Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Character Is More Important Than Brand

Ignasiun Jonan Adalah Bankir Senior, MenterI Perhubungan 2014-2016, dan Menteri ESDM 2016-2019.

Oleh IGNASIUS JONAN
Ignasius Jonan

Ignasius Jonan

DUNIA bisnis terus berlomba meme nangkan persaingan. Keuangan yang efektif dan operation yang efisien menjadi strategi penting bagi pelaku bisnis untuk bertahan dan tumbuh di market competition. Efisiensi di dunia bisnis menentukan kemampuan perusahaan di dunia bisnis yang makin kompetitif saat ini. Yang efisien dan agile akan lebih resilien menghadapi dinamika ekonomi dan persaingan. Namun, perusahaan juga harus melakukan inovasi dan berusaha membangun keunggulan kompetitif (competitive advantage) dan kekuatan brand sebagai diferensiasi.

Sebab, brand bisa membuat konsumen datang kembali dan membeli produk berulang kali bahkan rela menceritakannya kepada orang lain. Seperti dikatakan Steve Jobs, “If your customer buys once, you made a sale. If they come again, you built trust. If the tell others, you built a brand.”

Brand bisa menunjukkan reputasi dan karakter dari orang yang menciptakannya. Ada the story behind the man and the brand. Contohnya, Apple yang dibesarkan oleh Steve Jobs, Microsoft yang didirikan oleh Bill Gates, atau Amazon yang di baliknya ada sosok Jeff Bezos. Menurut Brand Finance, Apple bertahan sebagai brand paling bernilai di dunia sejak 2020. Diikuti brand bernilai berikutnya, seperti Microsoft, Google, Amazon, Walmart, Samsung, dan TikTok.

Banyak negara yang membangun keunggulannya kemudian menjadi sebuah brand. Ketika orang mendengar nama Jepang langsung teringat dengan masyarakatnya yang menjunjung tinggi prinsip bushido. Ketika orang mendengar nama Amerika Serikat maka langsung mengidentikkan dengan kemajuannya dalam inovasi dan teknologi. Dan, ketika orang mendengar nama Singapura akan langsung mengidentikkan dengan pelayanannya yang sangat bagus.

Negara-negara itu sangat mengandalkan resources manusia. Singapura tidak memiliki ladang minyak, tapi menjadi pusat penyulingan, perdagangan, dan logistik minyak terbesar di Asia. Negara ini mengandalkan pemerintahan yang efisien, kuat, stabil, serta kebijakan yang berorientasi pada pasar dan ramah investor. Sistem meritokrasi diterapkan secara luas dalam birokrasi dan politik yang memas tikan orang-orang berprestasi yang menduduki posisi penting.

Jadi, brand bukan sekadar tipografi, logo, dan palet warna, yang kemudian digaung gaungkan dengan berbagai cara, mulai dari kampanye iklan, promosi, hingga melibatkan pendengung (buzzer). Selalu ada the story behind the man and the brand. Di balik brand sebuah produk bahkan negaranegara maju, pun ada story para pemimpin. Amerika Serikat menyimpan kisah kepemim pinan George Washington, Thomas Jefferson, dan Benjamin Franklin. Singapura menyimpan a visionary leader seperti Lee Kuan Yew.

Sebagai penutup, brand diba ngun berdasarkan nilainilai, integritas, dan karakter yang men je laskan visi yang ingin diraih pemimpin. Bahkan, menu rut saya, karakter jauh lebih pen ting daripada brand atau reputa si, seperti apa yang dikatakan John Wooden, pemain dan pelatih basket asal Amerika Serikat (1910-2010), “Lebih peduli dengan karaktermu daripada reputasinya. Karena, karaktermu adalah siapa kamu sebenarnya, sedangkan reputasi hanya apa yang orang lain pikirkan tentangmu.”

Sama halnya dalam dunia kepemimpinan. Leadership itu bukan sekadar apa yang orang lain bicarakan tentang dia, tapi tentang apa yang diucapkan, dilakukan, dan dihasilkan. Dan, yang lebih penting lagi adalah bagaimana seorang pemimpin membangun karakternya. Sebab, seperti kata Israelmore Ayivor, seorang penulis asal Ghana, “Leadership is built on true character! You lose your leadership when you fake your character.”

Sebab, brand bisa membuat konsumen datang kembali dan membeli produk berulang kali bahkan rela menceritakannya kepada orang lain. Seperti dikatakan Steve Jobs, “If your customer buys once, you made a sale. If they come again, you built trust. If the tell others, you built a brand.”

Brand bisa menunjukkan reputasi dan karakter dari orang yang menciptakannya. Ada the story behind the man and the brand. Contohnya, Apple yang dibesarkan oleh Steve Jobs, Microsoft yang didirikan oleh Bill Gates, atau Amazon yang di baliknya ada sosok Jeff Bezos. Menurut Brand Finance, Apple bertahan sebagai brand paling bernilai di dunia sejak 2020. Diikuti brand bernilai berikutnya, seperti Microsoft, Google, Amazon, Walmart, Samsung, dan TikTok.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Oktober 2025

Rp 65.000

BELI