ALAS Purwo terkenal angker dan sakral. Hutan legendaris di ujung timur Pulau Jawa, yang berada di wilayah Kabupaten Banyuwangi, itu konon menyimpan “pintu gerbang” antara dunia nyata dan dunia gaib. Salah satu sosok Hari adalah seorang bankir yang membangun karier di Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan sejak 2023 lalu menjabat sebagai Direktur Utama Jamkrindo Syariah.
Sore itu, Hari terlihat asyik berdiskusi dengan rombongan kecil berjumlah enam orang, sambil menyaksikan yang melekat dalam mitos Alas Purwo adalah jin penunggu bernama Rahyang Joyo Wiseso, yang dikenal sebagai salah satu keturunan Sanghyang Asta Dewa, yang menduduki jabatan tinggi sebagai resi di kerajaan gaib Alas Purwo yang dipimpin Kebo Ireng. Makhluk-makhluk penghuni Alas Purwo hidup berdampingan dengan aneka binatang liar, seperti harimau, kijang, ular, hingga monyet.
Di balik keindahan aneka satwa tumbuhan dan hamparan fosil foraminifera di Pantai Parang Ireng, banyak legenda dan kisah Alas Purwo yang menunggu untuk diungkap. Seperti sore itu, tepatnya pada 14 November 2025, di bibir Pantai Parang Ireng, Hari Purnomo terlihat sangat khusyuk bercerita tentang keindahan dan sejarah Alas Purwo yang banyak didengar orang penuh dengan kisah-kisah mistis.
“Alas Purwo adalah tempat atau situs purbakala di Indonesia yang kini telah menjadi taman nasional. Di sini ada keindahan alam, budaya, mitologi, dan nilai sejarahnya sangat tinggi,” ujarnya. matahari tenggelam di Pantai Parang Ireng.
“Menurut legenda masyarakat sekitar, penamaan Alas Purwo merupakan sebuah kisah yang menceritakan awal mula terciptanya Pulau Jawa. Sehingga, menurut masyarakat Jawa, artinya Alas Purwo yaitu Hutan Pertama atau Permulaan,” jelas Hardi Pitoyo, seorang pengusaha udang yang sore itu ikut dalam rombongan.
Alas Purwo juga sangat cocok dijadikan tempat untuk manekung. Manekung berasal dari bahasa Jawa yang artinya berdoa. Atau, merasakan keheningan dan menyelaraskan diri dengan alam semesta. Manekung biasa dilakukan para leluhur Nusantara untuk meraih keheningan dan menemukan diri sendiri. Seperti pepatah Arab “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu”, yang artinya barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya. “Manusia boleh kehilangan segalanya, tapi jangan sampai kehilangan dirinya,” pesan Ustaz Wahyudi.
Matahari senja terus merayap turun ke ufuk barat hingga perlahan-lahan tenggelam di balik garis khatulistiwa yang memancarkan cahaya merah. Ustaz Wahyudi mengajak Hari dan rekan lain untuk bersiap-siap melaksanakan Salat Magrib, yang dilanjutkan dengan berzikir. Di tengah suara zikir Ustaz Wahyudi dan deburan ombak, terdengar lamat-lamat suara aneh. “Saya seperti mendengar suara derap kaki kuda,” ungkap Dwi Julianto setengah berbisik, setelah sesi zikir berakhir.
Malam kian pekat tanpa sinar rembulan. Suasana terasa sangat sakral. Hanya deburan ombak dan gemuruh angin laut yang memecahkan keheningan. Juga, gemerisik jejak kaki peserta rombongan yang menginjak daun-daun kering saat berjalan keluar dari Pantai Parang Ireng dengan dituntun cahaya flash telepon seluler, menyusuri pepohonan khas pantai. “Sekarang kita keluar menuju Pantai Pancur, dan mempersiapkan diri untuk menuju ke Goa Istana,” ujar Hardi Pitoyo.
