Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Ryan Kiryanto

Menimbang Prospek Perekonomian Global 2026

Ekonom Senior & Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia

Oleh Ryan Kiryanto

MESKIPUN pada awalnya 2026 terlihat sebagai tahun yang lebih stabil, tapi risiko geopolitik tetap menjadi tantangan serius. Kesepakatan aturan baru dalam perdagangan dan investasi menciptakan lapangan bermain yang kompleks, dengan Amerika Serikat (AS) berlaku sebagai pemain dominan dan Tiongkok berjuang merengkuh supremasi teknologi.

Konflik perdagangan, kebijakan populis, dan ketergantungan pada bahan baku utama dapat memicu volatilitas pasar baru. Pertumbuhan ekonomi global akan tetap moderat, dengan inflasi relatif rendah seiring penurunan harga energi. Ekonomi kawasan Eropa (zona Euro) akan melambat sesaat, tapi bakal pulih nanti pada 2026. Sementara itu, AS bakal menghadapi tekanan stagflasi dari kebijakan tarif yang kontroversial.

Bank sentral Eropa (ECB) diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan berkisar 2%. Sebaliknya, The Fed akan memangkas suku bunga acuan lebih lanjut menuju 3% pada akhir 2026, sementara imbal hasil jangka panjang tetap tinggi karena premi risiko yang terus meningkat.

 

Hegemoni AS

Siapa pun boleh berharap 2026 akan menjadi tahun yang stabil setelah volatilitas yang tinggi di 2025. Tapi, boleh jadi ekspektasi tadi akan menjadi kekecewaan belaka mengingat risiko-risiko masih membayangi. Risiko geopolitik masih tersisa. Risiko perubahan lanskap perdagangan dan investasi global, pascakenaikan tarif oleh AS, juga mengiringi.

Tatanan global berbasis aturan lama, yang telah beberapa dekade menjadi rujukan, telah bergeser. Di 2026 kemungkinan ditentukan oleh munculnya aturan baru. Yang pasti, AS akan terus memanfaatkan kedigdayaan ekonomi, politik, dan militernya untuk membangun kembali hegemoni globalnya.

Untuk memahami keragaman risiko global, para pengambil kebijakan, pemodal, dan pebisnis global dipaksa harus mendeteksi ”perlakuan baru” oleh AS terhadap Tiongkok, Uni Eropa, dan negara-negara lain. Kesiapsiagaan para pemimpin yang berhadapan dengan sikap AS yang konfrontatif ini akan menentukan ketahanan dari setiap negara atau kawasan.

Pada 2025, AS terlihat mulai memupuk kekuatannya kembali di bidang ekonomi, bisnis, dan perdagangan untuk memberi prioritas utama bagi ekonominya. Kebijakan kenaikan tarif bea masuk barang-barang impor ke AS menjadi salah satu ”game changer” utamanya, meskipun kebijakan ini sedang dalam proses peninjauan kembali oleh otoritas hukum di sana.

Pendekatan militer pun dikerahkan AS, baik untuk urusan Ukraina, Timur Tengah maupun Amerika Latin. Strategi besar ini dimaksudkan untuk memastikan AS mampu mempertahankan posisinya sebagai kekuatan dominan seraya menggerus pengaruh Tiongkok.

Bahkan, untuk mencapai itu, Federal Reserve pun dihadapkan pada tekanan politik untuk menjaga ekonomi tetap berjalan di tengah ketidakpastian yang meningkat.

Hasilnya mujarab, dalam hal ini negara-negara di Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab (UEA) telah berjanji untuk berinvestasi ratusan miliar dolar AS di industri AS selama beberapa tahun mendatang, mulai dari galangan kapal hingga pabrik semikonduktor.

Dalam perkembangan ini, Eropa tak secara otomatis mendapat manfaat. Euro yang lebih kuat cukup membantu pengendalian inflasi, tapi itu menambah hambatan bagi eksportir barang modal dan sektor industri yang belum kembali kuat. Untuk itu, ECB telah menyusun kerangka panduan untuk membuat Eropa tidak terlalu bergantung pada kekuatan eksternal sehingga mendapatkan lebih banyak kendali atas ketahanan ekonominya sendiri.

