Belum ada produk di keranjang belanja kamu

JARINGAN PRIMA

Mitra Jaringan PRIMA Disuguhi Warna Nusantara

Warna Nusantara hadir di setiap sudut dan event PRIMA Awards 2025: mulai dari venue, performance, hingga hidangan gala dinner.

Oleh DW/sW

SELAMA sehari semalam hadir di event Prima Executive Gathering 2025, seluruh mitra Jaringan PRIMA disambut dan disuguhi “hidangan” berwarna Nusantara. Mulai dari desain dekorasi, cultural performance, menu gala dinner, hingga penyampaian narasi Nusantara.

Dekorasi ruang acara mengusung konsep Nawa Sanga yang merupakan sembilan harmoni dari perjalanan menyusuri jiwa Indonesia, dari gerbang suci berkah menuju alunan harmoni. Setiap langkah, setiap warna, setiap suara menceritakan kisah tentang pulau-pulau yang bersatu, tentang orang-orang yang terinspirasi, tentang bangsa yang tak pernah berhenti merayakan keindahannya.

Narasi Nusantara karya Presiden Direktur RINTIS Iwan Setiawan memaparkan semangat kebangsaan, cinta Tanah Air, dan kejayaan Indonesia yang selalu “Satu Padu Tiada Tergoyah” dibawakan secara puitis oleh Direktur BCA Vera Eve Lim.

Menjelang acara puncak pemberian PRIMA Awards 2025, peserta Prima Executive Gathering 2025 juga disuguhi resep-resep Nusantara dalam sesi gala dinner yang berhasil menghadirkan cita, rasa, dan aroma rempah Nusantara.

Memasuki Era BANI

PErubAhAn besar tengah melanda dunia, bukan hanya dalam ekonomi, tetapi juga dalam pola pikir manusia menghadapi ketidakpastian. Dalam sesi Keynote Closing Speech di Prima Executive Gathering 2025, Prof. Rhenald Kasali membuka pandangannya tentang bagaimana dunia bisnis dan keuangan kini hidup dalam apa yang ia sebut sebagai “peradaban ketidakpastian.” Dunia yang dulu dikenal dengan istilah VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) kini telah berevolusi menjadi BANI (Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible).

Menurutnya, kemajuan teknologi, termasuk quantum computing dan kecerdasan buatan (AI), membuka banyak peluang baru, namun sekaligus menghadirkan ancaman terhadap sistem yang selama ini dianggap kuat dan stabil. “Kita hidup di masa di mana yang kuat bisa rapuh, yang pasti bisa hilang, dan yang mapan bisa runtuh hanya karena satu celah kecil,” ujarnya. Ia mencontohkan kasus Louvre Museum dan perusahaan besar dunia yang tumbang bukan karena lemah, tetapi karena terlalu percaya diri terhadap ilusi kekuatan mereka sendiri inilah yang disebutnya sebagai the illusion of strength.

Dalam konteks sistem pembayaran digital, Prof. Rhenald, Ph.d. menyoroti pentingnya kolaborasi dan kesiapan menghadapi era Post-Quantum Cryptography. Di tengah serangan siber dan meningkatnya ancaman fraud, sektor keuangan perlu memperkuat ekosistem- nya melalui kerja sama lintas institusi, pembentukan task force keamanan digital, serta peningkatan literasi masyarakat. Ia juga menekankan bahwa regulator tidak hanya harus menjadi pengawas, tetapi juga enabler yang adaptif dan responsif terhadap inovasi teknologi. “Kalau kita tidak cepat berbicara dan bertindak, industri akan terlambat beradaptasi dan bisa sakit perlahan,” tegasnya.

Lebih jauh, Prof. Rhenald, Ph.d. membahas perubahan perilaku generasi muda di era ekonomi digital. Fenomena cashless society menciptakan gaya hidup baru yang tidak lagi merasakan pain of paying, atau rasa berharganya proses membayar. Menurutnya, tantangan industri kini bukan hanya efisiensi transaksi, tetapi juga menjaga kesadaran nilai di tengah kemudahan teknologi.

“Mereka tidak membeli rumah, tapi membeli pengalaman. Ini harus dibaca sebagai sinyal perubahan perilaku ekonomi yang fundamental,” jelasnya.

Sebagai penutup, Prof. Rhenald, Ph.d. memperkenalkan konsep Fluke Mindset; kemampuan melihat peluang besar dari hal-hal kecil yang tak terduga. Ia menyebut bahwa keberuntungan sering datang pada mereka yang bergerak, berani menjangkau, dan mau berkolaborasi.

Dunia yang penuh ketidakpastian, menuntut manusia untuk lebih lentur dan terkoneksi. “Kalau kita ingin menjemput keberuntungan di masa depan, kita harus terbuka, adaptif, dan berani membangun kolaborasi. Karena dalam dunia yang tak pasti, hanya mereka yang mau bergerak yang akan menemukan arah.”

Dengan gaya bercerita yang inspiratif dan membumi, Prof. Rhenald, Ph.d. menutup Prima Executive Gathering 2025 dengan ajakan untuk merangkul ketidakpastian dengan semangat inovasi, kolaborasi, dan keberanian menjemput masa depan.

Testimoni Peserta PRIMA Executive Gathering 2025

Dekorasi ruang acara mengusung konsep Nawa Sanga yang merupakan sembilan harmoni dari perjalanan menyusuri jiwa Indonesia, dari gerbang suci berkah menuju alunan harmoni. Setiap langkah, setiap warna, setiap suara menceritakan kisah tentang pulau-pulau yang bersatu, tentang orang-orang yang terinspirasi, tentang bangsa yang tak pernah berhenti merayakan keindahannya.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Desember 2025

Rp 65.000

BELI