Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Momentum Baru dari Benua Biru di Tengah Gejolak Tarif Global

Indonesia tengah memanfaatkan peluang kerja sama dagang baru dengan Uni Eropa. Kerja sama ini berpotensi meningkatkan ekspor Indonesia ke pasar Eropa.

Oleh Steven Widjaja
Sumber : Istimewa

Sumber : Istimewa

             PERANG tarif yang terus memanas di kancah global telah menempatkan banyak negara dalam posisi sulit, termasuk Indonesia yang menjadi salah satu “korban” kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) era Trump. Biar begitu, seperti mendapat bantuan tak kasatmata, Indonesia kini menemukan peluang baru untuk memperluas pasar ekspor melalui kerja sama dengan Uni Eropa.

      Setelah hampir satu dekade negosiasi panjang, Indonesia dan Uni Eropa akhirnya mencapai titik terang dalam pembahasan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Penandatanganan dokumen final yang direncanakan pada September 2025 di Jakarta akan menjadi tonggak baru hubungan ekonomi kedua pihak.

        Perjanjian ini diproyeksikan mulai berlaku efektif pada 2027 setelah proses ratifikasi oleh 27 negara anggota Uni Eropa selesai. “Pemerintah menargetkan dokumen hukum IEU-CEPA rampung pada September 2025. Sedangkan, implementasi penuh direncanakan pada kuartal satu 2027,” jelas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.

      Dengan populasi 450,4 juta jiwa, Uni Eropa men­jadi mitra dagang strategis yang berpotensi meng­gantikan sebagian peran AS bagi Indonesia. IEU-CEPA membuka peluang bagi 95% produk ekspor Indonesia untuk masuk ke pasar Eropa dengan tarif impor 0%. Sejumlah komoditas unggulan, seperti minyak sawit beserta turunannya, bijih tembaga, asam lemak industri, alas kaki, tekstil dan produk tekstil, produk olahan pertanian, hingga bungkil dan residu padat, akan mendapat fasilitas bebas bea masuk.

       Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie, menggambarkan momentum ini sebagai strategi ganda yang menguntungkan. “Jadi, ini ‘sambil menyelam minum air’. Sambil menyiapkan negosiasi tarif resiprokal Trump, menyiapkan juga finalisasi IEU-CEPA,” ujarnya.

      Manfaat IEU-CEPA tak hanya terbatas pada per­dagangan barang. Kerja sama ini juga diharapkan mendorong arus foreign direct investment (FDI) dari negara-negara Uni Eropa. Pada 2023, Uni Eropa ter­catat sebagai investor asing kedelapan terbesar di Indonesia dengan nilai investasi mencapai US$2,33 miliar. Dengan implementasi penuh IEU-CEPA, potensi nilai ekspor Indonesia ke Eropa diproyeksi­kan melonjak hingga US$100 miliar dalam lima hingga 10 tahun ke depan.

      Kesepakatan ini membawa harapan baru bagi perekonomian nasional, bukan hanya dalam pening­katan nilai perdagangan dan investasi, tapi juga pada dampak riil terhadap kesejahteraan masyarakat. Jika dijalankan dengan konsisten, IEU-CEPA bisa menjadi salah satu instrumen kunci untuk memperkuat daya saing Indonesia di kancah global.

 

      Setelah hampir satu dekade negosiasi panjang, Indonesia dan Uni Eropa akhirnya mencapai titik terang dalam pembahasan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Penandatanganan dokumen final yang direncanakan pada September 2025 di Jakarta akan menjadi tonggak baru hubungan ekonomi kedua pihak.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi September 2025

Rp 65.000

BELI