Namun, strategi itu membutuhkan investasi besar, sekitar 5% dari produk domestik bruto (PDB) per tahun atau setara dengan 750 miliar euro. Dana ini dialokasikan untuk sektor pertahanan, infrastruktur, inovasi, dan transisi hijau. Singkatnya, Eropa harus terus bertindak lebih proaktif (preemptive action), lantaran AS terus bergerak cepat dan proaktif.

Di Asia, salah satu kekuatan ekonominya adalah Tiongkok, yang mampu mengelola teknis permainan yang sepadan dengan AS, meski dengan kartu berbeda. Presiden Xi Jinping percaya, otokrasi memiliki kemampuan lebih besar menahan tekanan daripada demokrasi dan karenanya dapat menahan perlambatan ekonomi.

Tiongkok telah menggandakan swasembada teknologi dan dominasi dalam rantai produksi penting, sebut saja tanah jarang, baterai, kecerdasan buatan (AI), robotika, dan teknologi bersih. Bagi negara-negara lain yang membutuhkan sumber daya ini, memilih Tiongkok adalah pilihan tepat. Hasilnya adalah surplus struktural yang menyebar di seluruh pasar global sehingga menciptakan hubungan ketergantungan yang secara geopolitik terus dioptimalkan oleh Tiongkok.

 

Pertumbuhan Moderat

Dengan perekonomian AS yang sedang mencari pijakan kuat dan perekonomian Tiongkok yang terus merangkak naik, meskipun lamban, maka bayangan pertumbuhan ekonomi global di 2026 bisa dibilang cukup moderat berkisar 2,6%-3,0%. Inflasi relatif rendah di negara-negara maju (berkisar 2,0%-2,5%), penurunan harga energi (terutama minyak dan batu bara), nilai tukar, dan imbal hasil obligasi yang stabil serta The Fed dan ECB memberikan harapan kestabilan suku bunga acuan.

Tarif impor oleh pemerintahan Trump, dibaurkan dengan kebijakan migrasi dan deportasi ketat, menyebabkan guncangan stagflasi dalam perekonomian AS. Pasar tenaga kerja goyah, angka pengangguran naik dari 4,0% (Januari 2025) menjadi 4,4% (September 2025).

Inflasi tetap di atas target The Fed yang 2,0%. Laju inflasi tajam dapat dihindari karena diimbangi oleh biaya perumahan lebih rendah. Inflasi inti bergerak sideways sekitar 3,0% di tengah beban kenaikan harga yang dipikul eksportir dan konsumen.

Ekonomi AS sendiri diperkirakan memasuki penurunan siklus di 2026. Di saat bank-bank sentral kelompok-10 (G-10) telah menyelesaikan siklus pemangkasan suku bunga acuan, The Fed kemungkinan terus melonggarkan kebijakan moneternya hingga 2026. Kendati beberapa pemangkasan sudah diperhitungkan, tekanan politik pada Fed di 2026 dapat merusak kepercayaan terhadap dolar AS.

Paralel dengan kondisi itu, ketegangan AS dengan Tiongkok tetap berisiko. Eskalasi baru perang dagang akan mendorong inflasi dan menjadi beban pertumbuhan. Pada saat yang sama, Trump mungkin akan mengembalikan beberapa tarif menjelang pemilihan paruh waktu pada November 2026.

Secara garis besar, estimasi ekonomi global 2026 yang tumbuh moderat menunjukkan kemampuan beradaptasi yang lebih besar terhadap disrupsi rantai pasok. Namun, data ekonomi terkini di beberapa negara, misalnya Prancis, Italia, Rusia, dan Inggris, menunjukkan perlambatan dalam jangka pendek sebelum ekonomi global kembali ke jalur pertumbuhan yang lebih tinggi di 2027 berkisar 3,0%-3,2%.

Perekonomian zona Euro berkinerja lebih baik di 2025, didukung konsumsi tangguh yang didorong oleh pertumbuhan upah riil dan pasar tenaga kerja yang ketat. Arus perdagangan yang menguat dan pemulihan investasi juga berkontribusi. Irlandia adalah contoh yang baik lantaran negara ini mendapat manfaat dari ekspor farmasi yang sangat kuat ke AS.

