Ignasius Jonan Adalah Bankir Senior, Menteri Perhubungan 2014-2016, dan Menteri ESDM 2016-2019.
LIMA tahun sudah saya mengisi kolom di rubrik The Leader’s Code majalah ini. Saya senang bisa berbagi pemikiran dan insight kepada para pembaca. Pada suatu saat, Eko B. Supriyanto, Chairman Infobank Media Group, meminta kepada saya untuk menerbitkan kumpulan tulisan saya di rubrik tersebut menjadi sebuah buku.
Awalnya saya tidak berniat. Apalagi menulis buku dengan didasari perasaan lebih tahu dari orang lain. Saya juga merasa tidak perlu lagi menceritakan bagaimana saya memimpin transformasi di sejumlah perusahaan hingga kementerian. Karena tugas saya sudah selesai, maka saya tidak memiliki kepentingan publikasi apa pun, kecuali untuk berbagi.
Tapi, saya sangat bersyukur bahwa tidak semua putra Indonesia seberuntung saya yang mendapatkan banyak kesempatan untuk belajar dan membangun karier di Citibank, memimpin penyehatan Bahana Pembinaan Usaha Indonesia dan transformasi di Kereta Api Indonesia, serta diberi kepercayaan untuk menjadi Menteri Perhubungan kemudian Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.
Dalam konteks itulah, atau konteks saya bersyukur atas anugerah yang saya terima, saya menyetujui penerbitan buku saya yang berjudul Leadership; Thinking and Practice. Sekali lagi, saya tidak merasa lebih tahu, apalagi ingin menuliskan sebuah legacy untuk mencari popularitas. Niat saya menerbitkan buku tersebut tak lebih untuk berbagi pemikiran, pengalaman, dan nilai-nilai kepada pembaca.
Cara berpikir dan bertindak seorang pemimpin sangat penting dan menentukan nasib orang lain atau orang-orang yang dipimpinnya. Karena itu, kehadiran seorang pemimpin yang utama adalah harus membuat orang lain menjadi lebih baik. Seperti dikatakan penulis dan filantropis Amerika, Sheryl Sandberg, “Leadership is about making others better as a result of your presence and making sure that impact lasts in your absence.
”Seorang pemimpin harus berusaha menciptakan kehidupan madani yang dirasakan oleh orang banyak. Karena kehadirannya dirasakan orang lain atau memengaruhi kehidupan orang lain, maka seorang pemimpin harus membuahkan hasil. Hasil yang diciptakan tentu bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk orang banyak, terutama mereka yang menaruh harapan saat menunjuk dan memberinya amanah untuk menjadi pemimpin.
Kemudian, keberhasilan yang dia ciptakan juga harus berkelanjutan. Agar hasil yang diciptakan berkelanjutan, pemimpin bisnis mesti mementingkan semua pihak yang memberinya amanah dan kepercayaan. Dalam kepemimpinan politik, yang menaruh harapan dan memberinya amanah adalah rakyat atau konstituen. Sementara, dalam kepemimpinan bisnis, yang menaruh harapan dan memberinya amanah adalah pemegang saham dan konsumen serta anak buah.
Karena kehadiran seorang pemimpin menentukan kehidupan banyak orang lain, maka seorang pemimpin harus melaksanakan tugas sebaik-baiknya tanpa mengharapkan pamrih yang tidak pantas. Kita mengenal istilah kepemimpinan tanpa pamrih (selfless leadership), yang menekankan pentingnya mengutamakan orang lain, fokus pada kesejahteraan tim, dan perannya sebagai pemimpin adalah memberdayakan, bukan mengendalikan. Leadership is responsibility, not power.
Contoh kepemimpinan tanpa pamrih pernah diperlihatkan Jigme Singye Wangchuck, Druk Gyalpo Keempat di Bhutan pada 2006. Dia sudah 34 tahun memimpin dan secara konstitusi masih punya hak menjadi raja hingga usia 65 tahun. Tetapi, Wangchuck secara sukarela turun takhta untuk membuka jalan bagi monarki konstitusional dan transisi damai menuju demokrasi. Langkah tersebut dinilai sebagai tindakan tanpa pamrih dari seorang pemimpin yang rela melepaskan kekuasaan absolut dan menganugerahkan sistem demokrasi kepada bangsa.
Saya tutup kolom ini dengan kutipan terkenal dari Winston Churchill, pemimpin Inggris saat Perang Dunia Kedua, “The price of greatness is responsibility.” Churchill memberi pesan bahwa orang-orang yang mencapai posisi kekuasaan atau pengaruh harus bisa menggunakannya dengan bijak untuk kepentingan orang lain, menerima beban yang menyertai kekuasaan tersebut, bukan hanya menikmati hak istimewanya. Hal ini berlaku dalam banyak konteks, mulai dari kepemimpinan dan pekerjaan hingga tujuan pribadi, karena pencapaian besar terkait dengan kewajiban untuk bertindak secara bertanggung jawab.
Awalnya saya tidak berniat. Apalagi menulis buku dengan didasari perasaan lebih tahu dari orang lain. Saya juga merasa tidak perlu lagi menceritakan bagaimana saya memimpin transformasi di sejumlah perusahaan hingga kementerian. Karena tugas saya sudah selesai, maka saya tidak memiliki kepentingan publikasi apa pun, kecuali untuk berbagi.
Tapi, saya sangat bersyukur bahwa tidak semua putra Indonesia seberuntung saya yang mendapatkan banyak kesempatan untuk belajar dan membangun karier di Citibank, memimpin penyehatan Bahana Pembinaan Usaha Indonesia dan transformasi di Kereta Api Indonesia, serta diberi kepercayaan untuk menjadi Menteri Perhubungan kemudian Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.