Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Workingforce 5.0

Oleh Krisna Wijaya
Penulis adalah honorable Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan indonesia (LPPI)

Penulis adalah honorable Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan indonesia (LPPI)

              Dalam setiap bahasan terkait dengan inovasi informasi dan teknologi (information technology/ IT), selalu diceritakan semacam perjalanan era industri yang dimulai dengan Industri 1.0 sampai dengan Industri 4.0. Era industrialisasi diawali ketika ditemukan ketel uap oleh Thomas Safari pada 1650. Kehadiran ketel uap memberikan manfaat untuk menggerakkan turbin, pemanasan, sanitasi, pengeringan, dan dalam proses industri lainnya. Tentu lebih banyak manfaatnya jika dibandingkan dengan tanpa menggunakan ketel uap.

                Era Industri 2.0 dilatarbelakangi temuan listrik oleh Michael Faraday pada 1934, lalu disusul dengan kehadiran komputer oleh Jack Kilby pada 1946, yang kemudian dikenal sebagai awal Industri 3.0. Kehadiran komputer tentunya banyak memberikan manfaat, antara lain automasi dan elektronisasi seluruh proses pro duksi untuk meningkatkan akurasi dan kualitas. Komputer juga mampu mempercepat proses, komunikasi, sehingga pekerjaan makin efektif dan cepat.

            Kreativitas dan inovasi tidak pernah berhenti sebagai perlambang bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang cerdas. Wajar kalau pada akhirnya Leonard Kleinrock menemukan internet pada 1969, yang dinobatkan sebagai era Industri 4.0. Kehadiran komputer dapat menghubungkan miliaran perangkat di seluruh dunia sehingga memungkinkan pertukaran informasi dan komunikasi secara instan. Andai saja tidak ada komputer, dapat dibayangkan betapa rumitnya kehidupan, apalagi bisnis.

             Kehadiran era Industri 1.0 hingga Industri 4.0 tentunya tidak ada yang meragukan manfaatnya. Dalam praktiknya, bisa saja manfaat yang tidak baik juga hadir dalam bentuk penyalahgunaan, terutama untuk kegiatan kejahatan. Saat ini, baik masyarakat maupun pelaku bisnis dan korporasi justru mendapatkan kesibukan baru karena selalu saja ada pihak yang menyalahgunakannya.

        Namun, kita tidak bisa menyimpulkan bahwa manusia tak diperlukan lagi untuk melakukan inovasi. Banyak yang mengatakan tetap lebih banyak manusia yang beriktikad baik dibandingkan dengan yang beriktikad jelek.

           Pertanyaannya, apakah akan ada era Industri 5.0? Sejak kehadiran komputer pada 1969, hingga saat ini belum pernah ada yang menyatakan kapan era Industri 5.0 hadir. Bisa saja dianggap serialnya selesai sehingga tidak diperlukan lagi serial lanjutan. Bisa juga, dengan kemajuan IT yang masif, para pihak masih belum yakin inovasi mana yang layak diberi label Industri 5.0. Anggap saja seperti serial sinetron yang tiba-tiba tidak lanjut dengan berbagai alasan.

          Ketika kekosongan serial industri lama tidak berlanjut, hadir semacam ajakan untuk membuat serial baru dengan sebutan Workingforce 5.0. Menurut Mbah Google dan artificial intelligence (AI), tidak ada satu orang pun yang diakui sebagai pelopor Workingforce 5.0 karena konsepnya masih terus berkembang dan dibangun berdasarkan prinsip prinsip Industri 5.0. Namun, Henry Ford sering mengaitkannya dengan pelopor konsep-konsep dasar tenaga kerja, seperti lima hari kerja seminggu yang dilakukan sejak awal 1900-an.

          Secara definisi, menurut hasil rangkuman dari berbagai jurnal, Workingforce 5.0 diartikan sebagai era hubungan simbiosis di mana manusia dan mesin pintar berkolaborasi, menggunakan teknologi untuk meningkatkan kemampuan manusia (lihat Vitrano G. and Micheli G.J.L., Rethinking Work in Industry 5.0: Leveraging Technology for an Ageing Workforce. Public Health Challenges 4, No. 3, 2025).

