TERGABUNG sebagai anggota BUMN Holding Ultra Mikro (UMi), PNM punya peran strategis menggerakkan ekonomi lapisan bawah. Puluhan juta perempuan prasejahtera pelaku usaha mikro mendapatkan pembiayaan dan pendampingan dari PNM. Jutaan berhasil naik kelas menjadi bankable. PNM juga menjalankan peran dalam mendorong inklusi keuangan. Seperti apa kiprah dan kinerja PNM mendampingi masyarakat prasejahtera, termasuk nasabah terdampak bencana? Berikut penjelasan Arief Mulyadi, Direktur Utama PNM, kepada Infobank. Petikannya:
Meski 2025 terbilang cukup menantang bagi segmen ultra mikro, PNM mampu menjaga kinerja tetap positif. Bagaimana hasil akhirnya?
So far RKAP tercapailah. Di 2025, kami tetap ekspansi, tetap 'kan harus menjaga revenue. Tapi, new customer tidak akan seagresif tahun-tahun sebelumnya. Growth kami tidak terlalu tinggi, karena banyak bencana juga di tahun ini. Sumatra itu ‘kan hanya salah satu, sebelumnya ada bencana lain di sejumlah wilayah.
Laba juga masih sesuai RKAP, sesuai aspirasi pemegang saham dan induk. Masih akan ada pertumbuhan walaupun mungkin nggak seprogresif tahun-tahun lalu. Kami juga menurunkan suku bunga ke nasabah. Ini bagian dari edukasi nasabah juga, kalau mereka disiplin, usahanya bagus, tambah platform berarti ‘kan usahanya berkem bang. Kami kasih insentif penurunan bunga, walaupun kadang mereka tidak menyadari nya. Selain itu, kami menambah penca dangan juga untuk jaga-jaga dampak bencana.
Bagaimana dengan business plan 2026?
Ini ‘kan jadi journey, 2025 onboarding pertemuan kelompok mingguan (PKM). Kita tidak bisa berada dalam posisi yang sama, harus terus improve dan menyesuaikan dengan perubahan di eksternal. Contoh, sebelum COVID-19, 100% nasabah kami hanya usaha, sekarang berkembang. Pasca-COVID-19, banyak yang kembali bekerja di sektor informal, karena mungkin mereka mindset-nya ingin mendapatkan penghasilan pasti. Waktu mereka jadi terbagi. Maka, kami harus menawarkan tambahan-tambahan kegiatan yang membuat mereka tetap tertarik hadir di PKM.
Lalu, menyesuaikan waktu pertemuan, supaya yang tadi sambil kerja tetap bisa hadir. Jadi, journey-nya masih jalan, termasuk bagaimana kami meningkatkan kapasitas AO dan mem-feeding apa yang harus mereka lakukan dengan data, informasi, serta digitalisasi. Saya kira 2026 masih belum terlalu ekspansif. Mungkin 2027-2028 baru mulai meningkat pesat.
Pertumbuhan pembiayaan berbanding lurus dengan kebutuhan funding. Apa strategi PNM untuk mendapatkan pendanaan dengan biaya kompetitif?
Kita mengandalkan pendanaan dari SCBD (pasar modal) lewat penerbitan bond/obligasi dan perbankan. So far, dengan rating AAA, kita bisa mendapatkan funding dengan rate yang kompetitif. Kemarin orange bond kita issued Rp2 triliun. Kita usahakan dapat dana dengan cost of fund kompetitif. Dari perbankan juga kita kerja sama dengan lebih dari 40 bank sekarang.
Terkait bencana banjir di Sumatra, bagaimana dampaknya bagi nasabah PNM dan seperti apa penanganannya?
Kami sudah melakukan assessment awal di wilayah terdampak langsung. Semua kategori, dari paling ringan sampai paling berat itu total ada 920.000 nasabah di tiga provinsi (Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara).
Karyawan hampir 1.500 orang. Kantor sekitar 435 unit. Itu biasanya kami collect dari 920.000 nasabah. Katakanlah kalau rata-rata Rp50.000 per nasabah, itu sekitar Rp450 miliar per minggu.
Itu terhenti. Kami freeze dulu. Tapi, kami punya pengalaman manage hal itu dalam skala nasional ketika pandemi COVID-19. Ini akan terus kami pantau. Secara internal sudah kami tetapkan freeze satu bulan. Tapi, mereka sudah ada yang sukarela mulai membayar. Relaksasi juga akan mengacu pada POJK. Adapun total Rp3,6 triliun yang terdampak ya. Kirakira 30% dari portofolio kelolaan kami di Sumatra terdampak.
Meski 2025 terbilang cukup menantang bagi segmen ultra mikro, PNM mampu menjaga kinerja tetap positif. Bagaimana hasil akhirnya?