Pada hari kedua, rombongan menuju Goa Istana, yang berjarak 1,5 kilometer dari Pantai Pancur. Dari 44 gua yang ada di Alas Purwo, Goa Istana paling mudah diakses dan banyak dikunjungi wisatawan. Saat melakukan perjalanan dengan berjalan kaki, tanpa sengaja rombongan bertemu dengan Mbah Makhrus, “sang penakluk” Alas Purwo. Makhrus pernah hidup di dalam Alas Purwo selama satu tahun tanpa bekal apa pun, selain pakaian dan sarung yang menempel di badannya.
Menurut Makhrus, di Goa Istana terdapat jejak orang-orang besar, di antaranya Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno. Makhrus juga pernah melihat tokoh-tokoh penting datang ke Goa Istana. “Ibu Megawati Soekarno Putri dan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono pernah datang ke sini. Ada juga tokoh-tokoh lain, seperti artis, yang ke sini,” ujarnya kepada Infobank di mulut Goa Istana.
Sore itu, Hari mengikuti rombongan dalam perjalanan ke Alas Purwo, termasuk Goa Istana, karena ketertarikannya pada dunia spiritual dan sejarah. Tempat-tempat bersejarah dan bernuansa alam juga menjadi daya tarik Hari sejak masa remaja. “Sejak SMP dan SMA saya sudah suka pergi berziarah dan mendatangi petilasan tokoh-tokoh religi. Saya sering berpuasa tanpa tahu tujuannya, mungkin karena dorongan batin. Setelah lulus dan bekerja, saya mulai naik gunung dan petilasan, sendirian atau bersama teman-teman pencinta alam,” kisah Hari.
Alhasil, Hari terbiasa menghadapi pengalaman unik, termasuk bertemu dengan makhluk- makhluk tak kasatmata. Saat bekerja di BRI dan ditugaskan memimpin kantor cabang atau wilayah, Hari biasa menghadapi kejadian aneh saat awal menempati rumah dinas atau rumah kontrakan yang sebelumnya kosong. “Saya pernah tinggal di
rumah kontrakan yang katanya angker. Pernah suatu malam muncul makhluk berjubah hitam tanpa wajah. Saya tidak lari, saya lawan dengan doa,” kenang alumnus Universitas Jenderal Soedirman ini.
Bagi Hari, pengalaman didatangi makhluk gaib bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dipahami. “Dalam perjalanan ke tempat yang dianggap angker, saya jarang merasa takut, hanya berhati-hati. Saya percaya dunia spiritual memang ada, tetapi tidak semuanya harus dipercaya secara buta. Dunia batin itu luas, dan iman serta logika sebaiknya berjalan bersama,” kisah pria yang pernah menjadi Direktur Dana Pensiun Bank Rakyat Indonesia (2022– 2023) dan Direktur Bringin Karya Sejahtera (2022) ini.
Dari berbagai pengalaman spiritual maupun berhadapan langsung dengan pekerjaannya sebagai profesional di sektor jasa keuangan selama 33 tahun, Hari memetik banyak pelajaran dan filosofi yang sangat berguna dalam mendukung pekerjaan, terutama posisinya sebagai pemimpin di perusahaan. “Ada hubungan antara spiritualitas, kepemimpinan, dan kekuasaan,” ujar Hari, yang pernah menjadi Corporate Secretary BRI sebelum kemudian ditugaskan menjadi Kepala Wilayah BRI Bandar Lampung.
Menurutnya, seorang pemimpin harus optimistis. Optimistis bukan tanpa alasan, tetapi karena tiga faktor. Satu, tahu masalahnya. Dua, tahu solusinya. Tiga, bisa melaksanakan solusi tersebut. Hari menganalogikan memiliki kekuasaan tinggi seperti sebilah keris pusaka yang memiliki khodam. “Tiga syarat itu ibarat benda pusaka yang dimiliki seseorang untuk menjadi pemimpin. Ketika dia kemudian menjadi pemimpin yang diberikan authority, maka dia ibarat benda pusaka yang memiliki khodam,” ujar pria kelahiran Pekalongan, 4 Juni 1966, ini.
