Belum ada produk di keranjang belanja kamu

financial & banking outlook 2026

Mencari Ruang Tumbuh Lebih Kuat

Likuiditas berlimpah ditambah penurunan suku bunga acuan diharapkan dapat mendongkrak laju kredit secara signifikan. Tapi, permintaan kredit yang belum kuat di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti menjadi tantangan utama. Optimistis saja, ada sejumlah sektor yang tetap menjanjikan untuk tumbuh.

Oleh Ari Astriawan
Sumber : Istimewa

Sumber : Istimewa

TIGA tahun terakhir, kredit perbankan selalu tumbuh double digit, di kisaran 10%-11%. Namun, penyaluran kredit mulai tersendat di 2025. Perbankan tampak kesulitan untuk memacu pertumbuhan kredit di atas 10%. Kondisi ekonomi yang tak pasti membuat demand kredit melandai. Pengusaha menahan ekspansi. Sementara, masyarakat menahan diri untuk berbelanja, karena daya beli melemah.

Di lain sisi, suku bunga kredit masih relatif tinggi, meski Bank Indonesia (BI) sudah lima kali menurunkan tingkat suku bunga acuan di tahun ini. Pada September lalu, BI memangkas suku bunga acuan 25 basis point (bps) ke level 4,75%.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, kredit perbankan masih tumbuh di atas 10% pada Januari dan Februari 2025. Setelah itu, trennya melambat. Di Maret tumbuh 9,16%, lalu turun ke 8,88% di April. Penurunan berlanjut ke level 8,43% di Mei dan 7,77% di Juni. Setelah turun ke level 7,03% pada Juli, kredit perbankan kembali naik ke level 7,56% di Agustus 2025.

Perlambatan kredit juga dibayangi potensi kenaikan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL). Per Juni 2025, NPL gross perbankan nasional tercatat di level 2,22%. Sedikit lebih baik ketimbang periode sama tahun lalu di level 2,26%. Tapi, tetap lebih tinggi dibandingkan dengan akhir 2024 yang tercatat sebesar 2,08%.

Walaupun demikian, OJK optimistis kredit perbankan masih bisa tumbuh sesuai dengan target tahun ini, di kisaran 9%-11%. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan sekaligus Anggota Dewan Komisioner OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan, perlambatan kredit yang terjadi sekarang ini bersifat cyclical, bukan pelemahan struktural jangka panjang. Optimisme itu tecermin dari Survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK (SBPO) triwulan tiga 2025, dengan Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK) di level 83.

Meskipun Dian mengakui, dalam revisi rencana bisnis bank (RBB) yang disampaikan ke OJK, sebagian besar bank menurunkan target kredit menjadi lebih konservatif. Tapi, ada juga bank yang justru lebih optimistis, merevisi target pertumbuhan kreditnya menjadi lebih tinggi.

Sementara itu, Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengungkapkan, bank sentral sudah menurunkan tingkat suku bunga acuan dan menyalurkan insentif likuiditas. Tapi, transmisi kebijakan BI tetap tergantung pada perbankan. Bank didorong menurunkan suku bunga kredit dan menyalurkan kredit ke sektor riil. Beberapa sektor perlu didorong untuk menjadi mesin penggerak roda perekonomian, misalnya kredit konsumsi, komersial, korporasi, dan UMKM.

“Kredit industri 7,88% yoy perlu kita dorong, pertanian 5,54% yoy perlu kita dorong, perdagangan 1,94% yoy juga kita perlu dorong di samping kemudian sektor sektor yang lain,” ujar Perry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, September 2025 lalu.

Menurut Perry, permintaan kredit yang tidak optimal bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Misalnya, para pelaku usaha masih wait and see, menyikapi kondisi ekonomi yang masih dibayangi ketidakpastian. Bunga kredit perbankan juga masih tinggi. Perbankan memang agak lambat dalam menurunkan suku bunga kredit. Meski BI sudah memangkas suku bunga acuan 125 bps sepanjang 2025, Perry menyebut, suku bunga kredit hanya turun 7 bps dari 9,20% di awal 2025 menjadi 9,13 di Agustus 2025.

Faktor itu juga yang bisa jadi menyebabkan besarnya porsi undisbursed loan atau fasilitas pinjaman yang belum dicairkan. Pada Agustus 2025, angkanya tembus Rp2.372,1 triliun atau setara 22,7% dari plafon kredit yang tersedia.

