AI kini jadi “asisten cerdas” baru bagi industri perbankan. Tak sekadar alat, tapi juga otak tambahan yang membantu bank berpikir lebih cepat, melayani lebih personal, dan bekerja lebih efisien.
DALAM setahun ke belakang, perkembangan kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI) luar biasa pesat. Tahun 2024 menjadi saksi bagaimana kehadiran AI mampu mengubah lanskap kerja berbagai industri. Hasil penelitian Stanford University me nunjukkan, ada pening katan investasi terhadap AI dalam skala global, menan dakan bahwa eksistensinya makin mengakar kuat dalam kehidupan korporasi.
Investasi AI di Amerika Serikat (AS) tercatat mencapai US$109,1 miliar, diikuti Tiongkok sebesar US$9,3 miliar dan Britania Raya US$4,5 miliar. Peng gunaan AI dalam bisnis juga meningkat pesat.Tahun 2024, 78% organi sasi melaporkan telah menggunakan AI, naik dari 55% pada tahun 2023.
Perbankan menjadi salah satu sektor yang aktif mengaplikasikan kecerdasan buatan ke dalam sistemnya. Hasil riset Zendesk, perusahaan perangkat lunak asal Denmark, menyebutkan bahwa pemanfaatan AI oleh perbankan meningkat dari 14% menjadi 49% di 2024. Pertumbuhan tahunannya mencapai 250%, tertinggi dibandingkan dengan industri lain. Pada 2025, akar kecerdasan buatan di industri perbankan Indonesia diprediksi makin kuat. Roy Kosasih, Presiden Direktur IBM Indonesia, menilai bahwa implementasi AI di Tanah Air sudah berjalan dengan baik dan memiliki masa depan yang cerah.
Indonesia sudah mempercepat adopsi AI di sektor perbankan yang didukung oleh inisiatif nasional yang kuat dan momentum industri yang ada. Dengan skala pasar yang luas, ekosistem digital yang dinamis, dan arus masuk investasi yang kuat, Indonesia memiliki keunggulan kompetitif yang unik dalam membentuk solusi perbankan yang didukung adaptif,” ujarnya kepada Infobank
Pemanfaatan industri perbankan “Indonesia sudah mempercepat adopsi AI di sektor perbankan yang didukung oleh inisiatif nasional yang kuat dan momentum industri yang ada. Dengan skala pasar yang luas, ekosistem digital yang dinamis, dan arus masuk investasi yang kuat, Indonesia memiliki keunggulan kompetitif yang unik dalam membentuk solusi perbankan yang didukung oleh AI secara inklusif dan adaptif,” ujarnya kepada Infobank. Pemanfaatan AI di industri perbankan perlahan berevolusi. Kini, pelaku perbankan mulai menggunakan kecerdasan buatan untuk personalisasi layanan kepada nasabah, analisis risiko kredit, stress test, hingga efisiensi di sejumlah divisi dan memaksimalkan pendapatan. Dengan segala manfaat dan kemudahan yang ditawarkan nya, implementasi AI akan makin masif dari waktu ke waktu.
Namun, kecerdasan buatan bukan tanpa tantangan. Jika tidak diimbangi dengan pemahaman dan pengetahuan yang memadai, penggunaan teknologi seperti AI generatif justru bisa menyebabkan bias dalam pembuatan keputusan, hingga menimbulkan ancaman keamanan siber. Semua itu berpotensi mengurangi kredibilitas dan akuntabilitas sebuah bank.
|
Mendorong Ekosistem AI Nasional IBM merupakan salah satu perusahaan teknologi global yang sudah sejak lama menyediakan layanan perangkat lunak atau infrastruktur digital bagi korporasi. Hadir di Indonesia |
Karena Itu membangun literasi AI menjadi krusial. Dalam hal ini, literasi tak hanya mencakup keterampilan teknis, tapi juga pemahaman etika, hukum, dan sosial. Penerapan AI juga harus selaras dengan arah dan strategi bisnis bank. Hal tersebut disampaikan Ganda Raharja Rusli, Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum Allo Bank, yang menekankan pentingnya keselarasan antara inovasi dan risk appetite tiap bank. “Penggunaan AI di Allo Bank diselaraskan dengan target bisnis, yakni mendukung pertumbuhan, efisiensi biaya, meningkatkan customer experience, dan menjaga kualitas aset. Di 2025, kami sudah meletakkan fondasi penggunaan AI dan menggunakannya dalam beberapa kegiatan bank, yang akan kami perluas lagi pelaksanaannya di 2026,” ungkap Ganda melalui pesan singkat kepada Infobank.
