Hana Bank memasuki momentum penting dengan menata ulang strategi dan memperkuat segmen retail-SME. Langkah ini menjadi fondasi baru dalam membentuk arah bisnis yang lebih adaptif terhadap pasar Indonesia.
Hendri Setiawan, Direktur Bisnis SME Bank KEB Hana Indonesia
BANK KEB Hana Indonesia (Hana Bank) tengah memasuki fase transformasi penting untuk memperkuat segmen retail serta small and medium enterprise (SME). Untuk pertama kalinya, bank ini membentuk posisi Direktur Bisnis SME dan menunjuk Hendri Setiawan sebagai nakhodanya. Kepada Info- bank, bulan lalu, Hendri mengungkapkan visinya untuk membuat segmen retail-SME menjadi fondasi yang kuat bagi Hana Bank. Berikut petikan wawancara- nya:
Apa yang mendorong Hana Bank menegaskan fokusnya pada segmen retail- SME, setelah sebelumnya lebih dikenal dengan portofolio korporasi?
Saya join dengan Hana Bank pada 2008. Sebetul- nya, sejak saat itu, visi Hana Bank menjadi The Best Retail Bank in Indonesia. Tapi, seiring perkembangan, ternyata portofolio sekarang lebih banyak di corporate banking. Tentu harapan semua bank, saya rasa, adalah menjadi- kan retail-SME sebagai fondasi. Bank tetap perlu diversifikasi. Karena, tidak bisa dimungkiri, Indonesia ini market besar itu di segmen retail-SME. Sehingga, kami melihat bahwa retail-SME seharusnya menjadi salah satu fondasi bagi bank.
Apa strategi untuk masuk ke pasar retail-SME?
Memang kami adalah bank dengan kepemilikan asing. Tidak mudah memberi pemahaman tentang retail- SME di Indonesia bagi orang-orang asing. Lalu, setiap daerah punya ciri khas sendiri, punya karakteristik SME lokal masing- masing. Selain itu, SME di Indonesia masih banyak yang berbasis cash, sehingga sulit direkognisi hanya dengan data. Karena itu, kami mengandalkan tenaga lokal yang memahami pasar dan memiliki jaringan kuat.
Relationship menjadi kunci utama SME. Kami pun tidak membatasi sektor SME yang dituju, kecuali yang tidak sesuai regulasi, seperti alkohol, illegal logging, hingga tambang. Kami juga membangun komunitas di tiap cabang karena itu membantu penilaian yang berbasis judgement, bukan hanya credit scoring.
Apa peluang dan tantangan yang dihadapi Hana Bank dalam menumbuhkan portofolio retail-SME?
Kembali lagi ke pemahaman pasar di Indonesia. Karena, network kami terbatas. Kami hanya ada di 36 cabang, seperti di Sumatra, Jawa Barat, Jawa Tengah, Surabaya, Denpasar, dan Makassar. Network terbatas itu jadi tantangan tersendiri. Saya pun tidak mengharuskan kami compete dengan pemain- pemain lama segmen ritel di Indonesia, yang sudah memiliki jaringan sampai ke desa-desa.
Tapi, kalau saya harus pilih segmentasinya ke mana, bagaimanapun Hana Bank ditopang juga oleh banyak Korean customers. Karena, Korean customers ini mayoritas manufactu- ring. Banyak turunannya.Supply chain, suppliers lokal, ada di situ. Dan, ternyata sangat potensial. Jadi, kami mungkin diuntungkan dari ekosistem mereka.
Apa diferensiasi utama Hana Bank di bisnis retail-SME?
Untuk pembiayaan SME, kami melihat speed process adalah kunci. Tentu tanpa mengesampingkan prinsip kehati-hatian. Bank kami punya filosofi sebagai bank of speed. Ketika kebutuhan nasabah bisa dijawab lebih cepat dan ada kepastian, mereka akan jauh lebih senang.
Berapa target pertumbuhan retail-SME Hana Bank dalam beberapa tahun ke depan, dan bagaimana posisinya saat ini?
Dari total portofolio lending Hana Bank yang sekitar Rp40 triliun per September 2025, porsi SME lending baru 10% atau sekitar Rp4,4 triliun sampai Rp4,5 triliun. Karena itu, dalam tiga-lima tahun ke depan, kami targetkan dapat meningkat menjadi 20%-25%.
Pencapaian ini tentu membutuhkan perjalanan dan proses. Karena, di segmen retail-SME, kami harus membangun banyak hal, seperti SDM, produk,jaringan, dan semuanya membutuhkan waktu.
Apa yang mendorong Hana Bank menegaskan fokusnya pada segmen retail- SME, setelah sebelumnya lebih dikenal dengan portofolio korporasi?