Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Menguji Ketahanan Penopang Stabilitas Bisnis Asuransi

Industri asuransi Indonesia menghadapi banyak beban risiko yang tak bisa ditanggung sendiri. Peran reasuransi menjadi kunci menjaga stabilitas. Sayang, modal dan kapasitas menghadapi risiko besar masih terbatas.

Oleh Alfi Salima Puteri
Sumber : Infobank

Sumber : Infobank

     DI balik bisnis asuransi lengkap dengan segala dinamika yang ada, terdapat fondasi penting yang jarang mendapat sorotan. Fondasi itu adalah reasuransi, sebuah instrumen yang berfungsi sebagai penopang utama ketika risiko yang dihadapi industri asuransi makin kompleks dan tak bisa ditanggung sendiri. 

    Risiko yang membayangi asuransi jiwa maupun umum terus berkembang dan makin tak terprediksi. Pandemi telah memberi pelajaran bahwa risiko bisa muncul kapan saja dan tiba-­tiba. 

     Kapasitas keuangan perusahaan asuransi primer sering kali tidak cukup menghadapi risiko sebesar dan sekompleks itu. Pada titik inilah reasuransi hadir, menjadi penguat dan sekaligus “peredam guncangan” yang menjaga agar sistem tetap terkendali dan stabil. 

     Reasuransi menyerap beban akibat akumulasi risiko besar yang sulit diprediksi, mulai dari properti industri berskala besar, infrastruktur strategis, bencana alam, hingga proteksi jiwa dan kesehatan. Tanpa peran ini, janji proteksi asuransi primer kepada masyarakat maupun dunia usaha akan rapuh. 

    Kinerja industri reasuransi nasional dalam beberapa tahun terakhir menampakkan dua wajah. Satu sisi adanya pertumbuhan pada aset dan investasi yang positif, tapi di lain sisi ada tekanan pada permodalan. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang diolah Biro Riset Infobank (birI) mencatat, total aset reasuransi meningkat dari Rp36,18 triliun pada Desember 2023 menjadi Rp38,82 triliun di Desember 2024, lalu naik lagi ke Rp40,07 triliun per Mei 2025. Investasi pun tumbuh 5,03% secara tahunan, menembus Rp21,20 triliun. 

     Namun, kondisi modal justru melemah. Pada akhir 2024, modal sendiri terkoreksi 18,41% menjadi Rp6,75 triliun, lalu kembali turun 25% ke Rp6,23 triliun per Mei 2025. Tekanan ini menunjukkan kapasitas reasuransi domestik menghadapi risiko besar masih terbatas. Meski demikian, ada sinyal positif dari sisi laba. Setelah merugi Rp419,27 miliar pada 2024, industri berhasil membalikkan keadaan dengan mencatatkan laba Rp745,85 miliar per Mei 2025. Fakta ini menandakan daya tahan industri reasuransi tetap terjaga meski modal menipis. 

    Direktur Teknik Operasi Indonesia Re, Delil Khairat, menegaskan, peran reasuransi lebih dari sekadar penyedia kapasitas. “Kami hadir dengan mendukung kapasitas penanggung, mendorong inovasi produk, serta membangun kompetensi teknis di sektor asuransi Indonesia,” ujarnya. Ia menambahkan, keberadaan reasuransi juga berkaitan dengan stabilitas sistem keuangan nasional, sebab akumulasi risiko yang terlalu besar bisa berdampak sistemis. 

     Indonesia Re menghadapi tantangan yang berbeda dari asuransi langsung. Sebagai reasuradur, mereka harus berani mengambil risiko, tetapi tetap mengedepankan kehati-­hatian. Perusahaan menerapkan perencanaan berbasis risiko, memperkuat underwriting, menetapkan batas toleransi risiko, serta membatasi otoritas penilaian risiko. Pendekatan ini membuat Indonesia Re tetap bisa masuk ke lini yang sulit, seperti asuransi pertanian, mikroasuransi, namun dengan risiko yang lebih terkendali. 

    Kendati demikian, tekanan nyata muncul pada kinerja terbaru. Hingga Juni 2025, Indonesia Re mencatat kerugian laba bersih setelah pajak Rp14,15 miliar, turun 85,83% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Pendapatan premi bruto terkoreksi 12,63% menjadi Rp2,48 triliun, meski klaim bruto ikut turun 6,12% ke Rp1,81 triliun. Angka-angka ini menunjukkan betapa ketatnya ruang gerak perusahaan di tengah keterbatasan modal. 

