Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Dana Melimpah tapi Belum Merata

Era likuiditas ketat di perbankan sepertinya sudah berakhir. Penempatan dana pemerintah ditambah insentif likuiditas dari bank sentral membanjiri pasar. Tapi, distribusi likuiditas tidak merata. Masih ada bank yang likuiditasnya ketat.

Oleh Ari Astriawan
Sumber : Istimewa

Sumber : Istimewa

LIKUIDITAS perbankan yang ketat di paruh pertama 2025 tampak nya kini mulai melonggar. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) boleh jadi segera masuk ke jalur cepat. Tren pertumbuhan DPK memang kian meningkat dalam tiga bulan terakhir. Per Agustus 2025, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut DPK perbankan tumbuh 8,51% year on year (yoy), atau menjadi Rp9.386 triliun, lebih tinggi daripada 7,01% di Agustus 2024. Secara month to month (mtm) juga tercatat meningkat dari 7,00% di Juli 2025.

Dengan kredit yang tumbuh 7,56% di periode sama, loan to deposit ratio (LDR) perbankan tercatat 86,03%. Likuiditas perbankan juga makin banjir setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengguyurkan Rp200 triliun ke bankbank Himbara. Tambahan dana jumbo ini membuat LDR perbankan kembali turun menjadi 85,34% per 12 September 2025, atau terendah sepanjang 2025. Artinya, dari sisi likuiditas, makin longgar.

“Dengan likuiditas yang lebih longgar, perbankan dapat meningkatkan pembiayaan, khususnya untuk sektorsektor produktif dan prioritas nasional,” ujar Dzulfian Syafrian, Chief Economist Perbanas, kepada Infobanknews, September lalu.

Kuncuran dana itu akan memperbesar likuiditas perbankan dan berpotensi menurunkan cost of fund (biaya dana) perbankan, membuat bunga kredit lebih kompetitif, hingga mendorong penyaluran kredit ke dunia usaha. Kebijakan ini akan efektif menggerakkan sektor swasta, karena akses pembiayaan dengan pricing yang lebih murah akan semakin luas.

Insentif likuiditas juga dilakukan oleh Bank Indonesia (BI). Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, sejak awal tahun, BI sudah menebar likuiditas lebih dari Rp800 triliun, melalui tiga cara. Pertama, penurunan volume Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dari Rp916,97 triliun di awal tahun menjadi Rp716,62 triliun per 15 September 2025. Artinya, ada penurunan Rp200,35 triliun.

Kedua, BI telah membeli SBN pemerintah Rp217 triliun. Ketiga, bank sentral sudah menebar insentif likuiditas makroprudensial (KLM) Rp383,6 triliun kepada perbankan untuk kredit/pembiayaan. “Kalau ditotal, kami telah ekspansi likuiditas kurang lebih sekitar Rp800 triliun dan kemudian kami relaksasi berbagai (kebijakan). Harapannya, tentu saja perbankan kemudian menurunkan suku bunga dan menyalurkan kelebihan likuiditasnya ke sektor riil,” tegas Perry di saat rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR RI, 22 September 2025.

Adapun Nixon L.P. Napitupulu, Direktur Utama Bank Tabungan Negara (BTN), menyebut, suntikan likuiditas Rp25 triliun itu menjadi angin segar untuk memacu ekspansi kredit. “Dengan adanya tambahan likuiditas ini, masalahnya sudah selesai dan yang sudah ada di pipeline jadinya cepat diberi keputusan agar tidak pindah ke bank lain,” ujar Nixon, di Bandung, September lalu.

Sementara, Bank Jago memilih strategi sendiri dalam menjaring dana

masyarakat. Alihalih terlibat dalam perang suku bunga yang banyak dilakukan terutama oleh bankbank digital, Bank Jago justru menghindari hal itu. Ketimbang jorjoran menaikkan suku bunga simpanan, Bank Jago lebih memilih inovasi lain untuk mengajak nasabah menaruh dana di brankasnya.

“Kami percaya bahwa Bank Jago tidak akan melakukan perang suku bunga. Kami melihat bahwa perang suku bunga ini tidak sehat,” ungkap Supranoto Prajogo, Direktur Keuangan, Teknologi & Operasional Bank Jago, dalam Public Expose Live, September lalu.

Di luar itu, likuiditas yang melimpah di perbankan membawa konsekuensi logis berupa penurunan biaya dana. Tentu saja ada potensi resistensi dari deposan deposan besar, yang selama ini memiliki bargaining power untuk mendapatkan special rate dari perbankan. Boleh jadi, itu pula yang menyebabkan tingkat suku bunga simpanan belum turun signifikan. Di paruh pertama 2025 misalnya, BI sudah dua kali memangkas suku bunga acuan dengan total 50 bps. Namun, hingga Juni 2025, tingkat suku bunga deposito perbankan hanya turun sangat tipis.

