Penulis adalah Guru Besar sekolah Vokasi UGM dan Penulis Buku “Manajemen Keuangan Internasional”.
PROYEK kereta cepat Jakarta Bandung, Whoosh, sejatinya menjadi simbol ambisi infrastruktur Indonesia di era modern. Namun, di balik megahnya kereta cepat, muncul tantangan finansial yang serius. Proyek ini dijalankan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), konsorsium 60% Indonesia dan 40% Tiongkok, dengan mayoritas pendanaan dari pinjaman luar negeri, termasuk China Development Bank dengan total lebih dari US$7 miliar atau sekitar Rp116 triliun.
Namun, di balik megahnya kereta cepat, muncul tantangan finansial yang serius. Proyek ini dijalankan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), konsorsium 60% Indonesia dan 40% Tiongkok, dengan mayoritas pendanaan dari pinjaman luar negeri, termasuk China Development Bank dengan total lebih dari US$7 miliar atau sekitar Rp116 triliun.
Polemik utama Whoosh berkisar pada beban utang yang sangat besar, risiko operasional, dan apakah manfaat publik bisa “menutup” beban finansial. Presiden Prabowo Subianto mengatakan akan bertanggung jawab sepenuhnya atas proyek Whoosh (Detiknews, 5/11/2025). Namun, pertanyaan mendasar, bagaimana solusi terbaiknya
Apa Manfaatnya?
Rakyat perlu mengetahui bahwa Whoosh menghadirkan manfaat nyata. Whoosh adalah singkatan dari Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Hebat. Ini mencerminkan ambisi Indonesia untuk mencapai efisiensi dan operasional optimal dengan moderni- sasi sistem transportasi. Dari sisi mobilitas, kereta cepat memangkas waktu tempuh Jakarta-Bandung menjadi hanya 36-45 menit, jauh lebih singkat daripada perjalanan 2-3 jam dengan mobil melalui Tol Cipularang atau 2 jam menggunakan kereta konvensional, yang berdampak langsung pada produktivitas pekerja, pelaku bisnis, pejabat publik, dan masyarakat dengan mobilitas tinggi.
Kedua, Whoosh membuka peluang pertumbuhan kawasan ekonomi baru. Stasiun Halim, Stasiun Padalarang, dan Stasiun Tegalluar kini menjadi simpul baru kegiatan ekonomi berbasis transit oriented development (TOD). Kegiatan komersial, perumahan, dan pergerakan jasa mulai bermunculan di sekitar area yang sebelumnya tidak memiliki nilai strategis setinggi hari ini. Multiplier effect dari proyek ini juga dirasakan selama fase konstruksi melalui penyerapan tenaga kerja dan peningkatan aktivitas rantai pasok.
Ketiga, sebagai moda transportasi berbasis listrik, Whoosh berpotensi mengurangi polusi udara dan kemacetan yang telah lama menjadi keluhan utama masyarakat di koridor Jakarta-Bandung. Jika okupansi dapat ditingkatkan, Whoosh akan menjadi alternatif penting untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.
Dalam jangka panjang, kereta cepat merupakan fondasi penting menuju integrasi wilayah Jakarta-Bandung sebagai kota megapolitan terbesar di Indonesia. Total penduduk kawasan Jabodetabekjur ( Jakarta-Bogor-Depok- Tangerang-Bekasi-Cianjur) sekitar 32,3 juta jiwa pada pertengahan 2024.
Kawasan Greater Bandung dilaporkan memiliki populasi lebih dari 9 juta jiwa. Bila kedua wilayah itu digabung, total penduduk sekitar 41 juta jiwa, lebih besar daripada penduduk Australia (27,4 juta) maupun Malaysia (34,1 juta). Konektivitas yang lebih cepat dapat mendorong penyebaran pusat ekonomi, mengurangi tekanan penduduk di Jabodetabek.
Dari aspek teknologi, sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang berhasil mengoperasikan kereta cepat komersial, Indonesia memperoleh manfaat berupa alih teknologi yang nyata melalui program pelatihan teknis dan operasional yang melibatkan para ahli dari luar negeri. Berdasarkan data KCIC, lebih dari 70 masinis dan teknisi Indonesia telah mengikuti pelatihan teori dan praktik high speed railway sejak 2023. Bahkan, sejak April 2025, seluruh perjalanan Whoosh sepenuhnya dioperasikan oleh SDM lokal.
