Belum ada produk di keranjang belanja kamu

IGNASIUS JONAN

Tiga Bekal Pemimpin yang Berhasil

Oleh IGNASIUS JONAN
Ignasius Jonan Adalah Bankir Senior, Menteri Perhubungan 2014-2016,  dan Menteri ESDM 2016-2019.

Ignasius Jonan Adalah Bankir Senior, Menteri Perhubungan 2014-2016, dan Menteri ESDM 2016-2019.

BANYAK orang ingin menjadi pemimpin. Ada yang atas dasar motif pribadi, seperti meraih kehormatan, popularitas, prestise, dan fasilitas. Ada juga yang didorong oleh keinginan untuk melakukan perbaikan dan memberikan manfaat bagi orang banyak. Karena kekua saan, kehormatan, dan privilese selalu mengiringi seorang pemim pin, boleh saja setiap orang ingin menjadi pemimpin. Tapi, menurut saya, pemimpin adalah sebuah kedudukan yang tidak boleh menjadi keinginan. Yang harus menjadi keinginan bagi orang yang ingin menjadi pemimpin adalah dia ingin berkontribusi dan berguna bagi orang lain.

Kekuasaan dan kewenangan yang diterimanya adalah agar bagaimana visinya bisa dieksekusi oleh anak buahnya dan valuesnya bisa dipegang teguh oleh seluruh jajarannya. Begitu juga dengan privilese yang didapatkan seorang pemimpin adalah untuk menunjang dia dalam membangun reputasi, trust, dan fokus mengutamakan kepentingan organisasi atau lembaga yang dipimpinnya.

Jadi, seseorang menerima kedudukan sebagai pemimpin bukan karena kekuasaan (power), melain kan karena kesediaan dan kebera nian mengambil tanggung jawab untuk memberi manfaat bagi orang banyak. Seperti kata Seth Berkley, epidemiologis medis Amerika Serikat, CEO GAVI Alliance, dan advokat global, “Leadership is not about power, it’s about responsibility.”

Lantas, apakah keinginan baik untuk memberi manfaat bagi orang banyak bisa sertamerta membuat seseorang akan menjadi pemimpin yang berhasil?

Menurut saya, agar menjadi pemimpin yang berhasil dan bermanfaat bagi orang banyak, ada tiga bekal penting yang harus dimiliki.

Satu, memiliki talent atau bakat. Bakat adalah kelebihan yang dimiliki seseorang yang merupakan pemberian Tuhan. Bakat akan berguna apabila diasah dan ditekuni. Bakat dalam memimpin dan berwibawa, bakat untuk berbicara dalam setiap komunikasi, dan kemampuan untuk bekerja dalam melaksanakan eksekusi, itu bisa membedakan seseorang dengan orang lain.

Dua, memiliki perjalanan hidup yang menantang atau ditempa oleh banyak ujian dan cobaan. Hampir semua pemimpin hebat lahir dari krisis. Ambil contoh Soekarno atau Soeharto yang tampil menjadi pemimpin saat terjadi krisis politik dan ekonomi. Di dunia bisnis ada contoh Jack Welch yang terkenal karena keberhasilannya mengatasi krisis di General Electric atau Steve Jobs yang membangkitkan Apple dari keterpurukan hingga menjadi perusahaan paling bernilai di dunia.

Tiga, memiliki pendidikan yang baik. Perjalanan seorang pemimpin dimulai dari bagaimana dia memba ngun dirinya melalui pendidikan, baik itu di universitas maupun programprogram pendidikan yang dilaksanakan oleh perusahaan. Dari apa yang dipelajari dalam proses pendidikan, kemudian dia harus mempraktikkannya. Di sini proses pembangunan karier berjalan. Apabila dia mampu menjalani fungsinya sebagai manajer yang penuh disiplin, maka dia akan mendapatkan pengalaman yang berguna untuk menapaki jenjang menuju kepemimpinan. Tidak banyak orang yang memiliki tiga bekal di atas. Tapi, menurut saya, kalau seorang pemimpin memiliki dua dari tiga bekal tersebut dengan kombinasi apa pun, dia memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin yang berhasil dan bermanfaat bagi orang lain.

Ambil contoh Susi Pudjiastuti yang menurut saya pantas dijadikan role model. Beliau memiliki talenta untuk memimpin dan punya pengalaman hidup yang luar biasa. Meskipun pendidikannya tidak tinggi atau hanya lulusan sekolah menengah pertama (SMP), beliau mampu membangun bisnis dan menjadi salah satu business leader yang berhasil sebelum kemudian diundang menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan.

Menyimak perjalanan orang orang yang berhasil, saya bisa menyimpulkan bahwa tiga bekal di atas juga harus dibarengi dengan kerja keras. Karena talent dan pengalaman hidup yang dibalut dengan kerja keraslah yang membuat Susi Pudjiastuti berhasil. Beliau seperti pada umumnya para pemimpin yang didasari oleh keinginan untuk berhasil dan berguna untuk orang lain, pastinya akan terdorong untuk bekerja lebih keras daripada orang lain.

Artinya, tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras. Seperti kata Thomas A. Edison, “There is no substitute for hard work.” Bahkan, seseorang yang memiliki tiga bekal sekaligus, seperti talent, pengala man, dan pendidikan bagus, belum tentu bisa meraih kesuksesan kalau tidak diimbangi kerja keras. Kerja keras itu bukanlah harus bekerja 24 jam sehari. Tapi, bekerja dengan passion. Atau lebih komplet lagi seperti rumus 4E+P dari Jack Welch, yaitu memiliki energy, energizer, edge, execution, dan passion.

Kekuasaan dan kewenangan yang diterimanya adalah agar bagaimana visinya bisa dieksekusi oleh anak buahnya dan valuesnya bisa dipegang teguh oleh seluruh jajarannya. Begitu juga dengan privilese yang didapatkan seorang pemimpin adalah untuk menunjang dia dalam membangun reputasi, trust, dan fokus mengutamakan kepentingan organisasi atau lembaga yang dipimpinnya.

Jadi, seseorang menerima kedudukan sebagai pemimpin bukan karena kekuasaan (power), melain kan karena kesediaan dan kebera nian mengambil tanggung jawab untuk memberi manfaat bagi orang banyak. Seperti kata Seth Berkley, epidemiologis medis Amerika Serikat, CEO GAVI Alliance, dan advokat global, “Leadership is not about power, it’s about responsibility.”

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi September 2025

Rp 65.000

BELI