Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Mempercepat Lompatan Finansial Lewat Sentuhan Digital

BPR tidak bisa lagi menghindari arus teknologi yang kian mengalir deras. Transformasi digital menjadi keniscayaan untuk menjaga eksistensi dalam persaingan yang kian ketat. Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari adopsi teknologi.

Oleh Mohammad Adrianto Sukarso
Sumber : Infobank

Sumber : Infobank

        MENJALANKAN bisnis bank perekonomian rakyat (BPR) tidaklah mudah. Banyak hal yang mesti diperhatikan, seperti dinamika lingkungan bisnis yang terus berubah, soal kebutuhan konsumen, regulasi, kehadiran para pesaing/ pelaku penyedia jasa keuangan baru, sampai dengan soal teknologi yang terus berkembang cepat. 

           Poin terakhir perlu mendapat perhatian lebih besar dari pelaku bank rural (rural bank) dalam menjalankan bisnisnya. Teknologi – dalam hal ini teknologi digital – kini sudah menjadi kebutuhan pokok bagi sebagian besar orang. Di tengah persaingan yang makin ketat, nasabah kini menjadi makin selektif dalam memilih layanan keuangan. 

       Maka dari itu, agar tetap dapat bertahan dan mengikuti persaingan, pelaku bank rural mesti menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada. Adopsi teknologi digital/digitalisasi bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan sudah menjadi kebutuhan dasar. 

       Hendry Lieviant, CEO Komunal Group, perusahaan financial technology (fintech) yang menawarkan solusi teknologi bagi BPR, meyakini bahwa teknologi dapat meningkatkan efisiensi perusahaan. Hal itu pun pada akhirnya akan berdampak pada profitabilitas “Digitalisasi membantu BPR untuk meningkatkan efisiensi operasional dan profitability. Proses di BPR sendiri masih banyak yang berjalan manual, sehingga kapasitas BPR untuk berkembang menjadi terbatas, baik dari kapasitas produktif karyawan maupun keterbatasan wilayah. Ini semua berdampak langsung ke pengembangan usaha dan profitability,” ujar Hendry kepada Infobank

 

 

      Pentingnya digitalisasi juga tecermin dalam Road Map Pengembangan dan Penguatan Industri BPR-BPRS 2024-2027 yang disusun oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Roadmap ini menjadi tindak lanjut amanat Undang­-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) yang menekankan penguatan tata kelola dan daya saing industri. 

      Apa yang tertuang dalam UU P2SK diharapkan bisa mendongkrak kinerja pelaku industri. Terlebih, jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, yang dihadapi pelaku industri BPR pada 2025 terbilang menantang. Memang berdasarkan data OJK pada Mei 2025, aset industri masih tumbuh 5,07% secara year on year (yoy) menjadi Rp204,89 triliun. Kredit dan dana pihak ketiga (DPK) juga naik tipis, masing-­masing 5,85% dan 4,48%. Dan, yang lebih menggembirakan, laba bersih mampu tumbuh 62,08% menjadi Rp1,32 triliun. 

 

 

     Kendati tak disangsikan lagi manfaat yang didapat dari digitalisasi, adopsi teknologi bagi sebagian pelaku bisnis bank rural bisa jadi dianggap sebagai hal yang memberatkan. Dibutuhkan modal yang tidak sedikit. Tidak semua BPR memiliki modal yang cukup untuk adopsi teknologi. 

    Tantangan lainnya adalah soal literasi dan inklusi nasabah BPR, yang perlu mendapat perhatian. Target pasar BPR selama ini adalah masyarakat kecil yang belum semuanya memahami/melek teknologi. Hendi Apriliyanto, Direktur Utama Holding BPR Nusantara Bona Pasogit (NBP Group), menyebut, penerapan teknologi bagi pelaku industri tidak akan membawa manfaat apapun jika para pelanggan/ nasabah BPR belum melek teknologi. 

      “Apa yang pemerintah harapkan soal penerapan teknologi di BPR ini memang baik. Tetapi, kalau sekarang ini, jika kita melihat nasabah BPR pada umumnya, mereka tidak begitu melek teknologi. Jadi, kurang pas kalau saat ini harus diterapkan,” pendapat Hendi kepada Infobank, bulan lalu. Terkait hal itu, perlu dorongan dan kerja sama dari seluruh stakeholder BPR untuk meningkatkan kesadaran nasabah bank supaya bisa lebih melek terhadap teknologi yang ada. Tentu butuh proses panjang. Namun, semua itu pada akhirnya akan terbayarkan dengan ekosistem bisnis BPR yang baru, yang lebih menjanjikan, yang sebelumnya tak pernah terbayangkan.

 

           Poin terakhir perlu mendapat perhatian lebih besar dari pelaku bank rural (rural bank) dalam menjalankan bisnisnya. Teknologi – dalam hal ini teknologi digital – kini sudah menjadi kebutuhan pokok bagi sebagian besar orang. Di tengah persaingan yang makin ketat, nasabah kini menjadi makin selektif dalam memilih layanan keuangan. 

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi September 2025

Rp 65.000

BELI