Mengapa Utang Membengkak?
Whoosh memang membawa banyak manfaat sosial: penghematan waktu, penurunan polusi, dan peningkatan kualitas mobilitas. Namun, manfaat tersebut tidak serta-merta menjadi pendapatan memadai bagi KCIC.
Konsorsium BUMN Indonesia melalui PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) memegang posisi strategis dalam proyek kereta cepat Whoosh yang menghubungkan Jakarta- Bandung. Struktur kepemilikan PSBI tercatat PT Kereta Api Indonesia (KAI) memegang 58,53%, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) 33,36%, PT Jasa Marga (Persero) Tbk ( JSMR) 7,08%, dan PT Perkebunan Nusantara VIII (PTPN VIII) 1,03%. PSBI kemudian menjadi pemegang saham mayoritas dalam konsorsium proyek Whoosh, yaitu PT KCIC, dengan porsi 60% untuk PSBI dan 40% untuk mitra Tiongkok (Beijing Yawan HSR Co. Ltd.).
Dari sisi investasi, proyek Whoosh memerlukan biaya sekitar US$7,2 miliar (sekitar Rp116 triliun), termasuk pembengkakan biaya sekitar
US$1,2 miliar dari rencana awal. Sebagian besar pembiayaan berasal dari dana pinjaman China Development Bank (75%), sementara sisanya (sekitar 25%) melalui penyertaan modal pemegang saham.
Masalah finansial Whoosh muncul karena beberapa faktor utama. Satu, pembengkakan biaya proyek (cost overrun) signifikan akibat pandemi, sengketa lahan, dan kendala teknis.
Dua, pendapatan operasi jauh di bawah proyeksi, meski kereta sudah beroperasi sejak Oktober 2023. Rendahnya jumlah penumpang mengganggu arus kas konsorsium sehingga kewajiban bunga dan cicilan utang menjadi beban berat. Tiga, struktur pembiayaan yang kompleks, dengan pinjaman dalam valuta asing dan keterlibatan beberapa BUMN, menambah risiko keuangan dan reputasi.
Meski Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa APBN tidak menanggung utang proyek Whoosh, risiko keuangan tetap terasa. Purbaya secara tegas menyatakan, “APBN tidak akan menanggung utang proyek Whoosh.” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa utang proyek Whoosh harus ditanggung konsorsium/ proyek, bukan beban langsung dari anggaran negara.
Walau Menteri Keuangan menegaskan bahwa APBN tidak langsung menanggung utang Whoosh, struktur investasi melalui BUMN pengendali menjadikan risiko finansialnya tetap masuk kategori liabilitas kontinjensi (contingent fiscal liability). Pasalnya, PSBI memegang mayoritas saham KCIC sebesar 60% dan melibatkan BUMN besar, yakni PT KAI, PT WIKA, dan PT JSMR. Artinya, kerugian BUMN akibat proyek Whoosh pada akhirnya berpotensi menjadi risiko fiskal negara, terutama bila BUMN tersebut membutuhkan penyelamatan melalui penyertaan modal negara (PMN), penjaminan ulang, atau subsidi operasional
Restrukturisasi Utang dan Solusi Jitu
Solusi untuk mengatasi masalah ini terletak pada restrukturisasi utang. Perpanjangan tenor pinjaman atau renegosiasi bunga dapat menekan beban cicilan tahunan. Konversi sebagian utang menjadi ekuitas atau aset memungkinkan konsorsium fokus pada operasional. Dukungan sementara dari BUMN, seperti yang telah diberikan Jasa Marga sebesar Rp116 miliar, membantu stabilisasi kas dan menjaga operasi kereta tetap berjalan. Kerugian semester pertama 2025 yang tercatat sekitar Rp1,625 triliun, menambah beban BUMN pengendali. KAI, misalnya, harus menanggung proporsional sekitar Rp951 miliar.
Situasi ini memunculkan pertanyaan publik: apakah APBN harus turun tangan?