    Selain permodalan, masalah lain yang krusial adalah kualitas data Banyak perusahaan asuransi masih tertinggal dalam manajemen data, sehingga analisis risiko tidak maksimal. Padahal, akurasi data adalah syarat utama bagi underwriting yang sehat. Karena itu, agenda ke depan adalah memperkuat modal, membangun kapabilitas teknis, dan mempercepat transformasi digital. 

  Pandangan serupa datang dari Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure). Perusahaan ini menegaskan bahwa fungsi reasuransi bukan sekadar penyedia kapasitas, melainkan pilar strategis yang menyerap guncangan agar tidak langsung membebani asuransi primer. Direktur Operasional Tugure, Erwin Basri, menekankan, “Keberanian kami mengambil risiko selalu didukung data, analisis, dan manajemen risiko yang disiplin, bukan spekulasi.” 

   Prinsip “berani tapi terkendali” yang diterapkan Tugure terbukti efektif. Contohnya pada lini asuransi kredit yang sempat dianggap tidak menarik secara komersial. Tugure tetap masuk dengan seleksi ketat, dan hasilnya lini ini justru memberi kontribusi positif pada 2021-2023. Meskipun POJK 20/POJK.05/2023 tentang penyelenggaraan Usaha Perasuransian telah ditetapkan, khususnya pada aspek asuransi kredit, masih ada sejumlah area yang perlu diperbaiki agar portofolio ini lebih sehat dan berkesinambungan. Pada saat bersamaan, Tugure juga tetap menjaga kapasitas untuk properti dan marine hull meski tren klaim tinggi, sebagai bentuk dukungan terhadap pembangunan nasional. 

   Tugure menerapkan strategi berbeda pada tiap mitra. Di asuransi jiwa, perusahaan bersikap konservatif dalam pricing dan kepatuhan RBC karena sifat bisnis yang jangka panjang. Sementara, di asuransi umum, Tugure lebih banyak memberi edukasi, coaching, dan pendampingan teknis agar kualitas underwriting mitra makin baik. Meski begitu, resistensi tetap muncul, salah satunya terkait syarat treaty yang dinilai sebagian mitra terlalu ketat. 

   Kinerja keuangan terbaru Tugure pun mencerminkan tantangan itu. Hingga Juni 2025, premi bruto naik 6,86% menjadi Rp1,65 triliun dan pendapatan premi tumbuh 4,44% ke Rp2,10 triliun. Tapi, klaim bruto melonjak 15,27% menjadi Rp812,60 miliar, sehingga laba sebelum pajak terkoreksi 25,69% ke Rp85,57 miliar. Meski demikian, investasi tumbuh 10,18% ke Rp3,73 triliun dan aset relatif stabil di Rp6,83 triliun. 

   Sementara itu, dari sisi pengguna jasa, ketergantungan asuransi primer terhadap reasuransi sangat besar. Direktur Utama Asuransi Tri Pakarta (TRIPA), G.C. Koen Yulianto, menegaskan, “Di semua asuransi, peran reasuransi cukup besar, karena pasti nggak semua asuransi mempunyai kemampuan untuk meng­cover sendiri.” Prinsipnya sederhana: sebagian risiko ditanggung langsung oleh asuransi primer, sebagian lagi dialihkan ke reasuransi, atau dibagi lewat ko­asuransi. Dengan cara ini, kesehatan keuangan tetap terjaga tanpa mengurangi proteksi nasabah. 

   Tapi, keterbatasan kapasitas reasuransi domestik membuat strategi penempatan risiko harus lebih cermat. TRIPA membagi risiko ke dalam negeri maupun ke luar negeri. Penempatan ke reasuransi luar negeri menjadi solusi ketika kapasitas nasional tidak mencukupi. Kondisi ini menunjukkan bahwa mengandalkan satu sumber kapasitas bisa berisiko. Strategi berbagi risiko menjadi makin penting, apalagi di tengah eksposur yang makin besar. Karena itu, penguatan kapasitas reasuransi domestik menjadi kebutuhan mendesak, bukan hanya untuk mendukung perusahaan tertentu, melainkan juga untuk menjaga stabilitas industri asuransi Indonesia secara keseluruhan.

  Meski dibayangi keterbatasan modal, kualitas data, dan daya serap risiko yang masih sempit, keberadaan reasuransi nyata, menjadi peredam guncangan dan penopang stabilitas. Tanpa reasuransi, keberlanjutan proteksi bagi masyarakat dan dunia usaha akan sulit terjamin. 

 

    Risiko yang membayangi asuransi jiwa maupun umum terus berkembang dan makin tak terprediksi. Pandemi telah memberi pelajaran bahwa risiko bisa muncul kapan saja dan tiba-­tiba. 

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi September 2025

Rp 65.000

BELI