Penulis adalah Honorable Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI). tulisan ini merupakan pendapat pribadi.
SECARA definisi, menurut Cole Stryker (2025), agentic AI (AAI) adalah sistem kecerdas an buatan yang dapat menca pai tujuan tertentu dengan pengawas an terbatas. Sistem ini terdiri atas model pembelajaran mesin (machine learning) yang meniru pengambilan keputusan yang dilakukan manusia untuk memecahkan masalah secara seketika (real-time).
AAI terdiri atas multiagen, dalam hal ini setiap agen melakukan sub tugas spesifik yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang dikoordinasi kan melalui orkestrasi artificial intelligence (AI). Dalam pengertian praktis dari berbagai definisi, AAI dapat didefinisikan sebagai jenis kecerdasan buatan tingkat lanjut yang mampu menetapkan tujuan, mem buat rencana, bernalar, dan meng ambil tindakan sendiri untuk mencapai hasil tertentu tanpa perlu banyak campur tangan manusia.
Kehadiran AAI tentunya melalui berbagai tahapan. Dimulai dari periode 1980-1990 dengan munculnya konsep yang berasal dari penelitian awal AI yang fokus pada perilaku dan menekankan interaksi dengan ling kungan. Lalu, berlanjut ke periode 2010an. Banyak yang mengatakan, di periode ini dimulainya AI modern. Misalnya, AI dapat digunakan untuk berkendara, tanpa pengemudi dan drone. AI dapat bertindak secara mandiri. Hasil dari pengembangan AI, pada awal 2025 telah banyak digunakan AAI.
Secara khusus, AAI memang ber beda dengan saat awal AI diperkenal kan dan mulai digunakan pada era 2020an. AI tradisional pada saat itu pemanfaatannya lebih banyak untuk merespons perintah yang dikategori kan sebagai respons reaktif, semen tara AAI bersifat proaktif dan bisa mengerjakan segala sesuatunya secara mandiri.
AAI dapat mengambil keputusan, yang fokus pada hasil yang ingin dicapai, serta mampu menyesuaikan diri dan bekerja sama dengan manu sia. AAI dapat bertindak dan membu at keputusan secara independen tanpa pengawasan manusia yang intensif. Itulah yang menjadikan AAI dapat melakukan halhal yang sifatnya proaktif. Berbeda dengan saat awal AI dan generative AI (GAI) dipasarkan yang cenderung reaktif karena masih fokus hanya untuk merespons perintah langsung.
Selain proaktif, para pakar menyatakan bahwa AAI lebih memiliki otonomi karena kemampuannya, tanpa harus ada bantuan dan pengawasan manusia. Misalnya saja, teknologi yang digunakan untuk smart home yang menggunakan AAI sudah bisa memantau penggunaan energi, mendeteksi anomali, dan menyesuaikan suhu ruangan agar tetap nyaman sekaligus efisien. Sistem tersebut memang dirancang untuk bisa mengambil keputusan secara mandiri tanpa mengharuskan pengguna melakukan pengaturan manual.
Manfaat AAI AAI hadir setelah munculnya AI dan GAI. AAI banyak direspons positif karena manfaat/kegunaannya, baik untuk aktivitas bisnis maupun kehidupan manusia keseharian. AAI berbeda dengan AI maupun GAI. Ada beberapa alasan mengapa AAI dikatakan “berbeda”.
Pertama, menurut Cole Stryker (2025), AAI tidak bertindak secara acak. Teknologi yang digunakan AAI memungkinkan bagi AAI untuk mengatasi tugasnya, dengan cara menganalisis berbagai kemungkinan serta memprediksi hasil dari setiap keputusan yang diambil. Bandingkan dengan “AI tradisional” yang pada umumnya dirancang untuk menjalankan tugastugas yang sudah ditentukan berdasarkan perintah yang jelas. Misalnya, menjawab pertanyaan atau mengelompokkan data sesuai dengan pertanyaan.
Hal itu berbeda dengan AAI. Secara operasional, AAI bekerja dengan tingkat otonomi dan kemandirian yang lebih tinggi. Teknologi yang digunakan AAI sudah mampu memahami konteks, menganalisis data, melakukan tindakan terbaik yang secara nalar perlu dilakukan. Karena itu, AAI tidak lagi memerlukan pengawasan manusia secara terus menerus.
