung di BPR Kanti untuk mengeksplorasi dirinya dan membuat sebuah maha­karya. Karena, Bali itu identik dengan seniman. Dan, seniman itu adalah sesuatu yang dihasilkan yang bernilai tinggi,” jelasnya.

       Di luar aktivitasnya di BPR, Amitaba juga dikenal sebagai aktivis dan tokoh organisasi. Saat ini, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Kadin Bali (bidang perbankan), Ketua Alumni Resimen Mahasiswa Bali, Ketua Alumni Mahasiswa Undiknas Denpasar, Ketua Alumni SMAN Gianyar, aktif di KNPI Bali, dan menjadi Ketua Sabha Desa Adat Sukawati—posisi yang setara dengan ketua legislatif di pemerintahan adat. Dalam organisasi perbankan, ia pernah menjadi Ketua Perbarindo Kabupaten Gianyar, Ketua DPD Perbarindo Bali, serta Wakil Ketua Umum DPP Perbarindo.

         Kini, hampir tiga dasawarsa ia menavigasi kapal bernama BPR Kanti. Dunia perbankan rakyat telah ber­ubah, mulai dari perilaku nasabah, perkembangan teknologi, hingga lanskap persaingan, tapi visinya tetap sama, menjaga keper­caya­an nasabah dan memajukan BPR sebagai bank komunitas yang kokoh.

       Di lain sisi, ia juga menyadari, suatu hari tongkat estafet kepemim­pinan harus diserahkan kepada generasi muda. Oleh karena itu, ia mem­persiapkan para penerus dengan bekal nilai, kompetensi, dan semangat untuk selalu menjadi versi terbaik dari diri mereka.

    “Pesaingmu adalah dirimu sen­diri. Dan, ketika kamu ingin mengalahkan pesaingmu, maka kalahkanlah dirimu sendiri. Dengan apa? Dengan melakukan yang terbaik, mengeluarkan produk dan layanan yang berkualitas, serta selalu mengikuti perkembangan zaman,” tutup Amitaba. Kisahnya membuktikan, kekuatan sebuah nama bukan sekadar identitas, melainkan sumber energi abadi yang mengiringi setiap langkah. Doa dan harapan yang diwariskan orang tua, berpadu dengan kegigihan dan komitmen, telah menjadikan Made Arya Amitaba sebagai cahaya yang tak pernah padam di dunia perbankan rakyat.          

 

 

      “Saya menyediakan panggung bagi para bankir yang bergabung di BPR Kanti untuk mengeksplorasi dirinya dan membuat sebuah mahakarya. Karena, Bali itu identik dengan seniman. Dan, seniman itu adalah sesuatu yang dihasilkan yang bernilai tinggi.”

 

 

      “Amitabha”. Dari sinilah nama Made Arya Amitaba, Direktur Utama BPR Sukawati Pancakanti (BPR Kanti), berasal. Dalam bahasa Sanskerta dan ajaran Buddha, “Amitabha” berarti Cahaya Tanpa Batas, yang menerangi seluruh penjuru alam semesta. Arti ini menginspirasi sang ayah untuk menggunakannya sebagai nama pena saat menulis di surat kabar pada era Orde Lama.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi September 2025

Rp 65.000

BELI