Data OJK menunjukkan, tingkat suku bunga deposito 12 bulan atau lebih ada di posisi 5,06% per Juni 2025 turun tipis dari 5,14% di Desember 2024. Jika diperinci, kenaikan suku bunga sebenarnya hanya terjadi pada kelompok bank ber dasarkan modal inti (KBMI) 2, yakni dari 6,03% di akhir 2024 menjadi 6,18% di Juni 2025. Di periode sama, suku bunga simpanan di tiga kelompok lainnya mengalami penurunan tipis. KBMI 1 turun dari 5,80% menjadi 5,72% dan KBMI 3 turun dari 5,07% menjadi 5,05%. Sedangkan di KBMI 4 mengalami penurunan dari 3,71% menjadi 3,17%. Bank bank kakap di kelompok ini menguasai pangsa 52,53% dari total DPK bank umum.

Harus diakui, para deposan besar memang masih mendominasi simpanan masyarakat di perbankan Indonesia. Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan, sebanyak 54,78% total simpanan, yang mencapai Rp9.333,70 triliun per Juli 2025, disumbang oleh nasabah tiering simpanan di atas Rp5 miliar. Jumlah rekening nasabah kelompok ini hanya 0,02% dari total rekening masyarakat yang mencapai 643,89 juta. Sementara, kelompok nasabah dengan simpanan di bawah Rp100 juta, dengan jumlah pangsa rekening 98,88%, hanya berkontribusi 11,87% terhadap total nominal simpanan.

Dengan kata lain, ketimpangan atau gap antara nasabah paspasan dan nasabah kaya masih sangat lebar. Dari sisi pertumbuhan pun, nominal simpanan nasabah tajir tumbuh paling tinggi dibandingkan dengan tiering lain, yakni 9,45% di Juli 2025. Sementara, nasabah dengan simpanan di bawah Rp100 juta tumbuh 4,76%. Lalu, nasabah dengan simpanan Rp100 juta sampai dengan Rp200 juta naik 4,43%. Nasabah dengan simpanan Rp200 juta sampai dengan Rp500 juta meningkat 3,44%, dan nasabah dengan simpanan Rp500 juta sampai dengan Rp1 miliar naik 4,29%. Adapun nasabah dengan simpanan Rp1 miliar sampai dengan Rp2 miliar tumbuh 3,40%. Sedangkan, tiering simpanan Rp2 miliar sampai dengan Rp5 miliar meningkat 3,73%.

Secara umum, likuiditas perbankan boleh dibilang aman. Tapi, distribusi likuiditas tidak merata. Dengan kata lain, ada bank yang mempunyai likuiditas berlimpah, ada pula yang masih ketat. Biasanya, bank bank skala kecil hingga menengah yang masih harus berjuang keras memperebutkan dana masyarakat. Bank bank ini harus melakukan inovasi strategi pemasaran, termasuk menawarkan programprogram khusus agar nasabah tertarik menempatkan dananya. Perang bunga tinggi boleh jadi masih berlangsung di sejumlah bank.

Persaingan tidak hanya terjadi antarbank, tapi juga dengan instrumeninstrumen investasi lain yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Preferensi masyarakat dalam menempatkan dana juga mengalami pergeseran. Mereka yang lebih melek investasi bisa jadi cenderung berinvestasi di instrumen lain, misalnya surat utang, reksa dana, saham, atau bahkan aset kripto. Di lain sisi, kemampuan masyarakat menabung tengah melandai. Inflasi menyebabkan masyarakat harus mengalokasikan porsi lebih besar dari pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Pertumbuhan ekonomi yang stagnan di kisaran 5% juga membatasi kenaikan pendapatan masyarakat.

Mempertimbangkan factor-faktor tersebut, Infobank memperkirakan, pada 2026 DPK perbankan akan tumbuh lebih kuat daripada 2025, yakni di rentang 10% hingga 12%.

Dengan kredit yang tumbuh 7,56% di periode sama, loan to deposit ratio (LDR) perbankan tercatat 86,03%. Likuiditas perbankan juga makin banjir setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengguyurkan Rp200 triliun ke bankbank Himbara. Tambahan dana jumbo ini membuat LDR perbankan kembali turun menjadi 85,34% per 12 September 2025, atau terendah sepanjang 2025. Artinya, dari sisi likuiditas, makin longgar.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Oktober 2025

Rp 65.000

BELI