Industri keuangan syariah Indonesia terus melaju dengan pertumbuhan aset, peningkatan literasi, hingga pengakuan global yang makin kuat. Tapi, di balik itu, pangsa pasar syariah masih jauh tertinggal dari industri keuangan konvensional. Kesenjangan antara inklusi dan literasi pun masih jadi tantangan besar.
Sumber: Istimewa
INDUSTRI keuangan syariah Indonesia sedang on track. Tak hanya aset dan pangsa pasarnya yang berkembang, tingkat kesadaran masyarakat terhadap layanan keuangan ini juga makin meningkat. Kini, keuangan syariah mulai dipandang sebagai motor penting penggerak ekonomi syariah di negeri ini.
Potensi besar ekonomi syariah domestik antara lain didukung oleh sektor unggulan halal value chain. Sektor ini turut berkontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dan meningkat setiap tahunnya. Bank Indonesia (BI) mencatat sektor halal value chain tumbuh 4,0% secara tahunan dengan pangsa terhadap PDB meningkat 25,45% pada 2024 dari 24,27% di 2023.
Kontribusi dan potensi ekosistem halal ini diproyeksikan mampu mendorong kinerja pertumbuhan ekonomi syariah nasional di 2025. “Pertumbuhan ekonomi syariah nasional tahun ini diperkirakan tumbuh 4,8% hingga 5,6%,” tutur Imam Hartono, Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) BI, beberapa waktu lalu.
Menurut Imam, ekonomi syariah Indonesia memiliki potensi besar dan peran strategis, tidak hanya secara nasional, tapi juga dalam konteks global. BI menargetkan Indonesia menjadi pusat industri halal dunia dan menempati peringkat pertama dunia dalam Global Islamic Economy Indicator (GIEI) pada 2029. Saat ini, Indonesia berada di urutan ketiga, di bawah Saudi Arabia yang menduduki peringkat kedua dan Malaysia di peringkat pertama.
“Indonesia saat ini berada di peringkat ketiga dunia dalam Global Islamic Economy Indicator 2023/2024. Untuk mencapai posisi teratas di 2029, kita perlu mempercepat digitalisasi, mengembangkan e-commerce halal, meningkatkan konsumsi produk halal global yang diperkirakan mencapai US$3,1 triliun pada 2027, dan memperkuat daya saing nasional,” tambahnya.
Di lain sisi, masyarakat saat ini juga makin melek terhadap produk maupun pengetahuan tentang layanan keuangan syariah. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS) di 2025, indeks literasi keuangan nasional mencapai 66,46% dan indeks inklusi keuangan tercatat 80,51%. Sedangkan, indeks literasi keuangan syariah penduduk Indonesia mencapai 43,42% dan indeks inklusi keuangan syariah tercatat 13,41%.
Menurut Friderica Widyasari Dewi, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, meningkatnya literasi dan inklusi keuangan syariah merupakan perkembangan yang sangat menggembirakan.
Beberapa tahun lalu, literasi keuangan syariah masih berada di angka 9%, kini meningkat signifikan dan menembus angka di atas 40%. “Capaian ini merupakan fondasi penting yang perlu dioptimalkan melalui peningkatan penggunaan produk dan layanan keuangan syariah secara nyata,” ungkap Friderica, belum lama ini.
Selain itu, Friderica menambahkan, OJK secara aktif mendukung komitmen pemerintah dalam mewujudkan Asta Cita, khususnya menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia. Dukungan tersebut diwujudkan melalui berbagai program peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah yang berkelanjutan, sejalan dengan inisiatif strategis pemerintah seperti penguatan lembaga keuangan syariah, perluasan ekosistem ekonomi syariah, pengembangan pendidikan dan riset, serta optimalisasi pemanfaatan dana sosial.
Sementara, pangsa atau market share aset industri keuangan syariah terhadap total aset industri keuangan nasional (meliputi industri syariah dan konvensional) terlihat menunjukkan tren positif dalam setahun terakhir. Menurut data Biro Riset Infobank (birI), per Mei 2025, total aset perbankan syariah dan industri keuangan nonbank (IKNB) syariah tercatat Rp1.099,68 triliun atau memegang market share aset 7,19% terhadap total aset industri keuangan nasional yang sebesar Rp15.300,84 triliun. Dari total aset institusi keuangan syariah sebesar Rp1.099,68 triliun itu, perbankan syariah berkontribusi Rp942,70 triliun dan IKNB syariah Rp156,98 triliun. Market share itu juga meningkat dari Mei 2024 yang tercatat 7,05%.
Industri keuangan syariah Indonesia jelas menunjukkan tren pertumbuhan yang positif, baik dari sisi aset, market share, maupun pengakuan global. Meski begitu, masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan, terutama kesenjangan besar antara literasi dan inklusi keuangan syariah serta pangsa pasar yang masih kecil bila dibandingkan dengan industri keuangan konvensional.
Industri keuangan syariah Indonesia memiliki potensi besar untuk tumbuh lebih kuat dan menjadi pilar penting dalam perekonomian nasional. Perlu upaya bersama untuk terus memperluas kontribusinya.
Jika sinergi antara pemerintah, regulator, industri, dan masyarakat berjalan efektif, Indonesia bukan hanya bisa menjadi pemain utama dalam industri halal dan keuangan syariah global, tapi juga menjadikannya sebagai motor pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
Terkait dengan kinerja industri keuangan syariah nasional, Infobank kembali menerbitkan rating institusi keuangan syariah bertajuk “Rating 260 Institusi Keuangan Syariah Versi Infobank 2025”. Rating ini memotret kinerja industri keuangan syariah di 2024, khususnya yang diwakili industri perbankan syariah, yakni bank umum syariah (BUS), unit usaha syariah (UUS) bank umum, dan bank perekonomian rakyat syariah (BPRS); industri asuransi jiwa dan asuransi umum syariah; serta industri penjaminan syariah. Hasilnya, dari total perusahaan keuangan syariah yang dirating, sebanyak 116 perusahaan berhasil mendapat predikat “sangat bagus”.
Untuk mengakses Rating 260 institusi keuangan syariah 2025 Per Desember 2023-2024 dapat di akses melalui Majalah Infobank Edisi September 2025 : https://infobankstore.com/magazine/detail/2025/1204/infobank-edisi-september-2025
Potensi besar ekonomi syariah domestik antara lain didukung oleh sektor unggulan halal value chain. Sektor ini turut berkontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dan meningkat setiap tahunnya. Bank Indonesia (BI) mencatat sektor halal value chain tumbuh 4,0% secara tahunan dengan pangsa terhadap PDB meningkat 25,45% pada 2024 dari 24,27% di 2023.