Digitalisasi BYOND Bikin BSI Melaju Kencang Pertumbuhan yang kuat dan digitalisasi BYOND yang makin memacu ekspansi menjadi bukti nyata keunggulan consumer banking BSI. Bank ini menyiapkan strategi agresif tapi tetap disiplin menjaga kualitas. Berbekal fondasi syariah yang berkah, BSI terus mengokohkan posisinya sebagai salah satu motor consumer banking nasional.
Sumber : Istimewa
BISNIS ritel Bank Syariah Indonesia (BSI) tengah melaju dengan tempo yang tak bisa dianggap enteng. Dengan kepala tegak dan penuh keyakinan, bank syariah terbesar di Indonesia ini mengibarkan bendera nya di tengah kompetisi yang kerap berubah secepat real-time market. Segmen consumer banking BSI, yang mencakup Griya, Oto, Mitraguna, Pensiun hingga bisnis emas, menjadi pilar penting ekspansi BSI dalam beberapa tahun terakhir, ditopang permintaan yang stabil dan ekosistem syariah yang makin matang.
Pertumbuhan pembiayaan BSI pada kuartal III 2025 mencapai 12,69% secara tahunan (yoy), lebih tinggi dari pada rata-rata industri, dengan total pembiayaan menyentuh Rp300,27 triliun. Dari angka itu, segmen consumer mencatatkan per forma lebih agresif dengan kenaikan 15,02%. Pencapaian itu menjadi bukti kuat bahwa pasar retail BSI masih memiliki room for growth yang signifikan.
Direktur Retail Banking BSI, Kemas Erwan Husainy, menegaskan bahwa peran consumer dalam portofolio pembiayaan BSI sangat domi nan. “Komposisi pembiayaan kon sumer, gold, dan kartu terhadap total portofolio pembiayaan sekitar 56% per September 2025 dengan outstan ding Rp167,71 triliun, tumbuh 15,02% yoy,” ujarnya kepada Infobank, November lalu. BSI, yang dipimpin Anggoro Eko Cahyo sebagai direktur utama, tidak hanya bergantung pada satu produk.
Lini-lini pembiayaan consumer tumbuh serempak dengan karak teristik pasar yang berbeda. Dari seluruh portofolio consumer, Mitra guna, yang merupakan pembiayaan untuk pegawai tetap seperti ASN, TNI, Polri, BUMN, dan pegawai swasta, menjadi mesin utama per tumbuhan dengan kontribusi 21,86%.
Segmen Griya ikut menguat dengan kontribusi 19,77%, disusul pembiayaan berbasis emas yang meningkat pesat menjadi 6,24% seiring kenaikan harga emas global. Pembiayaan pensiun juga stabil dengan komposisi 5,52%, menunjuk kan diversifikasi portofolio consumer BSI yang makin kokoh.
Kemas menambahkan bahwa pertumbuhan emas memberikan dorongan besar. “Memelesatnya harga emas juga turut mendorong pem biaya an berbasis emas di BSI tumbuh signifikan mencapai 73% yoy dan khusus untuk cicil emas tumbuh di atas 100% yoy. Meningkatnya per minta an emas dalam bentuk lantakan juga meningkatkan animo masyarakat untuk mengejar pembiayaan cicil emas,” jelasnya.
Peningkatan minat masyarakat pada emas juga dipicu kehadiran layanan bullion bank yang diresmikan pemerintah. Fasilitas ini mendorong edukasi publik ter hadap investasi emas bergramasi kecil dan sekaligus memperluas basis nasabah pembiayaan emas BSI, yang kini menjadi salah satu produk dengan pertumbuhan paling eks plosif. BSI sendiri, pada 10 November lalu telah mendapat izin sebagai bank dengan jasa simpanan emas dari otoritas. Izin ini melengkapi kegiatan usaha bullion bank yang dimiliki BSI, yakni perdagangan emas, penitipan emas, dan simpanan emas.
Di tengah agresivitas ekspansi, BSI tetap menaruh perhatian besar pada kualitas pembiayaan. Bank ini menerapkan mitigasi risiko ketat melalui regular risk mapping, credit scoring, dan rapat komite pemutus pembiayaan untuk limit besar. Langkah ini memastikan pertum buhan tetap terkendali sesuai prinsip GCG dan nilai-nilai syariah.
Kemas menegaskan komitmen itu. “Kami menerapkan prinsip bahwa ekspansi pembiayaan yang agresif juga harus diiringi dengan mitigasi risiko pembiayaan sesuai dengan segmen usaha. Di mana BSI sebagai bank syariah memiliki guidance dan kesesuaian nilai-nilai syariah yang harus dipatuhi,” tuturnya.
