Keris bukan senjata tajam biasa. Ada yang bertuah. Keris berbahan “batu dari surga” dan ditempa tangan sakti seorang mpu, yang karena doa dan laku spiritualnya, menjadikan keris yang dibuatnya menjadi sangat istimewa. Seperti keris milik Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan anggota BPK Fathan Subchi.
Presiden Prabowo Subianto; keris Pasopati
KERIS adalah senjata tajam mematikan yang dihormati. Karena begitu istimewanya, keris juga disebut sebagai tosan aji. Tosan berarti besi. Aji berarti bernilai. Rasa hormat kepada tosan aji sebagai simbol kekuasaan dan kebijaksanaan para pemimpin pun berkembang sejak dahulu sampai sekarang.
Bahkan, para wali yang menyebarkan agama Islam ke Nusantara pun memiliki keris. Begitu juga para sultan. Misalnya, Jaka Tingkir yang mewarisi keris Kiai Sengkelat dan Kiai Carubuk dari Sunan Kalijaga. Selama Perang Jawa pada 1825-1830, Belanda kocar-kacir melawan Pangeran Diponegoro yang mengenakan keris bernama Kiai Ageng Bondoyudo sebagai jimat hasil peleburan cundrik Kiai Sarutomo, lembing Kiai Barutubo, dan keris Kiai Abijoyo.
Para pemimpin di negeri ini pun banyak yang memiliki keris. Contohnya presiden pertama, Soekarno. Selain memiliki tongkat komando yang konon jika diletakkan di atas air bisa menyerupai ular yang berenang, Presiden Soekarno memiliki keris pusaka peninggalan Raja Singasari pada Perang Puputan, Bali.
Presiden kedua, Soeharto, memiliki keris Tilam Upih dan keris Keluk Kemukus yang konon bisa membuat pemiliknya menghilang. Presiden keenam, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), bahkan menyimpan keris yang konon berasal dari jelmaan sejumlah ular kobra kecil yang tiba-tiba masuk ke dalam kediamannya di Cikeas.
Presiden ketiga, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, tak ketinggalan memiliki sejumlah keris ampuh dari dinasti Majapahit-Demak yaitu Nogososro dan Sabuk Inten, dua pusaka yang dianggap bisa memberi pamor atau wibawa besar bagi pemiliknya. Demikian juga presiden ketujuh, Joko Widodo (Jokowi), yang memiliki keris di antaranya Kiai Tengara yang kemudian dihibahkan ke Museum Keris Nusantara di Kota Solo, yang berlokasi di Jalan Bhayangkara.
Presiden Prabowo Subianto juga diketahui memiliki keris, yaitu Kiai Garudayaksa dan Dhapur Pasopati yang dikaitkan dengan Kerajaan Majapahit. “Keris Pasopati dikenal sebagai pusaka seorang kesatria pilih tanding. Dia menjadi simbol kemenangan dharma melawan adharma dalam diri dan alam semesta. Keris ini sangat diminati dan banyak dicari para kolektor,” ujar seorang ahli perkerisan, KRT Sulistyo Budi Mulyono, kepada Infobank, September lalu.
Tak hanya presiden, sejumlah kalangan pun menggemari keris karena bentuknya yang indah. Terutama kolektor dan pejabat. Salah satunya Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan. Purbaya memiliki koleksi hingga 300 buah keris “keramat”. Ada keris Singobarong, Kiai Carubuk, Segoro Bening, Kolomunyeng, hingga Nogososro dan Sabuk Inten.
Mantan Ketua Dewan Komisio ner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ini mengagumi kemampuan para mpu dalam menempa batu meteor sebagai bahan utama pembuatan keris pada zaman dulu. “Ini bukan magic atau mistis, tapi karena keahlian orang yang membuatnya, karena keseim bangan dan perhitungan matang. Dan, saya menyukai ini karena bentuknya yang indah dan punya karakter,” ujar Purbaya kepada Infobank, medio September lalu.
Petinggi lain yang diketahui memiliki keris adalah Fathan Subchi, Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). “Keris itu bentuk nya indah, khas, dan berkarakter. Di sana ada budaya dan filsafat, dan ada jejak sejarah perkem bangan teknologi persenjataan,” ujar Fathan sambil menghunus sebilah keris miliknya dengan Dhapur Pandawa Cinarita kepada Infobank, September lalu.
Menurutnya, teknologi persenjataan selalu berkembang. “Keris meraih puncak kejayaan di medan perang pada zaman Majapahit, dan mulai bergeser fungsinya setelah Kerajaan Demak mengembangkan teknologi senjata api berupa meriam,” imbuh Fathan.
Beberapa eksekutif di sektor jasa keuangan juga diketahui memiliki keris bertuah. Misalnya, A. Widodo Mulyono, Direktur Bank Central Asia (BCA), yang mengaku memiliki keris “pusaka” pening galan leluhur. “Keris saya Kiai Joko Pituruh. Ini saya simpan dan saya rawat sebagai peninggalan dari leluhur,” ujar Widodo kepada Infobank pada suatu ketika.
Jemmy Atmadja, Direktur Utama Maximus Insurance, juga mengaku memiliki beberapa koleksi keris. “Bagi saya, keris ini benda koleksi yang bagus sekali kalau dipajang. Bentuknya khas. Dan, kalau ada orang melihat, ini benda yang mengandung mistis. Ya mungkin ini berasal dari seorang mpu yang saat membuatnya dengan doa dan laku spiritual,” ujar Jemmy sambil menunjukkan salah satu keris kesayangannya, keris Sempono Bungkem, Oktober lalu.
Hari Purnomo, Direktur Utama Jamkrindo Syariah, tak hanya memiliki keris tapi juga ada cerita menarik saat bagaimana menda patkannya. “Ini keris Jangkung Mangkurat, luk tiga, kodam di dalamnya mengenalkan diri dengan nama Sekar Ayu. Saya mendapatkannya di Alas Purwo, Banyuwangi,” ujarnya kepada Infobank. Konon, Alas Purwo adalah hutan paling angker di Jawa karena menjadi pintu gerbang menuju alam gaib dan dihuni banyak makhluk halus.
Kisah bagaimana Hari Purnomo mendapatkan sebilah keris dari dunia lain menunjukkan adanya keris-keris wingit dan bukan senjata biasa. Di balik sebilah keris dan warangkanya, ada cerita tentang keberadaan energi hidup dan hubungan manusia dengan zat hidup yang tak kasatmata, yang semuanya berasal dari Sang Maha Hidup.
Apalagi, keris bertuah, yang ber bahan “batu dari surga” lalu ditempa oleh tangan “sakti” seorang mpu, yang karena doa dan laku spiritualnya, lalu energi atau ke kuatan gaib sang mpu pun masuk ke dalam sebilah keris yang dibuatnya.