Ada alternatif solusi yang lebih jitu daripada langsung membebankan biaya ke kas negara. Pertama, restrukturisasi utang dan korporasi. Konsorsium bisa menegosiasikan ulang pinjaman dengan China Development Bank, memperpanjang tenor atau menurunkan bunga, sekaligus membuka peluang investor swasta masuk agar risiko BUMN berkurang.
Kedua, diversifikasi pendapatan proyek. Tak hanya mengandalkan tiket, Whoosh bisa memaksimalkan layanan tambahan: properti TOD, parkir, iklan, dan moda transportasi feeder. Pendapatan tambahan dari komersialisasi lahan di sekitar stasiun atau fasilitas penunjang dapat memperkuat arus kas. Pendapatan nontiket ini dapat menutup sebagian kewajiban tanpa campur tangan APBN.
Ketiga, efisiensi operasional. Optimalisasi jadwal, kapasitas kereta, dan manajemen sumber daya dapat menekan biaya operasional dan meningkatkan margin proyek. Proyeksi trafik dan tarif harus dievaluasi ulang, integrasi moda transportasi lain perlu ditingkatkan agar jumlah penumpang naik.
Keempat, skema garansi bersyarat. Pemerintah dapat menyiapkan perlindungan terbatas, misalnya menanggung risiko kerugian operasional minimum, tanpa mengambil alih utang penuh proyek. Pemerintah bisa memberikan dukungan melalui mekanisme BUMN, bukan APBN langsung. PMN ke PSBI, atau pemanfaatan holding BUMN (Danantara) untuk menyalurkan dana, memperkuat neraca proyek tanpa membebani anggaran negara secara langsung. Transparansi tetap menjadi kunci: publik harus mengetahui batas tanggung jawab keuangan masing- masing pihak, dan bahwa proyek ini tetap dikelola secara komersial tapi transparan dan akuntabel.
Kelima, kemitraan dengan investor swasta atau dana infrastruktur. Masuknya pihak swasta memungkinkan risiko terbagi dan BUMN tetap menjadi katalisator, bukan penanggung penuh.
Dengan kombinasi langkah- langkah itu, proyek Whoosh dapat diselamatkan, risiko fiskal dapat diminimalkan, dan manfaat publik tetap tercapai. Sebagai proyek strategis nasional, Whoosh menjadi ujian bagi pemerintah: mampu mengelola risiko besar tanpa membebani APBN, sekaligus memastikan keberlanjutan proyek transportasi yang sudah lama dinanti masyarakat.
Kasus beberapa negara yang terjebak infrastructure debt distress – seperti Sri Lanka (Pelabuhan Hambantota), Laos (China-Laos Railway), Zambia, Pakistan (CPEC), dan Maladewa – yang diingatkan Infobank (20/10/2025) bisa terjadi. Negara-negara tersebut mengalami krisis karena kombinasi berbagai faktor: struktur utang pemerintah yang tak sehat, lemahnya kelembagaan fiskal, ketergantungan tunggal pada pinjaman Tiongkok, dan lemahnya tata kelola proyek. Indonesia masih memiliki mitigasi berupa diversifikasi kreditur internasional, kemampuan fiskal relatif kuat, pasar domestik besar, dan industri manufaktur transportasi yang masih berkembang.
Whoosh memberikan pelajaran penting: megahnya proyek tidak menjamin keberlanjutan finansial. Beban utang luar negeri, biaya operasi tinggi, dan proyeksi pendapatan yang memeleset bisa menciptakan risiko besar bagi PSBI. Restrukturisasi yang tepat, dukungan Danantara/BUMN, dan solusi di luar APBN menjadi formula penting agar proyek ini berhasil serta memberikan manfaat kepada publik. Dengan strategi yang cermat, Whoosh bisa menjadi investasi berkelanjutan bagi Indonesia, bukan sekadar proyek infrastruktur skala mega tapi meninggalkan “bom waktu” beban utang.
Namun, di balik megahnya kereta cepat, muncul tantangan finansial yang serius. Proyek ini dijalankan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), konsorsium 60% Indonesia dan 40% Tiongkok, dengan mayoritas pendanaan dari pinjaman luar negeri, termasuk China Development Bank dengan total lebih dari US$7 miliar atau sekitar Rp116 triliun.