Salah satu ilustrasi manfaat AAI ini disampaikan Cole Stryker terkait upaya pengoptimalan rantai pasok, yang tidak hanya mengikuti rutinitas tetap. AAI dapat melakukan analisis data stok yang terus berubah, mempelajari tren permintaan, dan mem per kirakan kebutuhan yang akan datang. Berdasarkan hasil analisis tersebut, AAI bisa memberikan solusi terkait jadwal produksi, bagaimana mengalihkan sumber daya, dan alter natif prosesnya agar tetap efisien.
Tak hanya itu. AAI juga memiliki kemampuan beradaptasi, misalnya robot berbasis AAI di gudang. Bisa terjadi dan bahkan mungkin sering terjadi bahwa dalam proses pengirim an barang misalnya akan ada hambat an yang tidak terduga, seperti keter lambatan pengiriman atau perubahan stok barang. Dalam situasi seperti ini, AAI dapat menjadi solusi.
AAI akan mencari alternatif prosesnya, dengan cara mengubah urutan tugas, atau mengatur ulang prioritas agar operasi tetap berjalan lancar meskipun kondisinya berubah. AAI juga dapat digunakan di bidang transportasi, misalnya mobil pribadi dan/atau taksi. AAI dapat menganalisis kondisi jalan, membaca situasi lalu lintas, juga memperkira kan hambatan. Dengan menggunakan AAI, pengendara kendaraan akan mendapatkan panduan, misalnya mengubah rute atau menurunkan kecepatan agar bisa mencapai tujuan dengan aman.
Kedua, AAI mulai banyak diguna kan pada sektor keuangan, misalnya untuk analisis data pasar dan ekseku si perdagangan dan/atau penjualan secara otomatis untuk memaksimal kan keuntungan. Dalam konteks otomatisasi proses bisnis, peran AAI dapat melakukan otomatisasi alur kerja yang kompleks, seperti pelaporan pengeluaran dengan memerinci penerimaan dan mengategorikan pengeluaran.
Tidak itu saja. AAI juga dapat melakukan identifikasi lebih awal terkait dengan aktivitas penipuan atau transaksi yang mencurigakan secara proaktif atas dasar pola transaksi dan perilaku para nasabah atau pelanggannya. Selain itu, AAI dapat difungsikan untuk ”membeku kan” transaksi yang mencurigakan atau tidak wajar sekaligus memberi notifikasi kepada nasabah.
Berdasarkan hasil penelitian Cambridge Centre for Alternative Finance dan World Economic Forum (2020), AAI mempunyai kemampuan menangani proses yang berulang dan intensif data. Bagi lembaga keuangan, kemampuan tersebut dapat dimanfa at kan untuk meningkatkan kepatuh an, dan pengambilan keputusan. Hal lain yang dapat dilakukan oleh AAI ini adalah mentransformasi cara layanan keuangan dari para pelaku bisnis layanan keuangan dalam menjalankan bisnis dan berinteraksi dengan pelanggan. AAI dapat meningkatkan layanan keuangan dengan memberi kan solusi yang otonom, adaptif, dan proaktif.
Ketiga, AAI pun dapat digunakan untuk menyempurnakan penilaian jenisjenis risiko secara real-time. Dengan demikian, semua pengguna AAI dapat merespons secara langsung terkait dinamika jenis risiko dan anomali yang muncul sesuai dengan pola transaksi dan dinamika perilaku nasabah. Hal lain yang juga dapat diperoleh dari pemanfaatan AAI yaitu mengotomatiskan tugastugas ber ulang, seperti entri data, pemeriksaan kelengkapan persyaratan kepatuhan, serta dokumen dan pemrosesan transaksi. Dampak langsung yang dapat dirasakan ialah selain mening katkan produktivitas, akan mengu rangi berbagai ”kesalahan”. Dengan menggunakan AAI, keterlibatan pekerja akan berkurang sehingga pekerja memiliki waktu lebih banyak untuk melakukan pekerjaan penting lainnya yang lebih strategis.
