PENULIS ADALAH BUDAYAWAN
KITA telah mengalami dua model di negara ini soal kepemimpinan. Satu, solidarity maker, seperti Bung Karno di awal merdeka sampai merdeka dengan pidato-pidatonya yang mampu menggelorakan semangat merdeka hingga menggalang persatuan massa untuk merdeka.
Dua, model administrator, pengatur organisasi dengan teliti seperti Bung Hatta yang mendampingi Bung Karno hingga 1957 sebagai “dwi tunggal” yang saling melengkapi. Contoh model itu terpatri di sejarah kita, yang kini ditambah dengan keren oleh jargon profesionalisme yang berarti “the right man/women in the right profession of place”. Tetapi, bukan hanya itu yang pokok. Yang penting lagi adalah hati yang tulus melayani. Artinya, melayani sesama (baca: anak buah) dengan hati yang bukan bertipe bos atau tuan.
Ada yang bilang bahwa mengatur yang baik adalah mendelegasikan. Tetapi, bila pendelegasian cuma berarti memberikan perintah ke bawahan, cepat atau lambat munculnya tetap “tukang perintah” atau “tukang suruh” alias dari atas ke bawah saja. Maka, dituntut dari bawah ke atas, profesional tulus melayani, mengabdi, mau menggerakkan dari bawah sehingga semangat korps dirasakan bukan sebagai perintah, tetapi sapa manusiawi dengan tulus hati hingga semua merasa memiliki (baca: bertanggung jawab di bidangnya). Sehingga, bila rapat bersama, yang disodorkan bukan laporan asal bapak senang (ABS), tetapi
|
Ketika zaman makin maju, manajemen makin teratur dan bisa diatur dalam pertanggungjawaban masing-masing, yang tetap menjadi dasarnya adalah hati tulus mengabdi. Inilah kuncinya. Anda mau dibayar dengan tinggi, tetapi tak bertanggung jawab, sia-sialah korporatisme. |
pertanggungjawaban demi majunya korporatisme. Bila proses itu terjadi, korporatisme akan tidak hanya mengakarkan “sense of belongings”, tetapi “proud of to be member of the corp” yang sama-sama menanggungjawabi korporasi untuk kepentingan dan tujuan korporasi.
Di mana fungsi visi dan misi? Tak hanya slogan, tetapi semua korporatisme tahu tujuan misi yang mau diarah dan sarana-sarana mana untuk itu. Ketika zaman makin maju, manajemen makin teratur dan bisa diatur dalam pertanggungjawaban masing-masing, yang tetap menjadi dasarnya adalah hati tulus mengabdi. Inilah kuncinya. Anda mau dibayar dengan tinggi, tetapi tak bertanggung jawab, sia-sialah korporatisme.
Ketika dulu pendidikan pemimpin bersumber pada “single fighter”: “lone stranger”, bekerja dan maju sendiri bisa survive! Tetapi, zaman berganti menjadi kolaborasi, kerja sama, dan berjejaring. Bisakah kolaborasi makin dihayati dalam CEO zaman now? Tetapi, dasarnya dasar adalah tetap ketulusan hati melayani itu.
Dua, model administrator, pengatur organisasi dengan teliti seperti Bung Hatta yang mendampingi Bung Karno hingga 1957 sebagai “dwi tunggal” yang saling melengkapi. Contoh model itu terpatri di sejarah kita, yang kini ditambah dengan keren oleh jargon profesionalisme yang berarti “the right man/women in the right profession of place”. Tetapi, bukan hanya itu yang pokok. Yang penting lagi adalah hati yang tulus melayani. Artinya, melayani sesama (baca: anak buah) dengan hati yang bukan bertipe bos atau tuan.