Penulis adalah budayawan
KATA-KATA dapat melenyap, terbang karena tak ditulis, tetapi buku atau tulisan itu “kekal”. Semboyan ini tak hanya berlaku bagi budaya yang memperjuangkan tulisan atau buku, seperti Penerbit Kompas, Media Indonesia, Kanisius, dan para pejuang tulisan yang masih terus berjuang untuk “terbuka” pada era digital, terutama di media sosial (medsos). Semboyan ini juga berlaku di era artificial intelligence (AI), dengan kecanggihannya.
Namun, bagaimanapun , tetaplah subjek manusia yang memegang kendali, secanggih apapun AI. Karangan atau tulisan seseorang dengan bantuan AI akan mudah dikenali.
Terkait dengan itu, kita punya kewajiban untuk terus berkomunikasi dengan generasi Z dan generasi generasi sesudahnya. Mengingat, kita punya generasi dongeng dan lisan atau tutur, generasi tulis atau buku, dan kini generasi digital sampai AI.
Berkomunikasi. Inilah satu satunya cara untuk memaknai ungkapan bahasa yang mengekspresikan identitas kita. Dalam salah satu seminar, ada yang bertanya kritis, “Apa yang akan kita wariskan ke anak cucu kita di situasi krisis ini?” Jawaban yang muncul mencengangkan: “NARASI”. Bukankah lewat bahasa, orang tua menarasikan literasi ke anak-anak? IBU, aksara/kata ini mengungkapkan bahwa tidak ada seorang pun yang lahir ke dunia ini tanpa rahim ibu.
Kisah atau narasi itu adalah ungkap kisah, semisal narasi yang mau mengatakan bahwa di Jalan Pegangsaan Timur 56, di lapangan proklamasi, ada tanda halilintar, mau dinarasikan bahwa di sinilah, pada 17 Agustus 1945, pukul 10.00 WIB, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia. Dan, harus dicatat dalam konstitusi, diucapkan, bahwa “Atas Rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan ini dinyatakan kemerdekaan Indonesia”. Dahsyat. Kemerdekaan kita sebagai bangsa itu adalah berkat rahmat Tuhan, atas anugerah-Nya. Maka, dibelalah kemerdekaan kita oleh para pahlawan hebat. Ada yang tertulis. Ada yang tanpa kata, dengan diam. Kepada merekalah kita bersyukur dan bersyukur. Verba volant, scripta manent.
Maka, menarik ketika dalam bimbingan skripsi mahasiswa, misalnya, banyak ide bagus dikemukakan, tapi masih dalam konsep di akal budi. Biasanya dosen pembimbing akan menyuruh mahasiswa bimbingannya untuk menuangkan idenya dalam bentuk tulisan. TULIS, TULIS, dan TULIS. Mahasiswa dituntut belajar dengan logika waras budi , mengurutkannya, dan mengalimatkannya. Tentu dengan kalimat yang baik dan terstruktur.
Saya teringat, jauh sebelum COVID19, di sekolah tinggi kami dikreasi mata kuliah baru tambahan, yaitu Bahasa Indonesia, yang isi substansialnya adalah karang mengarang yang logis, nalar, dan teratur. Menarik untuk dicatat bahwa hingga 2025, mata kuliah itu masih ada. Meng ingat skripsi tertulis yang baik dan logis mensyaratkan ini. Ada dua pembeda atau ciri yang disepakati antara budaya digital dan budaya tulis. Budaya digital cenderung instan, segera atau langsung pada hasil, sementara budaya tulis menekankan pada proses. Tak bisa dengan tergesa gesa. Bahwa hidup adalah sebuah proses. Sembilan bulan kita berada di dalam kandungan, lalu beranjak ke masa anak-anak, remaja, dewasa, dan menua.
Bila itu dinarasikan ke generasi kini, yang instan, yang mau hasil cepat dan kilat, tanggapannya bisa lain. Boleh jadi ada tanggapan, EGP (emang gue peduli?). Di sinilah proses komunikasi kesadaran menjadi penting. Adakah terjadi gap, jurang komunikasi? Kita sudah diwarisi narasi oleh pendidik ulung kita, Ki Hadjar Dewantara. Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Di depan (pemimpin) mencontohi, memberi teladan tekad; di tengah membangun kehendak (kuat); di belakang meneguhkan, menguatkan. Masukkah hal itu dalam pendidikan kita?
Seumumnya kita banyak yang seperti “gajah diblangkoni, bisa kojah ora bisa nglakoni”. Beda tindak dengan kata. Ada jurang antara pidato dan tindak laku. Kita krisis teladan dan disadarkan bahwa “ngelmu iku jalaran saka laku”. Ilmu (kehidupan) itu berdasarkan laku.
Terpulang pada kita antara kata dan tindak. Semua adalah laku, dan laku adalah proses kehidupan.
Bukankah Bung Hatta semasa hidupnya, dalam hal ini berkantor, mobil kedatangannya “jadi patokan waktu” untuk orang sekitarnya?
Bukankah ketepatan jam/waktu menjadi ciri khasnya, sampai-sampai saat HUT, Bung Hatta banyak menerima jam sebagai simbol ketepatannya pada waktu?
Pramoedya Ananta Toer, penulis tetralogi novel dan buku-buku lain, pernah bernarasi, tulislah dan tulislah agar tinggal tetap, sementara ide gagasan yang tak ditulis akan lenyap.
Namun, bagaimanapun , tetaplah subjek manusia yang memegang kendali, secanggih apapun AI. Karangan atau tulisan seseorang dengan bantuan AI akan mudah dikenali.