Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Ketenangan Dimulai dari Isi Dompet Rapi

Semua orang ingin hidup tenang, tapi tak banyak yang sadar bahwa ketenangan sering kali berawal dari bagaimana menata atau mengelola uang. Lantas, bagaimana cara menata uang yang benar agar hidup tenang dan bahagia?

Oleh Alfi Salima Puteri
Sumber : Istimewa

Sumber : Istimewa

MENGELOLA keuangan pribadi. Sepertinya sebuah hal yang sederhana, tapi sejatinya itu adalah keterampilan hidup yang menuntut kesadaran dan kedisiplinan. Di tengah derasnya arus konsumsi, tren investasi instan, dan kemudahan layanan keuangan digital, mengelola atau menata uang kini bukan sekadar pilihan, tapi sudah menjadi kebutuhan.

Banyak orang bekerja keras setiap hari, dengan gaji tergolong lumayan, tapi mereka tak pernah merasa cukup. Mungkin ada yang salah atau tidak cerdas dalam menggunakan uangnya. Jadi, bukan seberapa besar penghasilan yang didapat, melainkan seberapa bijak penggunaannya. “Menjadi cerdas secara finansial bukan soal besar-kecilnya penghasilan, tapi bagaimana kita meng­elolanya dengan disiplin dan bijak,” kata Mirza Adityaswara, Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dalam acara OJK Mengajar, bulan lalu.

Prinsip pengelolaan ke­uang­an yang sehat sesung­guhnya se­derhana. Langkah pertama adalah menabung. Sisihkan se­bagian uang secara rutin untuk dana darurat dan ke­butuhan mendesak. Dana darurat bukan hanya untuk meng­hadapi musibah, tapi juga memberi ruang bernapas ketika situasi tak menentu.

Langkah berikutnya adalah berinvestasi dengan cerdas. Banyak orang tergoda oleh janji “cuan cepat” tanpa memahami risiko. Padahal, investasi bukan soal kecepatan, melainkan konsistensi dan pemahaman. Mulailah dari instrumen sederhana, seperti reksa dana pasar uang, tabungan emas, atau deposito. Pilih produk yang sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan. Jangan terburu-buru mengikuti tren, apalagi tanpa riset yang memadai.

Selain menabung dan berinvestasi, proteksi menjadi faktor penting dalam keseimbangan finansial. Banyak orang masih menganggap asuransi sebagai beban, pada­hal justru ia berfungsi sebagai pelindung. Biaya kesehatan yang tak terduga, misalnya, bisa menggerus tabungan dalam sekejap. Manfaatkan asuransi sosial atau asuransi kesehatan yang tersedia, karena proteksi adalah bentuk kesiapan menghadapi ketidakpastian.

Kunci lainnya adalah budgeting, mengatur aliran uang secara sadar. Prinsip sederhana 50-30-20 bisa menjadi pedoman praktis. Atur 50% untuk kebutuhan pokok, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan atau investasi. Pola ini membuat setiap pengeluaran memiliki tujuan.  Dengan membuat anggaran, kita belajar membeda­kan antara “kebutuh­an” dan “keinginan”.

Namun, di masa kini, di era digital, menata uang tentu akan lebih menantang. Karena itu, penting memiliki literasi ke­uangan sekaligus literasi digital yang cukup agar pengelolaan keuangan aman atau setidaknya minim risiko. Literasi keuangan tanpa literasi digital ibarat memegang kunci tapi tak tahu pintunya. Setiap hari, masya­rakat dihadapkan pada tawaran pinjaman cepat, investasi bodong, hingga jebakan phishing yang mengincar data pribadi. Di sinilah pentingnya kewaspadaan. Pastikan layanan keuangan yang digunakan memiliki izin resmi dari OJK atau otoritas terkait. Waspada dengan janji-janji imbal hasil tinggi tanpa risiko.

Penting juga untuk menjaga jejak digital. Data pribadi adalah aset yang tak ternilai. Maka, jangan sembarangan mengklik tautan, mengunduh aplikasi asing, atau membagikan informasi pribadi di platform yang tidak aman.

Menata keuangan pribadi, pada akhirnya bukan sekadar tentang menambah kekayaan, melainkan tentang membangun ketenangan batin. Tenang karena tahu ke mana uang pergi, tahu alasannya kenapa ia disimpan, dan tahu bagaimana melindunginya.

 

Banyak orang bekerja keras setiap hari, dengan gaji tergolong lumayan, tapi mereka tak pernah merasa cukup. Mungkin ada yang salah atau tidak cerdas dalam menggunakan uangnya. Jadi, bukan seberapa besar penghasilan yang didapat, melainkan seberapa bijak penggunaannya. “Menjadi cerdas secara finansial bukan soal besar-kecilnya penghasilan, tapi bagaimana kita meng­elolanya dengan disiplin dan bijak,” kata Mirza Adityaswara, Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dalam acara OJK Mengajar, bulan lalu.

Prinsip pengelolaan ke­uang­an yang sehat sesung­guhnya se­derhana. Langkah pertama adalah menabung. Sisihkan se­bagian uang secara rutin untuk dana darurat dan ke­butuhan mendesak. Dana darurat bukan hanya untuk meng­hadapi musibah, tapi juga memberi ruang bernapas ketika situasi tak menentu.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Desember 2025

Rp 65.000

BELI