Penulis adalah Ketua dewan Pers
HIDUP adalah medan persaingan dan perlombaan. Ini dimulai sejak proses kejadian manusia yang diawali dengan kompetisi sesama sperma yang jumlahnya jutaan. Siapa yang berhasil menembus membran sel telur, dialah yang berpeluang berproses menjadi janin.
Setelah manusia lahir dan berkembang, baik fisik, akal maupun emosi nya, maka persaingan dan perlombaan terus berlangsung dalam berbagai bidang kehidupan. Di sekolah, para siswa dikenalkan dengan berbagai ragam perlombaan untuk memperebutkan juara. Ketika tamat sekolah atau kuliah lalu melamar pekerjaan, persaingan pun terjadi, bahkan ketat. Tidak jarang, untuk memenangkan persaingan, ada di antara mereka yang melakukan tindakan licik dan curang dengan cara menyuap orang dalam.
Di jalan raya pun sama. Kendaraan saling bersaing: salip menyalip, dahulu mendahului. Hampir di setiap profesi dan kehidupan sosial selalu ada kontes tasi untuk mendapatkan siapa yang dianggap paling hebat. Bahkan, kecantikan pun dilombakan. Termasuk membaca kitab suci.
Yang paling heboh tentu nya ketika pemilihan umum (pemilu) setiap lima tahun sekali. Calon presiden dengan berbagai teknik, strategi, dan juga gelontorkan triliunan rupiah berupaya tampil sebagai yang paling menonjol. Berbagai upaya dilakukan untuk mendapatkan sebanyak banyaknya suara rakyat. Tak mau kalah, partai politik berlomba meraih kursi terbanyak di parlemen bagi para wakilnya.
Kemenangan dengan Terhormat
Judul di atas, Victory with Virtue, memberikan pesan bahwa hendaknya siapa pun yang memperoleh kemenangan dan kesuksesan, prestasi itu diraihnya dengan jalan yang benar. Dengan bajik, jujur, fair, otentik, sehingga mendatangkan respek dan dihormati pihak yang dikalahkan dan orang orang di sekelilingnya.
Pesan ini penting sekali direnungkan mengingat banyak orang yang sukses dan meraih jabatan tinggi namun didapat dengan cara curang dan tidak terhormat. Kalaupun orang lain atau anak buah bersikap diam dan menerima atas kesuksesan dan jabatan nya, itu hanya di permukaan. Seperti memuji, tapi sebenarnya hatinya sinis. Di depan seolah hormat, tapi di belakang saling bergunjing. Orang-orang seperti itu sebenarnya tidak cocok disebut pemimpin. Sebutan yang pas adalah penguasa. Mereka bisa berkuasa karena mengandalkan uangnya, karena melakukan intimidasi, fitnah, tipu daya, adu domba, dan sejenisnya. Victory with Virtue akan mengundang penerimaan dan respek dari lingkungannya. Jabatan bukan tujuan akhir yang dikejar, melainkan sebagai medium pengabdian untuk bisa membantu meringankan beban masyarakat. Dia tidak hanya berpikir untuk kemajuan dan kesuksesan dirinya, tapi juga ingin maju bersama anak buahnya. Bahkan, kepentingan anak buah dan rakyat yang diutamakan, baru dirinya sendiri.
Itulah mental pahlawan (pahlawan). Dia memandang kemenangan moral lebih utama ketimbang kesuksesan material.
Seorang pemimpin yang berintegritas dan dijiwai nilai-nilai kebajikan (virtues) akan tumbuh menjadi pribadi yang senantiasa melimpah. Orang orang di sekelilingnya akan merasakan vibrasi positif dan merasa nyaman.
Pribadi seperti itu sesungguhnya tidaklah asing. Dalam kehidupan rumah tangga yang sehat dan bahagia, peran dan kehadiran seorang ayah dan ibu sangat dirasakan sebagai sumber kedamaian dan kehangatan bagi anak anaknya. Ketika sosok sang ayah keluar rumah untuk bekerja, cinta kasih dan perhatiannya tak pernah terputus dari keluarganya. Begitu pun keluarga yang di rumah hatinya merasa dekat dan selalu menunggu kepulangannya. Demikian lah, seorang fatherly leader hatinya akan selalu hangat dan peduli pada anak buahnya. Ibarat pohon, akarnya akan menghujam di hati anak buahnya.
Adakah victory with virtues dan fatherly leader sebuah konsep utopis?
Apakah konsep itu sebuah imajinasi belaka? Rasanya tidak. Dulu bangsa ini pernah memiliki pemimpin yang hidupnya benar benar diabdikan pada rakyat. Kita mengenal sederet pahlawan (pahlawan) yang senantiasa kuat memegang prinsip moral sekalipun mesti mengorbankan kemewahan hidupnya secara material. Di dunia kepolisian pernah hidup sosok Jenderal Hoegeng Imam Santoso yang menjadi teladan karena integritas, kejujuran, dan kesederhanaannya. Hoegeng menolak segala bentuk gratifikasi dan suap, mulai dari mobil, rumah, kulkas, piano, hingga kursi sofa yang didrop di rumah dinasnya. Semua itu dia keluarkan lalu diletakkan di pinggir jalan.
Saat ini pemikiran di atas dinilai moralis dan utopis karena hidup kita tengah disuguhi dan dipertontonkan lomba kekayaan materi dan pamer pangkat dengan segala fasilitasnya yang diraihnya tanpa nilai-nilai moral yang luhur (virtues).
Setelah manusia lahir dan berkembang, baik fisik, akal maupun emosi nya, maka persaingan dan perlombaan terus berlangsung dalam berbagai bidang kehidupan. Di sekolah, para siswa dikenalkan dengan berbagai ragam perlombaan untuk memperebutkan juara. Ketika tamat sekolah atau kuliah lalu melamar pekerjaan, persaingan pun terjadi, bahkan ketat. Tidak jarang, untuk memenangkan persaingan, ada di antara mereka yang melakukan tindakan licik dan curang dengan cara menyuap orang dalam.