Menurutnya, khodam dalam bahasa Arab berasal dari kata khaadim yang berarti pelayan, pembantu, atau pengabdi. Sedangkan menurut pengertian masyarakat umum, khodam adalah penunggu atau energi yang ada di benda pusaka. “Dalam pengertian umum, khodam itu sesuatu yang tidak tampak tetapi auranya bisa dirasakan. Kita menghargai atas keyakinan tersebut sebagai bentuk keanekaragaman budaya Nusantara,” tutur Hari.
Dalam dunia modern, khodam bisa dimaknai secara positif. “Dalam diri seseorang harus punya inner capital, yaitu keunggulan yang tidak kelihatan tetapi pancaran aktivitasnya bisa dirasakan. Atau, hal ini yang kita sebut soft competence, yaitu dorongan hati, kecerdasan yang tidak kelihatan tetapi men- drive cara kerja seseorang dalam setiap langkahnya. Jadi, khodam yang harus dimiliki setiap insan adalah inner capital atau soft competence,” jelas Hari.
Seorang pemimpin juga memiliki khodam lain, yaitu kewenangan besar yang didapatkannya melalui kepercayaan. Sehingga, dengan kewenangan dan tanggung jawabnya, maka tidak ada alasan seorang pemimpin untuk tidak optimistis. “Bahkan, seorang pemimpin jika tidak bisa melaksanakan solusi yang bersifat teknis, dengan kewenangannya dia bisa menggerakkan orang lain untuk melakukan eksekusi,” ujarnya.
Hari menganalogikan sebilah keris. Sebilah keris akan lebih bernilai karena khodamnya. Tanpa itu, dia hanyalah besi tua. “Begitu pula seorang pemimpin. Kalau dia kehilangan otoritas batinnya, maka jabatan boleh tetap ada, tetapi wibawanya hilang. Dan, begitu jabatannya diambil, maka khodam kepemimpinannya ikut pergi,” ungkapnya.
Jadi, khodam bukan hanya soal makhluk gaib, tetapi simbol dari kekuatan batin dan legitimasi moral. “Pemimpin sejati adalah mereka yang selaras antara lahir dan batin, yang memimpin dengan kebijaksanaan, bukan dengan kekuasaan semata. Ketika keserakahan dan ambisi mengambil alih, khodam itu akan pergi, meninggalkan tubuh yang masih berkuasa, tetapi tanpa jiwa,” tuturnya.
Makanya, jangan heran, ada seorang pemimpin yang ketika tak lagi menjabat langsung ditinggalkan pengikutnya dan namanya terlupakan. Sebaliknya, ada pemimpin-pemimpin yang kendati sudah lengser dari jabatannya, tapi sosoknya tetap dihormati, kata-katanya didengar sebagai petuah, dan namanya harum. “Jabatan dan otoritas boleh pergi, tapi khodam tetap bersemayam di dalam diri. Kalau dalam dunia pewayangan, itu seperti seorang raja atau kesatria yang sudah madeg pandito dan menjadi seorang begawan,” ujarnya.
Sore itu, Hari terlihat asyik berdiskusi dengan rombongan kecil berjumlah enam orang, sambil menyaksikan yang melekat dalam mitos Alas Purwo adalah jin penunggu bernama Rahyang Joyo Wiseso, yang dikenal sebagai salah satu keturunan Sanghyang Asta Dewa, yang menduduki jabatan tinggi sebagai resi di kerajaan gaib Alas Purwo yang dipimpin Kebo Ireng. Makhluk-makhluk penghuni Alas Purwo hidup berdampingan dengan aneka binatang liar, seperti harimau, kijang, ular, hingga monyet.