Belum ada produk di keranjang belanja kamu

BPR Tak Kalah Dengan Bank Umum

Mimpi besarnya membawa BPR ke level yang mampu bersaing dengan bank umum. Lambat laun, kerja keras dan ketekunannya mengantarkan BPR-BPR NBP Grup ke level yang lebih tinggi dari sebelumnya

Oleh Adrianto Sukarso

 Ruangan tempat bekerja Hendi Apriliyanto, Direktur Utama Holding PT Nusantara Bona Pasogit (NBP), terasa sejuk dan nyaman. Beragam model kapal laut dan pesawat terbang terpajang di lemari serta meja kerjanya, menjadi pemandangan khas di kantor pusat holding BPR NBP Grup yang terletak di kawasan Cawang, Jakarta Timur.

Di hari-hari biasa, Hendi menghabiskan waktunya memantau kinerja bank sambil membuka peluang bisnis baru. Tugas yang tak mudah, mengingat NBP merupakan holding dari 28 BPR yang beroperasi di Sumatra Utara, Riau, Jawa Barat, dan Banten. Tapi, semua itu dijalaninya dengan tekun karena memegang satu misi penting: membuktikan bahwa BPR tidak kalah hebat dengan bank umum.

Pria asal Semarang ini berkali-kali menjadi saksi dari minimnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap BPR. Sampai-sampai, Hendi selalu mengingatkan rekan-rekannya yang berkecimpung di industri BPR untuk selalu wawas diri dan tetap menapak tanah. Karena, harus diakui, BPR masih terbilang kurang populer dibandingkan dengan bank-bank umum.

“Sebenarnya, saya ingin menunjukkan bahwa banyak generasi milenial yang kurang mengenal apa itu BPR. Makanya, atas dasar itu, saya bilang ke teman-teman BPR, kalian tuh belum dikenal milenial. Jadi, kalian jangan geer. Sehingga, mau tidak mau, kita harus jualan dan memperkenalkan BPR,” ujar Hendi saat ditemui Infobank.

Apa yang disampaikan Hendi itu bukan tanpa sebab. Ia paham betul dunia perbankan. Puluhan tahun sudah ia berkarier di industri ini. Hendi tercatat pernah berlabuh di sejumlah bank ternama, seperti Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Internasional Indonesia (BII) yang kini menjadi Maybank Indonesia, dan Bank Syariah Mandiri (BSM) yang kini menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI).

Pengabdian Hendi di BII bahkan sampai 16 tahun lamanya. Meski menghabiskan waktu yang lama di bank umum, hatinya justru terpikat dengan BPR, yang notabene skalanya jauh lebih kecil. Menurut Hendi, bank rural memiliki keunikan tersendiri.

Secara bisnis, konsepnya tak beda jauh dengan bank umum: menghimpun dana atau menyalurkan kredit. Tapi, BPR memiliki senjata unik yang bisa menjaga persaingan dengan bank umum: pemahaman terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sederhana, tapi satu hal ini membuat Hendi mantap untuk melanjutkan profesinya sebagai bankir mikro.

“Banyak dari mereka seolah-olah memandang remeh BPR. Padahal, sebenarnya ada beberapa hal yang menarik dari BPR. Di antaranya, kita bisa tahu lebih jauh mengenai kehadiran satu bank dan pengembangan di UMKM-nya. Itu sangat menarik,” ungkap Hendi.

Dari ribuan BPR-BPRS di Indonesia, Hendi memilih NBP sebagai persinggahan baru di dunia perbankan mikro. Pertemuannya dengan NBP diawali pada 2016, ketika Hendi sedang vakum dari dunia perbankan dan tengah berkecimpung di bidang akuntansi sebagai pengurus Himpunan Kurator dan Pengurus Indonesia (HKPI).