Yang perlu diwaspadai, zona Euro menghadapi tantangan struktural. Biaya energi tetap tinggi dibandingkan dengan AS dan Tiongkok, meskipun saat ini harga migas melandai, sehingga merusak daya saing industri. Sementara, tren demografis–penuaan yang cepat dan pertumbuhan populasi menurun–menimbulkan risiko terhadap penawaran dan permintaan tenaga kerja.

Perjanjian perdagangan dengan AS menawarkan stabilitas jangka pendek, tetapi tetap menjadi sumber ketidakpastian ke depannya. Korporasi korporasi Eropa terus berinvestasi di AS untuk mempertahankan akses pasar, yang dapat mengurangi investasi domestik.

Di tengah tarik-menarik soal tarif bea masuk ke AS, ternyata ruang fiskal juga terbatas. Sembilan negara Uni Eropa berada di bawah prosedur ketat untuk menekan defisit yang berlebihan sehingga akan membebani pertumbuhan. Jerman adalah pengecualian, dengan paket stimulus substansial untuk menopang pertumbuhan di tahun-tahun mendatang.

Lebih luas lagi, ruang fiskal terus menyusut. Perang di Ukraina menambah beban keuangan yang makin besar pada Eropa. Maka, negara-negara di Eropa harus mencari solusi untuk mampu berdiri di atas kakinya sendiri di masa depan. Salah satunya dari sektor pembiayaan untuk bisnis yang telah membaik selama setahun terakhir lantaran pinjaman menjadi lebih murah, dan premi risiko obligasi korporasi sekarang mendekati level AS.

Kinerja yang kuat dari saham keuangan Eropa dibandingkan dengan yang ada di AS, terlepas dari ledakan teknologi yang didorong oleh AI di sana, menunjukkan bahwa investor tidak lagi memandang Eropa sebagai “area bermasalah”, melainkan sebagai diversifikasi yang berguna dalam portofolio produktif mereka.

Harga gas dan minyak telah turun tajam, mendukung daya beli–melalui inflasi yang lebih rendah–dan aktivitas industri. Harga gas Eropa berada pada level terendah sejak April 2024. Pengeluaran sektor pertahanan akan menjadi pendorong pertumbuhan yang lebih penting pada 2026-2027, menyusul target kenaikan North Atlantic Treaty Organization (NATO) atau Pakta Pertahanan Atlantik Utara menjadi “3,5% + 1,5%,” yang akan dicapai pada 2032-2035.

Di daratan Tiongkok, pemerintah telah menjanjikan langkah-langkah stimulus tambahan untuk menguatkan konsumsi domestik. Tapi, krisis real estat yang berkepanjangan membebani kepercayaan konsumen, sementara keuntungan industri yang rendah menyebabkan hilangnya pekerjaan, ketidakpastian ekonomi, dan pengeluaran yang lebih lemah.

Memang stimulus moneter dan fiskal ekstra tampaknya tak terelakkan, tapi tetap tidak akan menyelesaikan semua masalah struktural. Risikonya tetap bahwa pertumbuhan pada 2026 akan didorong terutama oleh belanja pemerintah (melalui optimalisasi serapan anggaran dan bauran stimulus fiskal dan moneter), sementara permintaan swasta tertinggal. Bagi korporasi di Eropa, ekspor ke Tiongkok akan tetap sangat menantang di 2026.

Pembelajaran penting bagi para pengambil kebijakan di Indonesia adalah perlunya secara terus-menerus melakukan asesmen terhadap dinamika lingkungan eksternal untuk direspons dengan pengambilan kebijakan yang tepat, terukur, dan efektif sehingga keberlanjutan momentum pertumbuhan ekonomi akan terjaga di 2026 dan di tahuntahun berikutnya.

Konflik perdagangan, kebijakan populis, dan ketergantungan pada bahan baku utama dapat memicu volatilitas pasar baru. Pertumbuhan ekonomi global akan tetap moderat, dengan inflasi relatif rendah seiring penurunan harga energi. Ekonomi kawasan Eropa (zona Euro) akan melambat sesaat, tapi bakal pulih nanti pada 2026. Sementara itu, AS bakal menghadapi tekanan stagflasi dari kebijakan tarif yang kontroversial.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Januari 2026

Rp 65.000

BELI