Keunggulan consumer banking BSI tidak hanya bertumpu pada prinsip syariah yang memberi rasa aman dan kepastian, tapi juga struktur biaya dana yang efisien. Dengan cost of fund (COF) 2,66% per September 2025, margin pembiayaan BSI menjadi lebih kompetitif dibanding sejumlah pemain konvensional.
Selain itu, basis nasabah yang bertumbuh cepat memungkinkan intensifikasi produk. BSI menar getkan peningkatan product holding ratio (PHR) menjadi mini mal 1:3, yakni satu nasabah menggunakan minimal tiga pro duk BSI. Hal ini menjadi strategi cross selling yang relevan di tengah tren layanan digital perbankan.
Pada tataran inovasi, BSI memperkuat super app BYOND by BSI sebagai one stop solution untuk nasabah ritel. Aplikasi ini menghadirkan solusi keuangan lengkap, mulai dari pembukaan rekening digital, pengajuan pem biayaan, hingga layanan investasi berbasis emas secara real time.
BSI menjadi “Sahabat Finansial, Sahabat Sosial, dan Sahabat Spiritual” sebagai komitmennya untuk menjadi mitra yang melayani berbagai aspek kehidupan masyarakat, bukan hanya sebagai lembaga keuangan biasa. Sebagai “sahabat finansial,” BSI me nawarkan layanan perbankan syariah yang inovatif dan mudah diakses, seperti super app BYOND by BSI. Semen tara itu, sebagai “sahabat sosial,” BSI aktif menyalurkan dana zakat melalui berbagai program pemberdayaan, seperti BSI Scholar ship dan Desa BSI. Peran “sahabat spiritual” terwujud melalui kemitraan dengan berbagai organisasi untuk membangun ekosistem syariah yang inklusif dan mendorong nilai-nilai kebaikan,” tambah Kemas.
Sejurus dengan itu, Pembiayaan Cicil Emas, Gadai Emas, Mitraguna Online, hingga BSI Oto kini juga ter sedia secara digital dan terhubung dengan berbagai mitra. Integrasi inilah yang memungkinkan proses pembiayaan berjalan lebih cepat dan lebih sesuai dengan dinamika gaya hidup digital masyarakat.
Secara makro, BSI memandang peluang consumer banking masih sangat besar. Pertumbuhan gaya hidup digital, penurunan suku bunga, serta bertumbuhnya industri kreatif diyakini memberi multiplier effect bagi permintaan pembiayaan ritel dalam beberapa tahun ke depan.
Tapi, tantangan terbesar tetap berada pada keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas. BSI pun menjawabnya dengan sejumlah jurus ampuh, seperti memperkuat ekosistem payroll, segmen ASN, dan komunitas syariah yang relatif stabil dari sisi risiko. Bank ini juga meng andalkan early warning system untuk meminimalkan potensi pemburukan kualitas aset.
Ke depan, untuk bisnis consumer banking-nya, BSI berencana memper tahankan pertumbuhan double digit hingga 2026. Dengan porsi pembiayaan ritel yang sudah mendominasi lebih dari 72% total pembiayaan, bank ini menjadikan consumer se bagai mesin utama untuk memper besar market share nasional. CASA berbasis transaksi juga akan terus didorong untuk memperkuat struktur pendanaan.
Kemas menegaskan arah strategis itu, yang nantinya mengukuhkan consumer banking sebagai mesin pertumbuhan yang penting bagi BSI. “Ke depan, segmen consumer masih menjadi focus karena memiliki performance baik dari sisi kualitas pembiayaan, resilience, dan yield. Bukan berarti BSI tidak menumbuh kan segmen wholesale. Segmen tersebut tetap tumbuh sebagai entry gate untuk menjual produk consumer karena korporasi juga punya pegawai yang membutuh kan pembiayaan,” pungkasnya.
Dengan fondasi bisnis yang kuat, inovasi digital yang agresif, serta pasar syariah yang terus tumbuh, bisnis consumer BSI memasuki fase yang lebih matang. Kombinasi antara kemampuan ekspansi dan ketelitian dalam menjaga kualitas portofolio menjadi penanda bahwa bank ini siap memperkuat posisinya sebagai pemain kunci di industri consumer banking nasional.
Pertumbuhan pembiayaan BSI pada kuartal III 2025 mencapai 12,69% secara tahunan (yoy), lebih tinggi dari pada rata-rata industri, dengan total pembiayaan menyentuh Rp300,27 triliun. Dari angka itu, segmen consumer mencatatkan per forma lebih agresif dengan kenaikan 15,02%. Pencapaian itu menjadi bukti kuat bahwa pasar retail BSI masih memiliki room for growth yang signifikan.