Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Ignasius Jonan

A Leader No Need To Be Seen

Ignasius Jonan adalah Bankir Senior, Menteri Perhubungan 2014-2016, dan Menteri ESDM 2016-2019

Oleh Ignasius Jonan
Ignasius Jonan adalah Bankir Senior, Menteri Perhubungan 2014-2016, dan Menteri ESDM 2016-2019

Ignasius Jonan adalah Bankir Senior, Menteri Perhubungan 2014-2016, dan Menteri ESDM 2016-2019

Sebelum wafat pada 21 April 2025, Paus Fransiskus (Pope Francis) sempat mengun jungi Indonesia pada 3-6 September 2024. Saya sangat bersyukur saat itu mendapatkan kepercayaan untuk menjadi Ketua Panitia Kedatangan Paus Gereja Katolik ke266. Sebagai ketua panitia, saya memiliki kesempatan berbincang langsung dengannya. Bahkan, kalau saya mau tampil juga bisa saja berada dalam panggung Pope Francis bersama para tokoh besar nasional, apalagi mereka mengenal saya.

Namun, saya tidak mau mencuri panggung itu, baik untuk kepentingan saya atau kepentingan siapa pun. Saat saya ditugaskan menjadi ketua panitia, yang terpikir adalah bahwa ini panggungnya Sri Paus bersama tokohtokoh yang dikunjunginya. Tugas saya adalah mengamankan panggung tersebut supaya bisa berjalan lancar, tertib, dan semua orang senang.

Saya merasa bertanggung jawab untuk melaksanakan tugas sebaik baiknya tanpa mengharapkan pamrih yang tidak pantas. Kalau saya mencuri panggung, bisa saja. Tapi, buat saya, itu soal moralitas pemimpin. Moralitas tugas.

Dari pengalaman tersebut, setidaknya ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik. Satu, tidak harus selalu terlihat saat bekerja. Begitu juga dalam kepemimpinan. A leader no need to be seen. Memimpin itu soal tanggung jawab dan bagaimana menciptakan hasil. Bukan supaya dilihat orang dan menjadi terkenal. Being a leader is not about power, popularity nor glory but being a leader is a responsibility in carrying out the tasks given during office.

Dua, bekerja dengan baik, jangan mencari pamrih dan penghormatan. Dalam kepemim pinan, pemimpin harus memiliki leadership. Semua orang boleh saja mengatakan dirinya sebagai bos dengan status, gaji, dan jabatan yang disandangnya, tapi belum tentu ada rasa hormat dari timnya, apalagi ingin menjadi seperti dirinya.

Maka, setiap pemimpin umum nya diikuti dengan kekaguman dan rasa hormat. Tapi, janganlah pemimpin melakukan sesuatu dan menunjukkannya kepada orang lain untuk mendapatkan kehormatan itu. Biarkan respek dan kehormatan itu datang dengan sendirinya karena apa yang dilakukan seorang pemimpin didasari ketulusan (sincerity) dan integritas yang hasilnya dinikmati banyak orang.

Tiga, tidak ingin mengutamakan kepentingan pribadi. Seseorang yang mendapatkan tugas kepemimpinan harus menerima itu sebagai amanah untuk kepentingan orang banyak, bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya.

Ketika saya diminta memimpin Kereta Api Indonesia (KAI) pada 2009, saya merasa itu bukan hadiah, tapi amanah yang untuk menjalankannya penuh dengan pengorbanan. Tujuannya cuma satu, agar KAI menjadi berguna bagi masyarakat luas dengan pelayanannya yang lebih manusiawi, modern, dan nyaman.

Begitu juga ketika saya diminta menjadi Menteri Perhubungan, yang kemudian diberhentikan dan diangkat lagi menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Saya tidak memiliki kepentingan pribadi, selain memberi kontribusi untuk kepentingan bangsa.

Empat, tidak ingin memimpin terus-menerus. Esensi kepemimpinan adalah bagaimana melahirkan pemimpinpemimpin baru yang lebih hebat. Ketika memimpin organisasi, saya mengukur orang yang memiliki motivasi dan jiwa kepemimpinan itu bukan bagaimana dia pandai berbicara bahasa Inggris atau berpenampilan serbawah.

Saya sering mengatakan, gunakan orang yang sesuai dan memiliki etos kerja luar biasa. Suksesi kepemimpinan harus bisa memperkuat organisasi supaya makin tahan terhadap perubahan zaman, menciptakan pertumbuhan yang sehat dan stabil, serta mengikuti perubahan regulasi, termasuk tentang perubahan iklim dan pemanasan global.

Empat pelajaran tersebut juga menjadi faktor kebahagiaan seorang pemimpin. Seorang pemimpin adalah ketika apa yang dikerjakan bermanfaat bagi banyak orang. Hingga saat ini, banyak orang mengenal saya sebagai tokoh di balik transformasi KAI. Tapi, pada saat pertama saya ditugaskan memimpin KAI pada 2009, sama sekali saya tidak memiliki keinginan untuk dikenal dan menjadi populer.

Begitu juga respek dan kehormatan. Janganlah seorang pemimpin melakukan sesuatu dan menunjukkannya kepada orang lain untuk mendapatkan respek dan kehormatan. Biarkan respek dan kehormatan itu datang dengan sendirinya karena apa yang dilakukan seorang pemimpin yang ingin berhasil harus didasari ketulusan (sincer ity) dan integritas yang hasilnya dinikmati banyak orang.

Namun, saya tidak mau mencuri panggung itu, baik untuk kepentingan saya atau kepentingan siapa pun. Saat saya ditugaskan menjadi ketua panitia, yang terpikir adalah bahwa ini panggungnya Sri Paus bersama tokohtokoh yang dikunjunginya. Tugas saya adalah mengamankan panggung tersebut supaya bisa berjalan lancar, tertib, dan semua orang senang.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi November 2025

Rp 65.000

BELI