Berdasarkan data OJK, di paruh pertama 2025, mayoritas kredit perbankan mengalir ke industry pengolahan, yakni sebesar Rp1.237,09 triliun, atau naik 6,13% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kualitas kredit masih terjaga, dengan NPL di level 2,81%. Berikutnya, perdagangan besar dan eceran yang naik tipis 2,29% atau menjadi Rp1.217,51 triliun, dengan NPL di posisi 3,75%. Lalu, sektor pertanian dengan porsi mencapai Rp542,90 triliun, atau tumbuh 5,59%. NPL di sektor ini tercatat rendah, di posisi 1,98%. Kemudian, kredit sektor transportasi, pergudangan, dan komunikasi sebesar Rp485,92 triliun dengan NPL 0,86%. Sedangkan, sektor perantara keuangan tercatat Rp448,70 triliun dengan NPL 0,3%.

Tiga sektor usaha yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi adalah kredit lain-lain (22,40%), kredit sektor pertambangan dan penggalian (20,69%), dan kredit sektor transportasi, pergudangan, dan komunikasi (17,94%).

Langkah BI memangkas tingkat suku bunga acuan tentu disambut positif pelaku industri perbankan. Suku bunga yang rendah diharapkan bisa menekan biaya dana, sehingga perbankan bisa menawarkan kredit dengan pricing lebih kompetitif kepada debitur.

Dalam suatu kesempatan, Alexandra Askandar, Wakil Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI), mengatakan, BNI akan fokus melakukan ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif di paruh kedua 2025. “Fokus kami tetap pada sektor produktif, seperti pertanian, industri makanan dan minuman, telekomunikasi, infrastruktur, perumahan, hilirisasi energi, dan UMKM,” ujar Alexandra kepada wartawan.

Sebagai gambaran, di semester satu 2025, BNI menyalurkan kredit sebesar Rp778,7 triliun, atau tumbuh 7,11% secara tahunan. Ekspansi kredit ini juga disokong diversifikasi portofolio ke berbagai segmen. Kredit korporasi menjadi penyumbang terbesar dengan porsi Rp435,8 triliun, atau tumbuh 10,40%. Lalu, diikuti oleh kredit konsumer yang tumbuh 10,7% menjadi Rp147,0 triliun. BNI juga kini terus memperkuat penetrasi ke segmen UMKM, yang mengalami kenaikan 9,2%, atau menjadi Rp44,4 triliun.

Sementara itu, Anton Hermawan, Direktur Utama Krom Bank, mengatakan, penurunan suku bunga acuan akan menjadi stimulus positif bagi pertumbuhan kredit. Ia optimistis realisasi kredit Krom Bank akan tumbuh, khususnya di sektor produktif. Krom Bank juga masih mempunyai kemampuan besar untuk membiayai ekspansi kredit. Posisi liquidity coverage ratio (LCR) bank ini ada di level 1.463% pada Juni 2025, jauh di atas threshold minimum yang ditentukan regulator, yakni 100%.

“Terkait penyaluran kredit, kami optimistis dapat meningkatkan penyaluran kredit secara selektif dan berkualitas, dengan tetap memperhatikan prinsip kehati hatian. Sektor prioritas, seperti UMKM, konsumsi, produktif, serta pembiayaan retail, akan menjadi fokus utama,” jelas Anton kepada Infobank, bulan lalu.

Dengan mempertimbangkan bermacam dinamika dan tantangan yang ada, Infobank memproyeksikan kredit akan tumbuh moderat, di kisaran 9% 11%. Pekerjaan rumah terbesar dalam menggenjot kredit bukan dari sisi supply, melainkan demand. Dengan likuiditas berlimpah dan suku bunga yang terus melandai, perbankan tentu mempunyai tenaga besar untuk menyalurkan kredit. Tapi, demand memang sedang melambat. Ini harus menjadi concern pemerintah. Perbaikan kondisi perekonomian otomatis akan menggerakkan sektor riil. Daya beli masyarakat juga akan membaik. Dengan begitu, pengusaha tidak ragu untuk ekspansi. Permintaan akan kredit pun bakal meningkat.

 

Di lain sisi, suku bunga kredit masih relatif tinggi, meski Bank Indonesia (BI) sudah lima kali menurunkan tingkat suku bunga acuan di tahun ini. Pada September lalu, BI memangkas suku bunga acuan 25 basis point (bps) ke level 4,75%.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Oktober 2025

Rp 65.000

BELI