Pengalaman Hendi di industri perbankan menjadi salah satu alasan pemegang saham NBP yakin memilih pria lulusan Jurusan Akuntansi Universitas Diponegoro (Undip) ini sebagai bagian dari mereka. Alih-alih menjadi direksi, Hendi terlebih dahulu diminta menjadi Komisaris NBP. Ia diberi amanah untuk memberikan saran dan arahan kebijakan untuk bank rural yang berdiri pada 1989 ini.

Pada 2019, barulah Hendi terpilih sebagai nakhoda holding NBP. Sebagai sosok tertinggi di BPR NBP Grup, Hendi memiliki atensi terhadap detail yang baik dan menyeluruh. Salah satunya, gedung tempat NBP beroperasi, yang dibeli perusahaan dan bukan sewa. Hendi menyulap gedung tersebut sedemikian rupa untuk memberikan layanan terbaik kepada nasabah, sekaligus memikat hati mereka.

“Saya membangun NBP dengan tampilan yang megah. Dari situ, kami mau menunjukkan ke masyarakat bahwa kami tidak kalah dengan bank umum. Kemewahan yang kami tunjukkan ke masyarakat ini adalah yang dimiliki sendiri. Kelemahan menyewa kantor itu adalah kami tidak bisa membangun bank yang mewah sesuai keinginan,” ungkapnya.

Tak hanya soal bangunan, pria yang gemar mengoleksi topi dari berbagai daerah ini juga memperhatikan aspek manajemen dan tata kelola yang baik. Hendi menciptakan lingkungan yang inklusif bagi karyawan dari berbagai latar belakang, dibumbui dengan kompetisi sehat dan terstruktur, untuk memacu pertumbuhan perusahaan yang berkelanjutan.

Dan, seperti BPR pada umumnya, Hendi mengarahkan NBP untuk konsisten menyalurkan kredit ke sektor UMKM, yang notabene merupakan “taman bermain” bagi pelaku industri bank rural. Hasilnya, 28 BPR milik NBP sudah menghasilkan aset Rp2 triliun pada semester pertama 2025, konsisten bertumbuh dari angka Rp1,3 triliun saat ia pertama kali bergabung.

Di usia Hendi yang kini hampir mendekati kepala enam, bisa saja ia memikirkan waktu untuk memasuki masa pensiun. Namun, Hendi merasa misinya masih jauh dari kata usai. BPR-BPR yang ia pimpin masih harus membuktikan kelayakan bersaing dengan bank umum.

Ke depan, BPR-BPR NBP sendiri juga memiliki target sebagai salah satu bank rural dengan aset terbesar di Indonesia. Jalannya terjal dan penuh rintangan, tapi Hendi beserta timnya sudah mempersiapkan peta jalan supaya NBP bisa mencapai garis finis sesuai dengan harapan.

“Saya ingin kemajuan BPR-BPR NBP ini sama dengan yang terjadi pada BPR-BPR lain yang lebih besar. Saya ingin sampai ke sana. Makanya, saya selalu mengejar kenaikan aset. Jadi, inilah yang selalu saya usahakan untuk diwujudkan,” pungkas Hendi.

Bagi sebagian orang, membawa sebuah BPR bisa bersaing dengan bank umum merupakan sesuatu yang sangat menantang. Tapi, berbekal pemahaman akan industri dan strategi yang tepat, Hendi menunjukkan bahwa kualitas bank rural bisa setara dengan bank umum, bahkan lebih baik di beberapa aspek.

 

Di hari-hari biasa, Hendi menghabiskan waktunya memantau kinerja bank sambil membuka peluang bisnis baru. Tugas yang tak mudah, mengingat NBP merupakan holding dari 28 BPR yang beroperasi di Sumatra Utara, Riau, Jawa Barat, dan Banten. Tapi, semua itu dijalaninya dengan tekun karena memegang satu misi penting: membuktikan bahwa BPR tidak kalah hebat dengan bank umum.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi November 2025

Rp 65.000

BELI