          Menurut Vitrano G. dan Micheli, ada beberapa hal penting untuk diketahui dan dipahami lebih lanjut. Satu, dalam konteks sosial, di mana tempat kerja yang berpusat pada manusia, sangat penting adanya fungsi sosial kerja sama dan kolaborasi serta menghubungkan tingkat tempat kerja, organisasi, industri, dan masyarakat. Untuk itu, dibutuhkan perubahan, bukan hanya pengetahuan dan keterampilan.

          Karena itu, pekerja tidak sekadar membutuhkan keterampilan teknis tingkat lanjut, tetapi yang lebih penting adalah meningkatkan kemampuan untuk lebih cepat beradaptasi, berkomunikasi, bekerja sama dalam tim, dan berpikir kritis. Menurut hemat saya, ini bukan sesuatu yang sama sekali baru. Menjadi kebaruan apabila para pemberi kerja sadar bahwa peningkatan keterampilan adalah kebutuhan yang mutlak. Mungkin saja sudah dilakukan, tetapi belum maksimal.

          Dua, makin pesatnya perubahan IT mengharuskan karyawan untuk terus mempersiapkan diri dalam pelatihan dan peningkatan keterampilan. Sangat wajar jika perusahaan perlu lebih banyak berinvestasi dalam pelatihan dan pengembangan demi mempersiapkan pekerjanya untuk peran di masa depan.

      Hal lain yang perlu diprioritaskan adalah terkait dengan peningkatan fasilitas kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan tenaga kerja secara keseluruhan. Sebab, harus juga diingat bahwa IT digunakan untuk mengurangi beban fisik dan kognitif serta menciptakan lingkungan yang lebih inklusif. peningkatan fasilitas kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan tenaga kerja secara keseluruhan. Sebab, harus juga diingat bahwa IT digunakan untuk mengurangi beban fisik dan kognitif serta menciptakan lingkungan yang lebih inklusif.

         Tiga, membuat kebaruan terkait dengan manajemen risiko, terutama interaksi antara manusia dan IT yang berkepanjangan. Misalnya, terlalu lama menggunakan komputer akan menimbulkan kelelahan kognitif, stres, dan ”ketegangan” dalam bekerja. Implementasinya adalah intensitas pemantauan fisik dan kognitif secara real-time sangat diperlukan, terutama terkait dengan kemampuan perusahaan untuk menganalisis dan mencegah kelelahan, stres, dan cedera di tempat kerja.

       Meski kekinian IT tidak diragukan akurasinya, era manusia bekerja dengan robot dan ”mesin pintar” tetapi human error tetap ada. Dalam praktiknya, masih banyak dijumpai dan mungkin masih dominan terjadinya human error. Dengan demikian, diperlukan juga orientasi baru bagi satuan kerja yang membawahkan sumber daya manusia (SDM). Bukan sekadar menyediakan pelatihan dan peningkatan kompetensi, tetapi juga terkait dengan aspek sosial, sosiologi, dan pemahaman mengenai pekerja lintas generasi.

          Tentu masih banyak hal penting lainnya terkait dengan bagaimana mengelola para pekerja di era inovasi IT terus berlanjut dan tidak akan berhenti. Lupakan dulu apakah karena isu Workingforce 5.0 atau bukan. Namun, benang merahnya adalah bagaimana kehadiran kekinian IT juga harus disertai dengan kebaruan pendekatan pihak manajemen dalam memperlakukan para pekerjanya dalam arti luas.

 

 

 

                Era Industri 2.0 dilatarbelakangi temuan listrik oleh Michael Faraday pada 1934, lalu disusul dengan kehadiran komputer oleh Jack Kilby pada 1946, yang kemudian dikenal sebagai awal Industri 3.0. Kehadiran komputer tentunya banyak memberikan manfaat, antara lain automasi dan elektronisasi seluruh proses pro duksi untuk meningkatkan akurasi dan kualitas. Komputer juga mampu mempercepat proses, komunikasi, sehingga pekerjaan makin efektif dan cepat.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi November 2025

Rp 65.000

BELI