Frekuensi insiden siber di sektor keuangan terus meningkat, seiring dengan makin terdigitalisasinya layanan finansial. Tanpa penanganan yang tepat, risiko kejahatan siber berpotensi meluas dan mengganggu stabilitas sektor keuangan secara keseluruhan.
Istimewa
ALARM darurat sektor keuangan untuk memperketat keamanan siber kembali menyala. Di pengujung 2025, publik dikejutkan oleh serangan siber yang menyasar rekening dana nasabah (RDN) milik sejumlah perusahaan sekuritas. Dana nasabah hilang dalam sekejap. Kepercayaan publik pun cedera.
Ini bukan kali pertama sektor keuangan menjadi sasaran serangan siber berskala besar. Pada titik ini, pelaku industri seharusnya sudah memahami bahwa sektor keuangan merupakan target empuk bagi para penjahat digital. Data Kaspersky, perusahaan keamanan siber asal Rusia, menunjukkan bahwa sepanjang 2024, pelaku bisnis di Indonesia, termasuk perbankan, menjadi salah satu sasaran utama serangan siber di kawasan Asia Tenggara.
Jumlah serangannya pun tidak main-main. Sepanjang tahun itu tercatat sekitar 16 juta serangan siber terjadi di Indonesia, tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Vietnam. Percobaan ransomware mencapai 57.554 serangan, tertinggi di kawasan, sementara serangan malware yang diarahkan ke sektor perbankan menembus 649.000 kasus.
“Dan, di saat yang sama, lanskap regulasi yang beragam di kawasan Asia Tenggara dan tingkat kematangan keamanan siber yang beragam di antara berbagai bisnis menjadikannya target yang menarik bagi serangan bermotif finansial,” ujar Defi Nofitra, Country Manager Kaspersky Indonesia, kepada Infobank.
Ke depan, risiko serangan siber diperkirakan kian meningkat, seiring dengan adopsi teknologi baru seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Celah-celah kecil yang luput dari pengawasan dapat dimanfaatkan peretas untuk membobol sistem, dengan skala dan kecepatan yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya.
Situasi ini membuat tantangan industri keuangan makin kompleks. Jika tidak ditangani secara serius, bukan tidak mungkin frekuensi serangan yang berhasil akan meningkat. Dampaknya pun tidak hanya dirasakan oleh nasabah institusi, tapi juga berpotensi menjalar ke sektor perekonomian yang lebih luas.
|
Apakah bank di Indonesia mulai serius mengintegrasikan AI untuk deteksi dini serangan siber? Apa potensi dan keterbatasannya saat ini? Integrasi AI dalam industri perbankan dapat meningkatkan efisiensi operasional, memberikan layanan pelanggan yang lebih personal, meningkatkan keamanan data, melacak celah dalam sistem mereka, dan meminimalisasi potensi risiko siber lainnya. Tapi, teknologi AI juga memiliki beberapa tantangan, seperti keamanan privasi data, akses data pelanggan, hingga biaya pengadaan dan pengembangan. Untuk itu, saat menerapkan AI dalam aktivitas perbankan, penting juga untuk memantau potensi dan risikonya guna memastikan teknologi ini mampu mendukung operasional sehari-hari di industri perbankan. Ke depan, seperti apa lanskap ancaman siber terhadap sektor perbankan Indonesia? Bagaimana bank sebaiknya menyusun prioritas strategi pertahanan? Para ahli kami memprediksi bahwa tahun ini akan terjadi kemajuan lebih lanjut dalam teknik serangan, terhadap bank sentral dan open banking. Ini akan melibatkan serangan terhadap sistem pembayaran instan yang dijalankan oleh bank sentral, yang memungkinkan penjahat siber untuk mengakses data sensitif. Karena itu, kita akan melihat AI makin banyak diadopsi dalam pertahanan siber untuk memperkuat kebijakan melawan ancaman yang muncul. MAS |
Dalam konteks ini, keamanan siber sudah semestinya ditempatkan sebagai prioritas utama pelaku industri keuangan, berjalan beriringan dengan fungsi intermediasi. Seperti disampaikan Bambang Irawan, Direktur Teknologi Informasi Bank Maybank Indonesia, yang mengaku telah mengantisipasi risiko siber sejak percepatan digitalisasi perbankan pada masa pandemi COVID-19.
“Kami telah memulai proses transformasi TI sejak empat tahun yang lalu. Prosesnya antara Iain melalui peremajaan infrastruktur TI, penguatan pertahanan siber, perbaikan berbagai proses internal TI, hingga menambah jumlah dan meningkatkan kualitas SDM TI untuk memperkuat ketahanan siber,” jelas Bambang kepada Infobank.
Tapi, penguatan sistem internal saja tidak cukup. Peran pemangku kepentingan eksternal, khususnya nasabah, juga menjadi krusial. Berbagai modus serangan, seperti fraud, phishing, dan social engineering, kerap menjadikan konsumen sebagai pintu masuk untuk menembus sistem TI perusahaan keuangan.
Kesadaran kolektif atas risiko ini menjadi kunci untuk mencegah dan meminimalisasi insiden di ruang digital. Tanpa kesiapan menyeluruh, satu celah kecil saja dapat memicu dampak sistemis yang luas.
Peringatan serupa pernah disampaikan Financial Stability Board (FSB) pada 2020. Lembaga internasional pemantau stabilitas sistem keuangan global itu menegaskan bahwa insiden siber berskala besar, jika tak ditangani dengan baik, dapat mengganggu infrastruktur keuangan penting dan berdampak serius terhadap stabilitas keuangan. Jangan sampai peringatan itu menjadi kenyataan di Indonesia.
Ini bukan kali pertama sektor keuangan menjadi sasaran serangan siber berskala besar. Pada titik ini, pelaku industri seharusnya sudah memahami bahwa sektor keuangan merupakan target empuk bagi para penjahat digital. Data Kaspersky, perusahaan keamanan siber asal Rusia, menunjukkan bahwa sepanjang 2024, pelaku bisnis di Indonesia, termasuk perbankan, menjadi salah satu sasaran utama serangan siber di kawasan Asia Tenggara.