Beberapa Catatan
Dengan melihat beberapa manfaatnya, kehadiran AAI jelas akan memberikan kemudahan bagi peng gunanya. Bagi perusahaan, baik lem baga keuangan maupun nonkeuangan, AAI dapat meningkatkan kegiatan operasional. Memasuki era open banking, penggunaan AAI sangat membantu. Dengan AAI, kualitas layanan dan kecepatan proses serta pengambilan keputusan dapat dilaku kan lebih cepat, dan tentunya akan lebih tepat sasaran. Ketika proses da pat dipercepat, keputusan juga lebih tepat, maka layanan kepada nasabah pun akan lebih baik, dan pada akhirnya akan berdampak terhadap peningkatan kredibilitas perusahaan.
Dalam setiap kemunculan inovasi teknologi, yang kemudian digunakan oleh masyarakat, tentunya kita tidak boleh mengabaikan soal risiko. Ketika ada inovasi dan kebaruan pengguna an teknologi, termasuk AAI, bukan berarti tidak akan ada lagi risiko yang muncul. Kenyataan menunjukkan, dalam utilisasi kebaruan teknologi, termasuk AAI, tetap saja ada pihak pihak yang memanfaatkannya untuk niat atau tujuan yang tidak baik. Para pelaku kejahatan selalu ada. Mereka pun akan berupaya untuk mencari peluang menggunakan AAI untuk tujuan yang tidak baik. Bisa untuk sekadar menunjukkan eksistensinya, tapi kebanyakan justru motivasinya adalah kejahatan, berupa ransomware misalnya.
Hal lain – yang sering menimbul kan gejolak – setiap ada inovasi baru, seperti AAI, akan muncul persepsi bahwa akan makin banyak pekerjaan yang hilang, diambil alih AAI misal nya. Artinya akan ada pemutusan hubungan kerja (PHK). Persepsi ini sulit dihilangkan. Namun, bukan berarti menggunakan AAI menjadi tidak relevan. Perusahaan dan entitas bisnis lainnya yang menggunakan AAI tentunya dapat merelokasi para pe ker janya sehubungan dengan pekerja annya yang telah diambil alih AAI.
Oleh sebab itu, ketika memutus kan untuk menggunakan AAI, maka perlu dipikirkan juga soal relokasi pekerja. Namun, perlu ditegaskan, sehebat atau secanggih apa pun kemajuan teknologi yang diaplikasi kan – dalam kegiatan bisnis misalnya – tidak sertamerta disimpulkan bahwa kehadiran manusia menjadi tidak diperlukan lagi.
Hal lain yang juga harus diperhati kan, ketika akan menggunakan AAI hendaknya ada upayaupaya untuk meningkatkan pengamanan risiko siber. Tidak boleh naif bahwa para pelaku kejahatan siber itu juga akan selalu menginikan teknologinya. Ketika ketergantungan terhadap AAI makin tinggi, secara proaktif juga harus dilakukan mitigasi risikonya. Dana Moneter Internasional (IMF) menyarankan untuk dilakukannya kolaborasi antara lembaga keuangan dan regulator.
Hal itu sangat penting untuk masa depan keuangan yang aman, inklusif, dan berkelanjutan. Untuk itu, diperlu kan regulasi yang terus diperbarui untuk memastikan terjaganya akuntabilitas, pengawasan, dan standar etika untuk mengatasi bias ketika menggunakan AAI.
Di masa yang akan datang tentunya akan lebih banyak pengguna AAI. Pertimbangannya, karena AAI antara lain dapat menekan biaya operasional dan mempercepat inovasi untuk meningkatkan efisiensi. Namun, harus tetap diingat bahwa andil manusia tetap dominan.
AAI terdiri atas multiagen, dalam hal ini setiap agen melakukan sub tugas spesifik yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang dikoordinasi kan melalui orkestrasi artificial intelligence (AI). Dalam pengertian praktis dari berbagai definisi, AAI dapat didefinisikan sebagai jenis kecerdasan buatan tingkat lanjut yang mampu menetapkan tujuan, mem buat rencana, bernalar, dan meng ambil tindakan sendiri untuk mencapai hasil tertentu tanpa perlu banyak campur tangan manusia.