Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Ini Robayanti, Sepupu Rojali dan Rohana

Penulis adalah chief economist PT Crif Lembaga Informasi Keuangan (CLIK).

Oleh Grace Dewi
Sumber : Infobank

Sumber : Infobank

       NAMA “Rojali” ramai dibicarakan orang. Rojali ini kerap kali mengunjungi pusat-­pusat belanja. Kebiasaan Rojali ini rupanya diikuti saudara dekatnya, “Rohana”. Mereka berdua suka sekali jalan-­jalan di pusat­-pusat belanja.

    Kebiasaan mereka berdua, yang kemudian diikuti saudara-­saudaranya yang lain, yang rata-­rata berawalan suku kata “Ro”, ternyata membuat gerah para tenant pusat-­pusat belanja. Rojali, yang merupakan pelesetan dari rombongan jarang beli dan Rohana, kependekan dari rombongan hanya nanya, menjadi viral dan bikin heboh jagat maya. Bahkan jadi bahan konten TikTok dan konferensi pers pemerintah. 

       Rojali dan Rohana punya banyak saudara. Kebiasaan mereka boleh dikata tidak jauh dari Rojali dan Rohana. Salah satu saudaranya yaitu “Robayanti”. Nama yang terbilang modis. “Robayanti” juga nama pelesetan, dari rombongan bayar nanti. 

       Dilihat dari namanya, sepupu Rojali dan Rohana ini seperti tipe ibu­ibu yang ramah di warung sayur. Tapi, jangan salah, Robayanti adalah wajah baru kelas menengah digital – mereka yang masih ingin tampil, belanja, dan berbagi shopping online, meski isi dompet belum tentu semanis wajah feed Instagram­nya. 

      Robayanti bukan tukang utang. Ia hanya sedang menyesuaikan gaya hidup dengan realitas cash flow. Uang belum masuk tak jadi soal, yang penting barang datang dulu. Dari kosmetik, skincare, aksesoris, hingga tiket liburan, semua bisa “dicicil santai”. 

     Fenomena Robayanti hadir di tengah paradoks data perekonomian yang makin sulit dibaca. BPS melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,12% di kuartal dua 2025, jauh di atas prediksi 30 ekonom yang memperkirakan 4,7%­4,8%. Kemenko Perekonomian melalui konferensi pers pasang badan: “Data BPS valid”. Tapi, para analis justru mengernyit. Kalau ekonomi tumbuh pesat melampaui ekspektasi, kenapa tax ratio justru turun dari 8,3% jadi 7,1% yoy (sumber: Indef, 2025). 

       Sementara itu, konsumsi rumah tangga yang harusnya jadi pendorong justru menunjukkan gejala penurunan kualitas. Maka, lahirlah Rojali, Rohana, dan kini Robayanti – simbol masyarakat yang tak berhenti belanja, tapi mencari cara­-cara baru untuk tetap survive dan eksis. 

        Data dari SLIK OJK mencatat, hingga Maret 2025 terdapat 24,56 juta akun pengguna buy now pay later (BNPL). Total outstanding BNPL tercatat sebesar Rp21,9 triliun pada Mei 2025, melonjak jadi Rp31,55 triliun hanya dalam sebulan pada Juni 2025. BNPL juga tumbuh dengan cepat, 41,9% yoy di Maret dan 30% yoy pada Juni 2025 (sumber: infobanknews.com). Pertumbuhan double digit yoy ini cukup mencengangkan jika dibandingkan dengan kredit agregat nasional yang kali ini tumbuh di kisaran 7%­8% yoy. 

     Yang menarik, menurut riset Federal Reserve Bank of Boston (2024), mayoritas pengguna BNPL adalah perempuan. Data ini diperkuat oleh Australian Youth Action Survey (2024) yang menemukan bahwa remaja perempuan lebih cenderung menggunakan BNPL untuk membeli alas kaki, kosmetik, aksesoris, dan skincare. Masyarakat muda di wilayah sosial ekonomi menengah ke bawah pun tercatat lebih aktif menggunakan BNPL dibandingkan dengan mereka yang tinggal di alamat elite. 

   Artinya apa? Robayanti bukan sekadar “konsumen impulsif”. Ia representasi perempuan muda urban yang sadar pengeluaran, tapi tetap ingin eksis. Mereka lebih suka mencicil daripada langsung tekor, karena konsumen menengah Indonesia juga sepertinya mulai mengecilkan ukuran belanjanya – efek domino dari PHK, perang dagang, dan iuran serta harga-­harga yang naik di tengah ketidakpastian pendapatan bagi kelas menengah. 

     Kontribusi BNPL tercatat 0,27% dari total kredit perbankan nasional (sumber: infobanknews.com). Memang terlihat kecil. Tapi, kita bisa lihat, pertumbuhannya eksponensial. Kalau tak disiapkan kerangka perlindungannya, Robayanti bisa jadi bom waktu. BNPL yang tanpa edukasi hanya akan menciptakan utang gaya hidup. 

    Beberapa perusahaan teknologi keuangan sudah menggunakan data alternatif – dari histori transaksi sampai durasi scroll di aplikasi – untuk menyusun algoritma kredit. Bukan slip gaji, melainkan jejak digital. Tapi, kalau underwriting hanya mengejar volume tanpa etika dan kepiawaian manajemen risiko, cepat atau lambat pihak penyedia BNPL juga akan terancam rugi. 

     Di sinilah regulator perlu “turun gunung”. Literasi keuangan harus ditingkatkan, terutama untuk generasi digital yang kadang lebih percaya pada influencer ketimbang undang-­undang. Pelaku industri keuangan juga perlu mematangkan manajemen risikonya, sehingga bisa tercipta ekosistem BNPL dengan responsible lenders dan responsible borrowers sebagai lakon utamanya. 

    Robayanti, meski bukan tokoh sinetron, adalah cermin pelaku ekonomi masa kini. Ia lahir dari kejelian industri keuangan, tumbuh di celah kebutuhan urban, dan bisa jadi pendorong konsumsi baru – asal tidak jadi ilusi pertumbuhan semu. 

      Tiga tahun ke depan akan menentukan: apakah Robayanti akan jadi kekuatan baru sektor ritel, atau justru jadi halaman kelam dalam sejarah utang digital Indonesia? 

“Bayar boleh nanti, asal bukan jadi beban nanti-­nanti.” 

       Rojali dan Rohana punya banyak saudara. Kebiasaan mereka boleh dikata tidak jauh dari Rojali dan Rohana. Salah satu saudaranya yaitu “Robayanti”. Nama yang terbilang modis. “Robayanti” juga nama pelesetan, dari rombongan bayar nanti. 

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi September 2025

Rp 65.000

BELI