Ada 59 bank umum sedang di persimpangan jalan. Modalnya nganggur tapi mereka diimbau OJK agar meningkatkan modal hingga minimal Rp6 triliun. Apakah imbauan OJK menjadi sinyal untuk mencegah terjadinya bank gagal mengingat kondisi ekonomi politik yang terus tidak pasti? Apakah merosotnya nilai tukar rupiah ke Rp17.000 per US$ 1 menjadi salah satu tanda akan terjadinya krisis sampai pemerintah harus melakukan “tukar guling” jabatan antara Wakil Menteri Keuangan dan Deputi Gubernur BI? Bagaimana agresi bank-bank asing ketika market demand sebagai driver ekonomi belum terdongkrak karena peran negara yang makin dominan dalam perekonomian?
DEWAN Perwakilan Rakyat (DPR) resmi memilih Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur (DG) Bank Indonesia (BI) pada Rapat Paripurna 27 Januari 2026. Sebelumnya, Thomas menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan, yang namanya diajukan oleh Presiden sebagai kandidat DG BI setelah Juda Agung yang menjabat sebagai DG BI pada 6 Januari 2022 mengundurkan diri pada 13 Januari 2026.
Terpilihnya Thomas sesuai prediksi banyak kalangan. Dia mengalahkan dua kandidat lain yang berasal dari internal BI, yaitu Dicky Kartikoyono (Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI) dan Solikin M. Juhro (Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI). Sedangkan Juda Agung disebutsebut sebagai calon kuat Wakil Menteri Keuangan untuk menggantikan posisi Thomas.