Dengan perkembangan teknologi yang makin cepat, AI menjadi fondasi utama bagi inovasi perbankan masa depan. Eksistensinya yang kian mengakar membuka peluang besar bagi industri untuk menciptakan layanan yang lebih canggih, adaptif, dan berorientasi pada nasabah.
|
pada 1937, IBM menjadi salah satu perusahaan yang mendorong penggunaan AI agar bisa diterapkan lebih luas dalam skala nasional. Roy Kosasih, Presiden Direktur IBM Indonesia, menjabarkan pandangan nya kepada Infobank mengenai lanskap AI dalam negeri, khususnya di sektor perbankan, dan perkem bangannya di masa mendatang. Petikannya: Dalam pandangan Anda, area baru apa yang paling menjanjikan bagi bank untuk mengadopsi AI ke depan? Laporan ‘IBM Banking in the AI Era’ yang baru saja dirilis menunjukkan bahwa sektor perbankan mulai menggunakan AI di luar layanan pelanggan dan analitik risiko untuk mendapatkan nilai tambah dan ketahanan bisnis yang kuat. Di Indonesia, perkembangan ini mencerminkan upaya sektor keuangan untuk menyeimbangkan pertumbuhan serta meningkatkan inklusi dan kepatuhan terhadap peraturan. Sejauh mana AI dapat membantu bank meningkatkan efisiensi operasional tanpa mengorbankan kualitas layanan manusia kepada pelanggan? AI dapat membantu bank meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat, bukan menggantikan kualitas layanan manusia. Dengan merampingkan operasi back-end dan membekali bankir dengan wawasan yang lebih tajam, AI memungkinkan terciptanya lebih banyak waktu dan kapasitas untuk interaksi pelanggan yang bermakna dan berlandaskan kepercayaan. Temuan kami juga menunjukkan, arsitektur modular dan otomatisasi membebaskan sumber daya dari proses back-office yang kompleks, memungkinkan para karyawan untuk mengalihkan waktu dan perhatian ke customer engagement yang lebih tinggi. AI generatif saat ini menjadi sorotan. Bagaimana Anda melihat aplikasi konkretnya di perbankan Indonesia? Apakah sudah ada kasus penggunaan yang realistis? AI generatif memungkinkan lebih banyak interaksi, mendapatkan wawasan yang lebih dalam guna memberikan panduan yang tepat waktu dan empati. Laporan kami menunjukkan, deteksi penipuan dan penilaian kredit adalah salah satu fitur terpenting, di mana AI bisa menambah nilai, memperkuat perlindungan pelanggan, sekaligus memperluas akses yang lebih adil dan lebih cepat ke layanan keuangan. Bagaimana IBM mendukung perbankan Indonesia agar tak hanya mengadopsi AI sebagai tren, tapi benar-benar mengubahnya menjadi keunggulan kompetitif jangka panjang? Kami membantu sektor perbankan di Indonesia dalam mengadopsi AI sebagai fondasi yang kuat untuk pertumbuhan dan daya saing yang berkelanjutan. IBM Indonesia mendukung perbankan dalam menanamkan AI secara bertanggung jawab dengan alat tata kelola yang memastikan transparansi, dapat dijelaskan, dan selaras dengan peraturan peraturan pemerintah. Pengembangan talenta juga merupakan prioritas kami. Melalui inisiatif seperti IBM SkillsBuild dengan Hacktiv8 dan PIJAK, ribuan orang Indonesia bisa memperoleh keterampilan AI secara praktis guna memperkuat tenaga kerja nasional. |
Investasi AI di Amerika Serikat (AS) tercatat mencapai US$109,1 miliar, diikuti Tiongkok sebesar US$9,3 miliar dan Britania Raya US$4,5 miliar. Peng gunaan AI dalam bisnis juga meningkat pesat.Tahun 2024, 78% organi sasi melaporkan telah menggunakan AI, naik dari 55% pada tahun 2023.